Berita

Berita

Unpad PSDKU Jalin Kerja Sama dengan East China National University Kaji Ilmu Perikanan dan Kelautan

Kolaborasi menjadi kunci penting dalam mencapai tujuan. Melalui kolaborasi, terdapat kegiatan tukar pengetahuan dan pengalaman yang dapat menunjang usaha tersebut. Hal ini selaras dengan yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran atau yang juga disebut sebagai “PSDKU” (Program Studi di Luar Kampus Utama) yang menjalin kerja sama dengan East China Normal University State Key Laboratory of Estuarine and Coastal Research (SKLEC). Kerjasama yang dilakukan kedua institusi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan akses teknologi penelitian dalam bidang perikanan dan kelautan. Direktur Unpad PSDKU Pangandaran, Alexander M.A. Khan menjelaskan bahwa kolaborasi yang terjalin bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian terkait ilmu perikanan dan kelautan. Hal ini turut sejalan dengan visi untuk mempromosikan budaya dari masing-masing negara.  “Kerja sama yang dilakukan akan berupa penelitian dan publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan staf, serta kegiatan akademik lainnya yang dilakukan secara kolektif dalam jangka waktu yang disepakati”, ujar Alex.  Selain bekerja sama dengan SKLEC, Unpad PSDKU juga sebelumnya telah bergabung dengan Ocean Color-based plant species identification and Carbon flux in Indo-Pacific oceans (OC-PC) Study Group yang merupakan bagian dari Integrated Marine Biosphere Research (IMBeR). Projek internasional ini diikuti oleh 13 peneliti dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura.  Alex turut menjelaskan bahwa sebagai langkah awal, kerja sama akan berfokus pada pembelajaran terkait perikanan laut tropis dan ilmu kelautan, khususnya di daerah Pangandaran dan mencakup Indonesia secara lebih luas. Adapun kegiatan ini membutuhkan kontribusi para profesor, khususnya di Unpad PSDKU program studi Perikanan Laut Tropis.  Dirinya menuturkan bahwa kerja sama yang dilakukan tidak hanya berdampak bagi Universitas Padjadjaran, melainkan juga turut meningkatkan performa pembelajaran, perkembangan data, pengetahuan yang mendalam terkait ilmu perikanan dan kelautan. “Data-data dan informasi terbaru akan dipelajari bersama, sehingga dapat membawa perspektif baru terkait ilmu perikanan dan kelautan, serta teknologi di Indonesia”, ungkapnya. Sebelumnya pada tahun 2023, Alex bersama Kepala Program Studi Perikanan Laut Tropis Unpad Pangandaran, Lantun Paradhita Dewanti sempat menghadiri konferensi IMBeR yang diselenggarakan pada Bulan November. Adapun hasil dari konferensi tersebut, yaitu kerja sama yang kini terjalin antara Unpad PSDKU dengan East China Normal University SKLEC, khususnya terkait bidang ilmu perikanan laut dan kelautan di wilayah Pangandaran.  Selain berkontribusi dalam aktivitas keilmuan, Alex berharap bahwa kolaborasi yang terjalin mampu meningkatkan reputasi Unpad pada skala global, sekaligus meraih pengalaman dan perspektif internasional.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Menjawab Tantangan Global, Unpad Adakan Program StudiIlmu Lingkungan

Upaya mencapai kehidupan yang berkelanjutan idealnya tercapai dengan mengoptimalkan aspek sosial dan alam. Dalam kaitannya dengan hal ini, berbagai cara perguruan tinggi lakukan dalam mencetak peserta didik yang terampil dan berwawasan agar mampu menciptakan dan meningkatkan kualitas hidup saat ini. Salah satunya, yaitu dengan menyelenggarakan program studi magister dan doktoral Ilmu Lingkungan.  Universitas Padjadjaran merupakan salah satu kampus yang menyediakan program tersebut. Dilansir dari laman resmi Pasca Unpad, program studi Ilmu Lingkungan Unpad awalnya berdiri melalui Lembaga Ekologi (saat ini berubah nama menjadi Center for Environment and Sustainability Science) yang berfokus pada bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA-LH) pada tahun 1972. Selanjutnya, pada tahun 2012 dikembangkan program studi doktoral Ilmu Lingkungan.  Terkait hal ini terdapat beberapa mata kuliah yang ditawarkan berkaitan dengan isu lingkungan, seperti Ilmu Lingkungan, Ekologi Manusia, Hukum Lingkungan, Perencanaan Lingkungan dan Tata Ruang, Inovasi Teknologi Lingkungan, dan lain-lain.  (Mata kuliah yang ditawarkan pada program studi Magister Ilmu Lingkungan, sumber: pasca unpad) Dalam prosesnya, penyusunan kurikulum dilakukan bersama universitas lain di mancanegara, yaitu University of Twente (Belanda). Selain itu, kurikulum turut mendapatkan masukan dari berbagai kementerian. Hal ini bertujuan untuk menjawab tantangan global terkait persoalan iklim, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) dalam lingkup nasional maupun global.  Terkait hal ini, kualitas program studi Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran tidak perlu diragukan. Hal tersebut karena program studi ini telah menuai akreditasi internasional per 2023 dari The Agency for Quality Assurance through the Accreditation of Study Programmes (AQAS). Lembaga akreditasi ini berbasis di Jerman.  Dekan Sekolah Pascasarjana Unpad, Prof. Dr. Med. Setiawan, dr. menyampaikan bahwa AQAS dipilih karena kualitasnya yang telah teruji.  “Kami memilih AQAS karena terbaik di Jerman, Eropa, maupun global. Harapannya mendorong budaya mutu, karena akreditasi internasional bukan tujuan, melainkan reward atas upaya pelaksanaan penjaminan mutu internal yang baik,” ungkap Prof. Setiawan.  Selain itu, program studi Ilmu Lingkungan Unpad juga telah mengantongi akreditasi nasional dari BAN-PT yang berlaku sejak tahun 2023-2028. Melalui pengadaan program studi yang mendukung tercapainya kehidupan yang berkelanjutan, Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas, serta Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran selalu berupaya dalam meningkatkan kualitas kehidupan melalui pendidikan.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Menjawab Tantangan Global, Unpad Adakan Program StudiIlmu Lingkungan

Upaya mencapai kehidupan yang berkelanjutan idealnya tercapai dengan mengoptimalkan aspek sosial dan alam. Dalam kaitannya dengan hal ini, berbagai cara perguruan tinggi lakukan dalam mencetak peserta didik yang terampil dan berwawasan agar mampu menciptakan dan meningkatkan kualitas hidup saat ini. Salah satunya, yaitu dengan menyelenggarakan program studi magister dan doktoral Ilmu Lingkungan.  Universitas Padjadjaran merupakan salah satu kampus yang menyediakan program tersebut. Dilansir dari laman resmi Pasca Unpad, program studi Ilmu Lingkungan Unpad awalnya berdiri melalui Lembaga Ekologi (saat ini berubah nama menjadi Center for Environment and Sustainability Science) yang berfokus pada bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA-LH) pada tahun 1972. Selanjutnya, pada tahun 2012 dikembangkan program studi doktoral Ilmu Lingkungan.  Terkait hal ini terdapat beberapa mata kuliah yang ditawarkan berkaitan dengan isu lingkungan, seperti Ilmu Lingkungan, Ekologi Manusia, Hukum Lingkungan, Perencanaan Lingkungan dan Tata Ruang, Inovasi Teknologi Lingkungan, dan lain-lain.  (Mata kuliah yang ditawarkan pada program studi Magister Ilmu Lingkungan, sumber: pasca unpad) Dalam prosesnya, penyusunan kurikulum dilakukan bersama universitas lain di mancanegara, yaitu University of Twente (Belanda). Selain itu, kurikulum turut mendapatkan masukan dari berbagai kementerian. Hal ini bertujuan untuk menjawab tantangan global terkait persoalan iklim, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) dalam lingkup nasional maupun global.  Terkait hal ini, kualitas program studi Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran tidak perlu diragukan. Hal tersebut karena program studi ini telah menuai akreditasi internasional per 2023 dari The Agency for Quality Assurance through the Accreditation of Study Programmes (AQAS). Lembaga akreditasi ini berbasis di Jerman.  Dekan Sekolah Pascasarjana Unpad, Prof. Dr. Med. Setiawan, dr. menyampaikan bahwa AQAS dipilih karena kualitasnya yang telah teruji.  “Kami memilih AQAS karena terbaik di Jerman, Eropa, maupun global. Harapannya mendorong budaya mutu, karena akreditasi internasional bukan tujuan, melainkan reward atas upaya pelaksanaan penjaminan mutu internal yang baik,” ungkap Prof. Setiawan.  Selain itu, program studi Ilmu Lingkungan Unpad juga telah mengantongi akreditasi nasional dari BAN-PT yang berlaku sejak tahun 2023-2028. Melalui pengadaan program studi yang mendukung tercapainya kehidupan yang berkelanjutan, Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas, serta Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran selalu berupaya dalam meningkatkan kualitas kehidupan melalui pendidikan.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

AGT Livery: Startup Mahasiswa FIB untuk Indonesia

Jatinangor, Jawa Barat – FIB Unpad sangat menaruh atensi terhadap pertumbuhan dan perkembangan sivitasnya, demi mewujudkan kampus yang berkelanjutan. Hal ini mempengaruhi kualitas dari mahasiswa FIB Unpad, di mana tidak sedikit dari mahasiswa FIB Unpad memiliki prestasi non-akademik, salah satunya prestasi di bidang kewirausahaan.  Iqbal Agustiana (atau kerap disapa Iqbal) merupakan salah satu mahasiswa prodi Sastra Indonesia angkatan 2021 yang konsisten dalam menjalankan startup AGT Livery miliknya. AGT Livery lahir dari kecintaan Iqbal pada moda transportasi bus dan hobinya dalam mengedit grafis (livery) di ponsel untuk keperluan game “Bus Simulator”.  Berkat doa, usaha, dan konsistensi, pada tahun 2019, salah satu perusahaan moda transportasi bus di Tegal tertarik untuk mengadakan kerjasama dengan Iqbal perihal mendesign livery bus. Dari situlah, AGT Livery lahir sebagai startup yang menyediakan jasa rancang grafis bus bagi berbagai perusahaan moda transportasi bus di seluruh Indonesia.  Mendirikan dan mempertahankan AGT Livery bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Berbagai permasalahan dialami oleh Iqbal, seperti orderan design yang tidak setiap bulan ada, hardware yang terkendala, ruang penyimpanan yang terbatas, pelanggaran hak cipta, dan pelanggan yang tidak ada kabar setelah mengadakan kerja sama.  Namun, di balik semua permasalahan tersebut, kepercayaan konsumen terhadap penggunaan jasa rancang grafis bus berhasil dipertahankan oleh AGT Livery. “Ada beberapa perusahaan, dan salah satunya adalah perusahaan dari Makassar, Sulawesi Selatan yang selalu pesan desain livery busnya di AGT. Tidak pernah terlewat. Bagiku itu adalah pencapaian, karena bisa mempertahankan client dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, pencapaian lainnya, jasa AGT Livery pernah dipakai oleh perusahaan yang memang aku kagumi, yaitu Bus Pesona, milik salah satu Youtuber Otomotif Mas Wahid,” jelas Iqbal.  Berkat hal tersebut, Iqbal mendapat penghargaan pada FIB Awards 2023 sebagai “Wirausahawan Muda Terbaik”. Ia sangat bangga dan terharu, karena FIB Unpad memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan sivitasnya.  “Tetaplah berproses, sekecil apa pun proses itu. Kamu akan melihat, kecilnya sebuah proses bisa melakukan perubahan yang besar di hidupmu. Kajarlah yang kamu mau, sampai kamu mendapatkan semuanya,” pesan Iqbal. Red: Yohanes William Ivakdalam

Berita

FIB Unpad Gaungkan Visi Zona Integritas

Jatinangor – Menciptakan lingkungan yang bersih dari korupsi merupakan visi yang perlu diwujudkan oleh segala jenis institusi. Hal ini merupakan bentuk kejujuran yang penting untuk dijunjung dalam menciptakan lingkungan yang adil dan berintegritas.  Dalam mengimplementasikan kebijakan anti korupsi yang digaungkan oleh Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Budaya mengupayakan setiap elemen, baik program studi maupun para staf pendukung untuk menolak dengan tegas segala bentuk tindakan yang mengarah pada korupsi dan gratifikasi.  (Postingan anti korupsi pada media sosial FIB Unpad, sumber: Instagram) Kebijakan untuk mendukung terciptanya zona integritas dalam dunia pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. Fakultas Ilmu Budaya selalu mengupayakan terpeliharanya lingkungan akademik yang bebas korupsi dengan dukungan birokrasi yang bersih bagi seluruh civitas akademika.  Red. Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Kampanye Pencegahan Diabetes Mellitus oleh Padjadjaran Nursing Corps

Jatinangor, 16 November – Salah satu organisasi di bawah BEM Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Padjadjaran Nursing Corps berpartisipasi dalam kampanye dunia tentang pencegahan Diabetes Mellitus (DM) dengan mengadakan kegiatan screening risiko DM, edukasi, photo booth dengan clue circle, dan pengumpulan dana untuk penderita DM. Kegiatan ini juga digelar sebagai bagian dari memperingati “World Diabetes Day” setiap tanggal 14 November. Kegiatan positif yang didukung penuh oleh Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas lainnya di Unpad ini diikuti oleh sebanyak 138 pengunjung, mulai dari tanggal 9 hingga 14 November yang lalu di Gerbang Lama Unpad.   Berdasarkan screening berdasarkan usia, indeks masa tubuh, riwayat keluarga DM, riwayat hipertensi, riwayat gula darah tinggi, pola diet dan kebiasaan olahraga dari 138 pengunjung, telah diketahui bahwa 70% diantaranya memiliki risiko DM pada kategori rendah, 24% mengalami sedikit peningkatan risiko DM, 4% risiko menengah, dan 2% risiko tinggi DM sangat tinggi.  Sebagian besar orang masih memiliki risiko DM rendah, namun tidak menjamin mereka tidak berisiko. Lalai menjaga diet, olahraga, dan pola hidup sehat lainnya, akan memungkinkan terjadinya risiko DM yang lebih tinggi. Di lain sisi, sebagian besar pengunjung mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya mengetahui risiko DM dan upaya pencegahan DM. Bahkan, penelitian pada keluarga penderita DM yang pada dasarnya berinteraksi langsung dan terpapar dengan penderita DM juga menunjukkan hasil yang kurang lebih sama bahwa mereka tidak sepenuhnya melakukan perilaku pencegahan yang diharapkan, seperti memeriksa gula darah, menjaga diet, dan melakukan olahraga secara teratur. Ditambah lagi, sebagian besar masyarakat masih memiliki keyakinan bahwa DM hanya diderita oleh “orang tua”. Padahal jika berpacu kepada data, diabetes juga banyak ditemukan di kalangan anak-anak dan remaja yang disinyalir berhubungan erat dengan banyaknya temuan obesitas pada balita dan anak-anak. Data ini memperkuat mengenai pentingnya tindak lanjut berupa peningkatan intensitas upaya edukasi dan screening guna meningkatkan kesadaran semua pihak pentingnya upaya pencegahan.  Di Indonesia, upaya pencegahan masih merupakan tantangan berat. Kebiasaan masyarakat yang menunggu sakit (muncul gejala) terlebih dahulu dan akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke puskesmas/rumah sakit, menjadikan masyarakat merasa aneh, apabila dalam kondisi “sehat”, namun diminta melakukan pemeriksaan kesehatan. Merubah kebiasaan tidak selalu mudah.  Hingga saat ini, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) terbanyak di dunia dan diperkirakan bahwa jumlah penderita DM akan terus meningkat, bahkan pada usia yang lebih muda.  Data juga menunjukkan, banyak penderita DM yang terlambat terdiagnosa, bahkan banyak di antara mereka yang terdiagnosa secara tidak sengaja atau setelah mengalami komplikasi. Kondisi ini menyebabkan upaya penanganan dan pencegahan komplikasi lebih sulit dan cenderung tidak efektif. Selain jumlah yang terus meningkat, DM juga dikenal banyak menimbulkan dampak negatif baik secara fisik, psikis, sosial-spiritual, maupun finansial, baik untuk pasien maupun keluarga. Melihat berbagai hal tersebut, diharapkan dengan adanya kampanye ini, setiap individu menyadari secepat mungkin pentingnya melakukan pengecekan tingkat risiko DM yang dengannya mereka dapat mengambil upaya penanganan ataupun menjaga pola hidup sehat. Jika kesadaran ini muncul di masyarakat, maka diagnosa yang terlambat dan komplikasi akibat DM dapat ditekan.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad Ajak Masyarakat Lakukan Reboisasi dan Pemeliharaan Lingkungan

Ekosistem yang sehat merupakan salah satu penunjang kehidupan berkelanjutan. Namun, seringkali banyak aktivitas manusia yang justru berakibat fatal pada keberadaan ekosistem tersebut. Salah satunya adalah peristiwa kebakaran hutan yang pernah terjadi di Gunung Geulis, yang diakibatkan oleh musim kemarau dan ulah manusia.  Menanggapi peristiwa tersebut, Kementerian Sosial dari LK Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menyelenggarakan sebuah program kerja bertemakan “Sewagati”. Kata tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “pengabdian”. Adapun program ini telah dilaksanakan sejak tiga tahun lalu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penanaman 50 jenis bibit pohon, seperti pohon mahoni dan pohon manglid.  Pada tahun ini, Sewagati berbentuk penghijauan kembali hutan Gunung Geulis pada Minggu (29/10/2023) di Desa Jatimukti. Kegiatan tersebut turut memberdayakan masyarakat desa untuk berpartisipasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat Desa Jatimukti dapat memahami dan peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat menghindari hal-hal yang berpotensi merusak lingkungan.  Kegiatan Sewagati 2023 mengusung jargon #MariHijaukanKembali. Hal tersebut berangkat dari keresahan masyarakat atas insiden kebakaran Gunung Geulis.  Dalam kegiatannya, para mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad bekerja sama dengan Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis. Hal ini dikarenakan kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya reboisasi, melainkan juga dengan upaya pemeliharaan yang berkelanjutan.  Program Sewagati sejatinya seturut dengan salah satu prinsip Tridharma Perguruan Tinggi yang berbentuk pengabdian sosial. Adapun kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis, Saepudin, serta beberapa media partner Sumedang.  Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sebagai kegiatan “budaya lingkungan”, sebuah budaya baik dalam menghargai alam dengan melestarikan alam.  Saepudin mengungkapkan apresiasinya terhadap program yang dijalankan oleh para mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad tersebut. Hal ini karena menurutnya masyarakat sudah kurang memperhatikan kelestarian lingkungan.  “Nah, dengan adanya kegiatan mahasiswa ini diharapkan menjadi embrio bagi masyarakat lain khususnya mereka yang berada di bawah tegakan atau di bawah perbukitan agar peduli dan mau terjun dalam upaya penghijauan. Namun, perlu digarisbawahi jangan hanya seremonial saja menanam pohon terus difoto. Selanjutnya dibiarkan begitu saja, harus ada upaya pemeliharaan atau perawatan pohon. Apalagi sekarang kan musim kemarau yang harus dijaga asupan airnya,” tuturnya. Melalui program Sewagati yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad dapat menjadi inspirasi bagi kegiatan lain, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat agar dapat lebih peka dalam memperbaiki kondisi ekosistem. Sebab keberlangsungan hidup yang akan datang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan saat ini.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Kurangi Jumlah Limbah Gelas Plastik, Mahasiswa Unpad Kembangkan Gelas dari Kulit Biji Kopi

Pemanfaatan barang sekali pakai nyatanya masih menjadi persoalan yang kerap kali ditemui dalam masyarakat. Tidak jarang hal ini menimbulkan berbagai macam permasalahan terkait sampah yang berpotensi merusak lingkungan.  Hal ini menjadi salah satu perhatian anak muda saat ini untuk dapat berinovasi dalam memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Sejalan dengan itu, sekelompok mahasiswa Universitas Padjadjaran berinisiasi untuk memanfaatkan kulit biji kopi menjadi gelas yang dapat dikonsumsi. Para mahasiswa tersebut adalah Ardhia Pramesti, Widya Silva Gramita, Sabrina Maharani Putri, Afina Viany Judawisastra, dan Fahruni Alya Jasminea Bayuaji. Mereka semua berasal dari latar belakang jurusan yang sama, yaitu Teknologi Pangan.  Pengembangan produk ramah lingkungan yang dikembangkan oleh para mahasiswa Unpad bernama “Scara Cup” tersebut berdasar pada riset, pengetahuan, dan pengalaman belajar yang telah diterima selama kuliah. Inovasi ini menjadi salah satu upaya Unpad dalam mengurangi penggunaan barang sekali pakai, seperti gelas plastik. Selain kulit biji kopi, para inovator turut menggabungkan beberapa produk alami lain, seperti tepung terigu, telur, gula, butter, dan cokelat yang berfungsi agar cairan tidak menembus gelas.  Salah seorang anggota tim, Widya Silva Gramita menjelaskan bahwa kulit biji kopi bermanfaat sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Hal ini merupakan sebuah sisi positif yang tidak banyak orang sadari.  “Pembuatan Scara Cup bertujuan untuk mencegah pencemaran limbah, di mana kulit biji kopi bisa menyebabkan pencemaran limbah organik yang besar,” tambah Widya melalui penjelasan tertulisnya.  Pengembangan Scara Cup sebagai upaya mengurangi penggunaan produk sekali pakai turut didukung dengan sebuah fakta menarik bahwa inovasi ini juga dapat menjadi camilan yang mengenyangkan. Dengan keunikannya ini, Scara Cup sukses memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-H) Kemendikbudristek.  Keunikan Scara Cup juga terdapat pada sisi ketahanannya yang tergolong baik. Jika produk ini diisi dengan cairan bersuhu normal, maka dapat bertahan hingga 6 jam. Sementara jika diisi dengan cairan air bersuhu tinggi, Scara Cup mampu bertahan selama 30 menit.  Beragam upaya dilakukan para mahasiswa Unpad untuk dapat mempromosikan produk ramah lingkungan ini, seperti mengikuti pameran bertema lingkungan, membuka pre-order melalui laman media sosial Instagram @scara.cup hingga mengadakan kerja sama dengan berbagai kedai kopi.  Seorang anggota mahasiswa pengembang produk, Ardhia Pramesti menyatakan bahwa target konsumen Scara Cup, yaitu masyarakat yang memiliki ketertarikan pada kopi dan mereka yang sadar, serta ingin berkontribusi untuk mengatasi masalah lingkungan.  “Harapannya, kami ingin Scara Cup dikenal lebih oleh masyarakat luas. Kami juga ingin jangkauan pemasarannya lebih luas, tidak hanya di Jatinangor dan sekitarnya saja,” jelasnya lebih lanjut.  Perbaikan atas masalah lingkungan sejatinya menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Melalui pengembangan produk yang berasal dari limbah ini, Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas lain di Universitas Padjadjaran berkontribusi secara aktif dalam mengurangi penggunaan produk sekali pakai.   Red. Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Faperta Bersama Desa

Jatinangor, 27 Oktober – Mahasiswa memiliki empat peran penting yang merupakan harapan dari masyarakat, yaitu peran sebagai agent of change, social control, iron stock dan moral force. Sebagai agent of change, mahasiswa merupakan penggerak masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa dapat menjadi pelopor kemajuan melalui pengetahuan, ide, dan keterampilan yang dimilikinya. Oleh karena itu, sebagai tempat untuk menyemai benih-benih pelopor kemajuan, perguruan tinggi mempunyai peranan penting untuk berkomitmen dan memahami persoalan masyarakat sekitar secara nyata, khususnya masyarakat pedesaan yang dapat mempunyai potensi untuk berkembang.  Dengan maksud menjawab dan mencari solusi dari asesmen keluhan masyarakat, sekaligus merealisasikan peran sebagai agent of change, BEM KMFP Unpad mengadakan salah satu program kerjanya yang bernama “Faperta Bersama Desa” sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan desa.  Program positif ini mendapat dukungan penuh dari berbagai fakultas di Unpad, salah satunya Fakultas Ilmu Budaya.  Kegiatan ini merupakan sosialisasi kepada masyarakat, dengan berisikan konten atau pelatihan tentang bagaimana mengatasi permasalahan dalam masyarakat yang berkaitan dengan pertanian, dengan tujuan untuk mengangkat potensi dan keadaan desa yang berfokus pada pembinaan kelompok masyarakat serta pengembangan desa binaan Fakultas Pertanian Unpad.  Minggu (10/10), BEM KMFP Unpad bersama Klinik Tanaman (Klintan) Unpad melakukan survey lahan cabai di Desa Jatimukti, sekaligus mendiskusikan permasalahan yang menyerang komoditas utama Desa Jatimukti bersama dengan Ketua Kelompok Tani Muktisari Desa Jatimukti, pak Bandi. Alhasil ditemukan bahwa permasalahan yang menyerang komoditas utama Desa Jatimukti berasal dari lalat buah yang menyerang buah-buah cabai. Kemudian pada Sabtu (16/10), BEM KMFP Unpad dan Klintan melakukan penyuluhan kepada para petani Desa Jatimukti berupa pematerian dan praktik tentang bagaimana membuat perangkap lalat buah dengan menggunakan kandungan Metil Eugenol.  Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan hubungan antara masyarakat dan Civitas Akademika Unpad (khususnya Fakultas Pertanian Unpad) semakin erat satu sama lain. Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, khususnya Kelompok Tani Muktisari di Desa Jatimukti. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Menyambut Piala Dunia U-20, Stadion Unpad Mempersiapkan Diri

Jatinangor, 24 Oktober – Dalam menyambut gelaran Piala Dunia U-20, Stadion Jati Universitas Padjadjaran (Unpad) Kabupaten Sumedang melakukan pembenahan. Stadion Jati Unpad ini merupakan salah satu stadion yang masuk dalam lapangan penyerta sebagai tempat latihan sejumlah negara bersama lapangan di IPDN (Kab. Sumedang), Stadion Sidolig (Kota Bandung), dan lapangan Sabilulungan (Kabupaten Bandung). Kepala Kantor Komunikasi Publik Universitas Padjajaran (Unpad) Dandi Supriadi mengatakan dari hasil koordinasi terakhir bersama Kemenpora dan PUPR, terdapat beberapa catatan dan akan segera direnovasi. Dandi mengatakan pertama rumput akan diganti, kemudian tempat duduk penonton, disusul dengan ruang ganti pemain.  Ia juga mengatakan bahwa Stadion Jati sudah berstandar Internasional karena pernah digunakan sebagai lokasi latihan untuk Asian Games 2018. Maka dari itu, renovasi tidak dimulai dari nol dan hanya tinggal memperbaiki agar sesuai seperti yang diminta FIFA. “Jadi apa yang diminta sekarang akan direnovasi, dan semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah lewat PUPR. Fokusnya yaitu mengganti rumput. Bukan berarti rumput sekarang jelek, tapi mereka (FIFA) memang harus mempertahankan standar kualitas, ” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mungkin renovasi dari Stadion Jati akan dilakukan bulan depan.  Sementara itu Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang menyambut baik rencana dari penggunaan dua stadion yang berada di wilayahnya. Kepala Dinas Disparbudpora Hari Santosa mengatakan Pemkab Sumedang belum mengetahui secara rinci apa yang akan diperbaiki di dua lapangan tersebut. Namun dengan terpilihnya Stadion IPDN dan Stadion Jati Unpad, Kabupaten Sumedang dapat diperkenalkan ke mata dunia. Hari mengatakan bahwa kemarin hanya terdapat pemberitahuan mengenai dua lapangan yang ditunjuk sebagai tempat latihan dari sekian lapangan, dan tentunya hal ini menjadi sebuah kesempatan untuk dikenal, dikarenakan kemungkinan besar, banyak orang akan hadir di lokasi. Menurutnya, peluang inilah yang perlu disikapi secara sungguh untuk kedepannya.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Scroll to Top