Berita

Berita

Tim PPM PSDKU Unpad Aktif Edukasi Pencegahan Stunting di Desa Cibanten, Pangandaran

Jatinangor, 6 Desember 2023 – Kamis (23/11), Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat PSDKU Unpad Pangandaran kembali melakukan kegiatan penyuluhan mengenai pemenuhan gizi ibu hamil dan balita dalam rangka penanggulangan stunting di Desa Cibanten, Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Tim yang dipimpin Dosen Prodi Administrasi Bisnis PSDKU Unpad Linda Kurniawati, M.M., bersama dengan Wakil Ketua Dwi Masrina, M.Med.Kom., serta dibantu tim mahasiswa tersebut bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada ibu hamil dan juga balita.  Dwi mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang agar para balita dan ibu hamil di Desa Cibanten mampu menentukan dan mengonsumsi gizi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kegiatan penyuluhan ini menghadirkan narasumber Dosen Keperawatan PSDKU Unpad Khoirunnisa, M.Kep., Ners., S.Kep.An., yang memaparkan materi mengenai tumbuh kembang anak. Setelah itu, terdapat diskusi kelompok yang bertujuan untuk menggali beragam potensi produk lokal kaya gizi yang dapat dijadikan sumber pemenuhan gizi balita.  Informasi dari berbagai hasil bumi diperoleh dari diskusi tersebut, seperti jagung manis, ikan gabus, daun kelor, dan belut yang memiliki nilai gizi tinggi. Hasil bumi tersebut telah dimanfaatkan kepada balita di desa tersebut sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT).  “Melalui program ini, masyarakat di Desa Cibanten diharapkan sungguh menyadari mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang seimbang dan mampu memanfaatkan setiap sumber daya alam yang bisa dijadikan sebagai asupan gizi sehingga angka stunting di Desa Cibanten ini mampu ditekan dan ditanggulangi,” pungkas Dwi. Program pengabdian masyarakat ini turut menuai berbagai dukungan dari segenap fakultas di Unpad, salah satunya Fakultas Ilmu Budaya.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Pecahkan Diskriminasi Gender, Rina Sah Terpilih Jadi Rektor Perempuan Pertama Universitas Padjadjaran

Bandung, Jawa Barat — Keikutsertaan perempuan dalam sebuah organisasi dan pengambilan keputusan merupakan suatu langkah bijak untuk mengatasi bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Hal ini dikarenakan upaya tersebut dipercaya dapat membuka peluang agar perempuan dapat menjadi sosok pemimpin. Di satu sisi, upaya tersebut turut menjadi wadah bagi perempuan dalam mengekspresikan aspirasi, gagasan, dan idenya dengan lebih luas.  Pemilihan rektor (Pilrek) Universitas Padjadjaran menjadi salah satu bukti nyata mewujudkan usaha non-diskriminasi perempuan. Rina Indiastuti terpilih sebagai rektor Universitas Padjadjaran pada periode 2019-2024 dalam pemilihan pada  Minggu (6/10). Hal yang istimewa dari terpilihnya Rina dikarenakan dirinya merupakan rektor perempuan pertama Universitas Padjadjaran.  Proses seleksi dan pemilihan rektor dilakukan secara teliti dengan proses yang panjang. Dalam hal ini, Rina terpilih melalui proses aklamasi oleh Majelis Wali Amanat (MWA) Unpad dalam sidang pleno MWA di Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35. Adapun kesepakatan pemilihan Rina sebagai Rektor Universitas Padjadjaran periode 2019-2024 tersusun atas beberapa aspek yang dipertimbangkan, seperti seleksi daring, senat akademik, masukan PPATK, perilaku di media sosial, penilaian BNPT, assessment center oleh Telkom hingga proses diskusi yang ditempuh pada hari pemilihan.  “MWA memilih, memutuskan, dan menetapkan secara aklamasi, yang menjadi rektor Unpad periode 2019-2024, yaitu Profesor Rina Indiastuti. Kita bisa secara aklamasi memilih rektor, di tempat lain harus voting,” ujar Ketua MWA Rudiantara kepada wartawan.  Rudiantara menambahkan bahwa proses pemilihan dan seleksi rektor Unpad turut dihadiri oleh enam calon rektor dan berlangsung secara kekeluargaan. Hal ini dibuktikan dengan komitmen keenam calon untuk tetap mendukung siapapun rektor yang akan terpilih nantinya.  Rudiantara berharap bahwa rektor terpilih dapat memanfaatkan program-program yang diusung oleh para calon lainnya. Dirinya menuturkan bahwa pihak MWA dengan sigap mengawal rektor terpilih dan siap membantu dalam penyusunan program strategis. “Tentunya yang kami titipkan, buat program strategis dan quick win — sampai akhir tahun MWA akan bantu,” ujar Rudiantara yang juga merupakan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada Kabinet Kerja periode 2014-2019.  Rektor Unpad terpilih Rina Indiastuti juga mengaku bahwa dirinya akan memberikan kesempatan dengan membuka peluang bagi para calon rektor lain untuk turut berpartisipasi menjadi bagian pada kabinetnya ini. “Untuk kabinet tentu saya akan cari orang bertalenta dari posisi masing-masing. Bukan tidak mungkin (lima) calon lainnya masuk talenta yang dibutuhkan,” ujar Rina.  Adapun sebelum terpilih menjadi rektor Universitas Padjadjaran, perempuan yang meraih gelar Doktor Ekonomi Industri di Osaka Prefecture University ini telah dipercaya sebagai Plt Rektor Unpad untuk menggantikan Tri Hanggono Achmad yang purna tugas pada April 2019. Selain itu, dirinya juga pernah bertugas sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada periode 2017-2019.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Dosen Unpad Beri Masukan dalam Rapat dengan Komisi X DPR RI

Jakarta — Dalam perumusan suatu kebijakan, pemerintah hendaknya turut mempertimbangkan pendapat masyarakat. Salah satu bagian dari masyarakat tersebut adalah akademisi. Hal ini dikarenakan mereka mampu memberikan masukan-masukan dari sudut pandang keilmuan tersebut.  Sejalan dengan ini, sejumlah dosen program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran diundang untuk menjadi narasumber dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) Komisi X DPR RI. Kegiatan ini dilangsungkan di Ruang Rapat Komisi X DPR RI di Jakarta pada Selasa (20/6/2023).  Sebelum masuk ke dalam inti rapat Pimpinan Rapat, Dr. H. Abdul Fikri Faqih, MM memberikan pengantarnya sebagai pembuka. Rapat dilanjutkan dengan pemaparan para narasumber yang diundang dari berbagai instansi, baik pemerintah maupun perguruan tinggi.  Para narasumber yang diundang berasal dari program studi Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, program studi Perpustakaan dan Sains Informatika Universitas Padjadjaran, program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Yarsi, program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Diponegoro, dan Satgas Penyusunan Peta Jalan Penguatan Literasi Kemenko PMK.  Pada kesempatan tersebut, narasumber dari program studi Perpustakaan dan Sains Informatika Universitas Padjadjaran diwakilkan oleh Dr. Ute Lies Siti Khadijah, M.Si., Dr. Elnovani Lusiana, S.Sos., M.Si., Asep Saeful Rohman, S.Sos., M.I.Kom., dan Andri Yanto, S.Sos. M.I.Kom. Beberapa isu utama yang dibahas dalam rapat, yaitu peluang dan tantangan literasi dan tenaga perpustakaan di Indonesia, dukungan perguruan tinggi terhadap peningkatan literasi, peta kebutuhan dan daya serap lulusan program studi Ilmu Perpustakaan, serta masukan dan rekomendasi kebijakan dalam rangka peningkatan literasi dan tenaga perpustakaan.  Menanggapi isu-isu tersebut, dosen program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fikom Unpad memberikan beberapa masukan. Dosen Unpad berpendapat bahwa pemerintah perlu untuk berperan aktif sebagai penanggung jawab literasi dan perpustakaan dengan mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan yang ada sebagai bentuk upaya meningkatkan literasi dan sumber daya tenaga perpustakaan, khususnya pustakawan.  Di sisi lain, dosen Unpad juga berpendapat bahwa pemerintah semestinya mempertimbangkan suatu revisi kebijakan dalam sektor perpustakaan maupun pendidikan ataupun sektor lainnya yang berperan penting untuk meningkatkan literasi masyarakat. Hal ini dinilai penting sebab belum atau tidak ada regulasi yang secara langsung mengatur tentang literasi dan upaya peningkatannya.  Selain itu, diharapkan juga adanya penyesuaian regulasi teknis yang terdapat dalam UU 43/2007 tentang ketenagaan perpustakaan. Hal ini dikarenakan profesi tersebut memiliki tugas, fungsi, dan peran yang penting untuk meningkatkan literasi masyarakat, di samping para pendidik.  Diharapkan pula adanya revisi Permendiknas 25/2008 tentang standar tenaga perpustakaan sekolah yang perlu disesuaikan dengan Permendikbud 6/2019 terkait diakuinya nomenklatur Fungsional Pustakawan di sekolah.  Di satu sisi, baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu berkomitmen untuk menerima para lulusan ilmu perpustakaan dan informasi, maupun pendidikan vokasi perpustakaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional pengelola perpustakaan sesuai dengan standar nasional. Hal ini perlu dilakukan supaya perpustakaan dapat berfungsi dengan baik dan berkontribusi dalam peningkatan literasi masyarakat. Asep Saeful Rohman turut menegaskan urgensi perpustakaan sekolah sebagai salah satu bentuk upaya peningkatan literasi di wilayah pendidikan. Hal ini karena pengukuran angka literasi berpijak pada penguasaan literasi dan kemampuan membaca peserta didik. Menanggapi segala masukan dan penjelasan yang disampaikan, Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) Komisi X DPR RI berpendapat bahwa koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan industri, serta masyarakat sangat perlu dimaksimalkan agar ada keberpihakan terhadap kebijakan program literasi dan tenaga pustakawan.  Diperlukan pula penguatan karakter, metode penilaian yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia, dan pengadaan RUU Literasi. Selain itu, tambahan anggaran Perpusnas RI juga diperlukan untuk menunjang angka literasi dan tenaga perpustakaan.  Adapun pemerintah juga dinilai perlu untuk menjamin kesejahteraan pustakawan dengan penyediaan formasi PPPK, jenjang karir, dan dukungan beasiswa untuk pustakawan.  Melalui RDPU yang diselenggarakan ini, baik pemerintah maupun lembaga perguruan tinggi berharap agar angka literasi masyarakat Indonesia dapat meningkat, yang mana hal ini turut didukung oleh perpustakaan dan  penguatan tenaga perpustakaan. Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Assessment of Sustainability Knowledge (ASK)

Jatinangor, Jawa Barat  – Dalam mendukung sustainability, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran (FIB Unpad) menaruh atensi lebih terhadap program-program yang berkaitan dengan sustainability. Salah satu contohnya, FIB Unpad mendukung adanya SDGs Center Universitas Padjadjaran.  Salah satu indikator terhadap kegiatan edukasi mengenai sustainability berjalan dengan baik atau tidak yaitu adanya “Assessment Mengenai Sustainability Literacy (ASK)”. Assessment of Sustainability Knowledge (ASK) merupakan sebuah tool yang dikembangkan oleh Zwickle and Jones (2018) yang mengukur wawasan yang berkaitan dengan tiga aspek sustainability yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial.  Oleh karena itu, melalui form ini, diharapkan seluruh Sivitas Akademika Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran dapat berpartisipasi dengan mengisi form tersebut dan memantau pencapaian sustainability literacy di Universitas Padjadjaran. Mari bersama-sama berpartisipasi dalam mengisi form tersebut, dengan mengakses link di bawah ini:  https://sdgs.unpad.ac.id/assessment-of-sustainability-knowledge Red: Yohanes William Ivakdalam

Berita

Fisik Harus Sehat, tetapi Jiwa dan Mental Juga Harus Sehat!

Jatinangor, 17 Mei – Selasa (14/5) mahasiswa kelas C program studi Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran menggelar kegiatan “Aku Project” berupa gelar wicara bertajuk “Aku-Bicara: Selalu ada ruang untuk pahami diri sendiri” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor. Gelar wicara ini membahas mengenai pentingnya kesehatan mental, sikap peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial. Kegiatan ini menghadirkan pembicara Instruktur Hipnoterapi Indonesia dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ., dosen Fakultas Psikologi Unpad Hari Setyowibowo, M.Psi., serta perwakilan dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI dr. Lina Regina Mangaweang, Sp.KJ.  Dalam kegiatan tersebut, Hari mengatakan bahwa kesehatan mental sangatlah penting bagi para mahasiswa. dimana bukan hanya fisik yang harus sehat, melainkan juga jiwa dan mental. Hari menjelaskan, di situasi tertentu, seseorang ingin menyendiri dari keramaian. “Menyendiri tidak berarti kesepian, tapi satu hal yang perlu ditanamkan bahwa ‘sendiri, saya baik baik saja, tetapi dengan bersamamu, saya lebih baik.’ Artinya, kita butuh orang lain, tetapi kita jangan sampai ketergantungan dengan orang lain,” jelasnya.  Sementara itu, Jiemi mengungkapkan, kesehatan bukan hanya berbicara soal fisik, tetapi juga harus sehat mental dan sehat relasi. Jiemi menerangkan, bahwa proses perubahan suasana hati (mood) secara ekstrem wajar dialami oleh manusia, dan sebaiknya jangan langsung menilai perubahan tersebut ke arah negatif, kecuali perubahan tersebut mengganggu aktivitas normal. “Apabila perubahan mood yang dirasakan seseorang telah menyebabkan gangguan untuk orang tersebut dalam beraktivitas secara normal, bisa jadi hal tersebut dapat dikatakan sebagai tanda dari gangguan kejiwaan” jelas Jiemi. Dalam rangka mendukung edukasi kesehatan jiwa di masyarakat, Kemenkes RI bersama dengan tim Kemenkes RI serta Tim Pelayanan dan Bimbingan Konseling (TPBK) Unpad menghadirkan pameran instalasi seni, dan menyediakan layanan deteksi kesehatan jiwa. Ditambah lagi, Kemenkes RI gencar untuk melakukan sosialisasi untuk menyebarkan informasi mengenai kesehatan jiwa kepada masyarakat dengan mengunjungi sekolah dan menyebarkan informasi melalui selebaran, brosur, dan video. Menanggapi hal ini lebih lanjut, Lina mengatakan bahwa Kemenkes juga memiliki aplikasi untuk mendeteksi kesehatan jiwa. Ia juga mengatakan bahwa jika tindak lanjut diperlukan, maka masyarakat akan dianjurkan untuk mengikuti konseling.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Unpad Terapkan Perkuliahan Hybrid, Mahasiswa Bebas Memilih Sistem Pembelajaran

Jatinangor, 11 Mei 2023 – Universitas Padjadjaran (Unpad) akan menggelar pembelajaran hybrid untuk seluruh aktivitas perkuliahan. Kombinasi pembelajaran luring dan daring akan diterapkan demi proses pembelajaran yang dapat mencapai kompetensi yang dibutuhkan. Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti dalam laman resmi Unpad mengatakan bahwa Unpad tetap memberlakukan kebijakan pembelajaran hybrid setelah pelaksanaan UTS. Selain itu, Rina menjelaskan bahwa selama pandemi, dosen dan mahasiswa terbiasa memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.  Namun, ada beberapa dampak yang muncul dari metode pembelajaran daring, salah satunya mahasiswa yang berkeluh kesah mengenai materi yang sulit untuk dipahami ketika pembelajaran daring. Latar belakang inilah yang membuat metode hybrid (daring dan luring) dipilih untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Melalui kebijakan ini, Rina mengatakan bahwa perkuliahan tidak seluruhnya digelar secara luring, tetapi teknologi yang selama ini sudah diaplikasikan tetap dimanfaatkan dan tetap dilanjutkan pada semester ganjil tahun akademik 2022/2023. Nantinya, pembelajaran tatap muka akan dihadiri maksimal 40 persen dari total mahasiswa di satu kelas dan mahasiswa dapat memilih kelas yang ingin diikuti, baik kelas luring maupun kelas daring.  “Mahasiswa diperbolehkan untuk mengikuti kelas secara daring, jika tidak berkesempatan untuk mengikuti kelas secara luring karena akses rumah yang jauh. Kami ingin penyampaian materi terjamin dan terserap oleh mahasiswa, dan kemampuan penggunaan teknologi tetap meningkat,” kata Rina. Kendati demikian, Unpad tetap dibuka penuh untuk mahasiswa. Mahasiswa juga diperbolehkan mengikuti perkuliahan secara daring dari kampus melalui fasilitas yang disediakan. “Prinsipnya kampus dibuka. Jika mahasiswa ingin kuliah secara daring, dipersilahkan. Jika mahasiswa ingin kuliah secara luring, juga dipersilahkan, dengan syarat jadwal kuliahnya sudah terjadwal,” tambah Rektor. Lebih lanjut, pertemuan luring didorong agar pendalaman materi dapat dilakukan secara interaktif melalui diskusi intens, dikarenakan diskusi menjadi kurang optimal ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Unpad telah mengembangkan Learning Management System (LMS) LiVE Unpad untuk mengakses berbagai materi pembelajaran sebagai penerapan pembelajaran daring. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengakses berbagai materi perkuliahan kapan dan di mana saja. “Hal ini terjadi, dikarenakan kami ingin mengombinasikan kelebihan pembelajaran luring dengan pembelajaran daring,” pungkas Rina. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Kantin Saridhona : Bayar Seiklasnya, Makan Sepuasnya

Jatinangor, 28 Maret – Suasana ramai mengisi Asrama Bale Wilasa I Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang. Di dalam asrama, koridor diisi beberapa kelompok yang tengah berdiskusi dan tempat fotokopi terlihat penuh oleh mahasiswa yang sibuk mencetak tugas.  Namun, tempat yang paling ramai diisi oleh mahasiswa di dalam asrama adalah Kantin Saridhona, sebuah kantin sederhana yang berlokasi di sebelah kiri asrama dan diisi deretan kursi serta meja dengan pagar bambu setinggi setengah badan orang dewasa.  Tampak depan kantin terdapat nasi dan deretan lauk pauk seperti ikan, sayur, telur, dan lainnya. Tak jauh dari tempat nasi, terlihat kotak kencleng, ditambah keranjang piring kotor serta tong sampah yang berada di sisi kiri kantin.  Kantin ini memiliki slogan “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya”, di mana siapapun yang makan di kantin ini, bisa makan sepuasnya dengan memasukkan uang ke dalam kencleng (kotak uang) seikhlasnya.  Salah satu mahasiswa Peternakan Unpad, Iman Taufik Ramadhan mengatakan bahwa kantin ini sangat membantu untuk mahasiswa, apalagi lokasinya yang berdekatan dengan asrama (mahasiswa penerima beasiswa) Bidik Misi yang secara finansial lemah. Ia berharap, konsep Kantin Saridhona dapat diikuti kampus lain maupun masyarakat. Hal ini dikarenakan, kantin merupakan tempat yang membantu bagi orang yang membutuhkan asupan gizi yang baik.  Selain itu, Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Unpad, Yan Muda Iskandarsyah mengungkapkan, kantin ini merupakan kantin kedua setelah didirikannya kantin pertama di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengatakan bahwa kantin tersebut adalah hasil inisiatif dari lulusan ITB. Pertama kali berada di ITB dan sukses, kemudian kantin ini didirikan di Unpad, setelah melalui obrolan dengan salah satu donatur yang merupakan teman dari Rektor Unpad.  Sebagai langkah awal, kantin tersebut didirikan di Bale Wilasa I. Dari segi lokasi, Bale Wilasa I memang tidak menguntungkan secara bisnis, dikarenakan lokasinya yang jauh dari pusat keramaian mahasiswa. Namun Unpad memilih lokasi tersebut dengan alasan kesiapan tempat. Pertimbangan lainnya dilihat dari Bale Wilasa sebagai asrama yang menampung para perempuan  penerima beasiswa Bidikmisi yang notabene berasal dari keluarga kurang mampu. Jika pencairan beasiswa dari para mahasiswi tidak tepat waktu, mereka kesulitan untuk makan.  Dengan adanya kantin ini, diharapkan kebutuhan gizi dari para mahasiswa terpenuhi, dengan pembayaran makanan yang dilakukan seikhlasnya.  Makna Kantin Saridhona  Yan menjelaskan bahwa kantin ini bukan hanya sekadar tempat makan. Terdapat banyak makna yang ingin disampaikan, mulai dari mendidik, belajar berbagi, sampai dengan disiplin.  “Kantin ini mengajarkan orang untuk saling membantu. Orang yang tidak punya uang, bisa bayar berapapun. Sementara yang berkecukupan, bisa membeli lebih atau memberikan donasi dalam bentuk yang lain,” tuturnya.  Makna lainnya adalah disiplin, di mana terdapat tata cara makan di Kantin Saridhona. Mahasiswa atau pengunjung akan diberi semacam piring beralas daun pisang untuk mengambil makan. Meski bisa makan sepuasnya, mahasiswa diimbau untuk makan secukupnya, jangan sampai ada nasi atau lauk yang terbuang.  Sesudah makan, pengunjung bisa mengisi kencleng Seusai mengambil makanan, pengunjung bisa mengisi kencleng seikhlasnya dan kembalian dapat diambil secara mandiri dari kencleng.  Tidak lupa juga, para pengunjung diimbau untuk membereskan sisa makanannya sendiri, memasukkan sampah ke dalam tong sampah, dan menyimpan piring maupun gelas kotor di tempat yang sudah disediakan. “Porsi makanan yang disediakan untuk sementara adalah 100-120 porsi setiap hari, sesuai budget yang ada saat ini. Dan itu pun sebelum siang hari sudah habis,” ucapnya.  Ia berharap, ada donatur yang bisa membantu Kantin Saridhona, karena rencananya kantin ini akan dikembangkan ke bagian bawah, tepatnya di pusat keramaian mahasiswa.  Yan mengatakan bahwa para pengunjung tidak perlu khawatir terkait dengan masalah gizi, karena semua menu yang ada di Kantin Saridhona sudah dihitung gizi dan komposisinya oleh Fakultas Kedokteran Unpad. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

FPIK Unpad Kembangkan Startup Berbasis Teknologi Kemaritiman

Memiliki sebuah binaan perusahaan rintisan (startup) yang mendukung kemaritiman merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh pemangku kepentingan untuk mempromosikan dan meningkatkan upaya mencapai kehidupan yang berkelanjutan.  Salah satu binaan startup tersebut dinaungi dan dikembangkan oleh sivitas akademika Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, yaitu “Jack Don’t Swim”. Binaan startup karya anak bangsa ini pernah menjadi salah satu peserta “Blue Tech Accelerator”, sebuah program ambisius berskala global yang mempertemukan sejumlah startup dari berbagai negara yang bergerak pada bidang kemaritiman untuk saling menunjukkan inovasinya.  Di sisi lain, Jack Don’t Swim juga merupakan salah satu startup yang mendapat hibah Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan mendapat pembinaan dari Pusat Inkubasi Bisnis/Oorange Unpad.  Pada acara “Blue Tech Accelerator Program”, startup ini diikuti oleh satu alumnus dan dua mahasiswa Kelautan FPIK Unpad, yaitu Kemaal Sayyid Zenyda, S.Kel., (CEO), Salsa Dewi K (CMO), dan Alif Sumantri (CTO).  Salsa menyatakan kepada pihak Kanal Media Unpad bahwa startup yang dikembangkan oleh timnya ini menyediakan berbagai inovasi teknologi dan layanan jasa.  “Jack Don’t Swim merupakan startup yang bergerak di bidang teknologi instrumentasi kelautan yang di mana kegiatan usahanya adalah mengembangkan instrumen atau alat kelautan untuk menunjang ketersediaan data di Indonesia. Contoh produk kami adalah RHEA dan ARHEA. Selain mengembangkan produk, kami juga menyediakan jasa sewa dan reseller beberapa produk dari instrumen kelautan,” ungkapnya.  Para peserta dalam acara tersebut mendapatkan pendampingan dari beberapa mentor, seperti David Cutler (Co-Founder Fortuna Cools), Primiaty Natalia (Government and Community Coordinator in Thresher Shark Indonesia), Anna Oposa (Co-Founder Officer and Founder Bluepreneur Asia Ventures), Mary Jane Lamoste (Founder Tagpi-Tagpi), dan Swietenia Puspa Lestari (Co-Founder and Executive Director of Divers Clean Action). Dalam program ini, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) turut berperan dalam mendukung pengembangan strategi komunikasi yang efektif.  Selain unjuk inovasi, Salsa turut menambahkan bahwa program internasional ini merupakan sebuah wadah untuk menambah ilmu, khususnya terkait stakeholder mapping and power analysis, communication strategy, dan sustainable planning.  “Di sisi lain, kami juga mendapat banyak insight baru dalam berbagai hal dari para mentor hebat, yang di mana juga dapat membantu kami berkembang dalam menjalankan bisnis ini,” terangnya.  Adapun Salsa berharap bahwa Jack Don’t Swim dapat menjadi salah satu startup binaan yang dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah pada sektor kelautan di Indonesia.  Sejalan dengan Salsa, inovator sekaligus perintis Jack Don’t Swim dan dosen FPIK Unpad, Noir Primadona Purba, M.Si., turut mengungkapkan cita-citanya agar startupnya tersebut dapat menjadi berkontribusi dalam kemajuan teknologi kemaritiman di Indonesia. Di sisi lain, dirinya menambahkan agar melalui startup ini, mahasiswa dan alumni Unpad turut menunjukkan kontribusinya dalam inovasi teknologi dan instrumen kelautan.  Noir juga berharap agar melalui kegiatan “Blue Tech Accelerator Program”, kemampuan wirausaha startup mahasiswa dan alumni Unpad dapat kian meningkat.  “Untuk itu dengan mengikuti kegiatan ini, mereka akan lebih paham konteks bagaimana mengelola perusahaan startup. Karena ini skala internasional, mudah-mudahan mereka mendapat ilmu lebih banyak”, ungkap Noir.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Dukung Mobilisasi Civitas, Unpad Sediakan Layanan Bus Antar Kampus Jatinangor-Dipati Ukur

Jatinangor, Jawa Barat — Pengadaan transportasi luar kampus memang selalu dibutuhkan bagi civitas kampus. Selain membantu penghematan, transportasi luar kampus berguna untuk membantu mengurangi polusi udara.  Sejalan dengan hal tersebut, Universitas Padjadjaran telah menyediakan angkutan gratis khusus mahasiswa untuk menghubungkan Kampus Unpad Dipati Ukur dengan Kampus Unpad Jatinangor. Transportasi gratis yang disediakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas mobilitas mahasiswa Unpad.  Inisiasi tersebut merupakan hasil kesepakatan hasil diskusi antara pihak universitas yang diwakili oleh Direktorat Sarana dan Prasarana dengan mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kema Unpad. “Sebetulnya ini sudah diprogramkan pimpinan kita sudah lama. Kemudian sebulan kemarin kita intens komunikasikan bersama BEM, ujar Irwan saat wawancara di Ruang Radio Unpad. Penyediaan transportasi gratis tersebut bekerja sama dengan Perum DAMRI. Dalam hal ini disediakan dua unit bus dengan masing-masing berkapasitas 54 tempat duduk dan dapat menampung hingga 90 mahasiswa. Dua unit bus tersebut dibagi menjadi satu bus untuk perjalanan dari Kampus Jatinangor menuju Kampus Dipati Ukur, sedangkan sisanya untuk perjalanan dari Kampus Dipati Ukur menuju Kampus Jatinangor.  Irwan menjelaskan bahwa mahasiswa yang hendak menggunakan fasilitas ini perlu menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Hal ini bertujuan untuk memfilter penumpang yang hendak naik bus, sehingga dapat memastikan bahwa penumpang adalah benar-benar mahasiswa Unpad.   Waktu keberangkatan bus, yaitu pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB untuk bus dengan rute Dipati Ukur – Jatinangor. Sedangkan untuk bus dengan rute Jatinangor – Dipati Ukur, yaitu pukul 06.00 WIB dan 16.00 WIB (Senin-Selasa), serta 13.00 WIB dan 16.00 WIB (Rabu-Jumat). Adapun untuk bus tujuan Jatinangor akan mengelilingi fakultas yang ada di kampus Jatinangor.  Irwan menambahkan bahwa rute perjalanan bus akan melewati fly over Pasupati-Jalan Dr. Djunjunan-Tol Pasteur-Tol Purbaleunyi dan sebaliknya. Adapun selama perjalanan, bus tidak diperkenankan untuk menaikturunkan penumpang. Hal ini dilakukan agar waktu tempuh perjalanan lebih cepat.  Dirinya turut menuturkan bahwa pihak Direktorat Sarana dan Prasarana akan memantau dan mengevaluasi keefektifan pengadaan program ini.   “Jika memang tingkat okupansi dan keefektifannya tinggi, bukan tidak mungkin ke depan akan kita tambah armada maupun jadwal keberangkatan,” ungkapnya.  Irwan berharap mahasiswa dapat berkontribusi dalam memelihara fasilitas yang ada, yaitu dengan menjaga kebersihan dan ketertiban di dalam bus selama perjalanan. Sebelum program transportasi khusus mahasiswa ini berlaku, Universitas Padjadjaran telah mengadakan kerja sama dengan Perum DAMRI terkait penyediaan bus khusus dosen dan karyawan. Adapun setiap harinya bus melayani tiga rute keberangkatan, yaitu Dipati Ukur-Cicaheum-Cibiru-Jatinangor dan sebaliknya, Dipati Ukur-Kiaracondong-Soekarno Hatta-Cibiru-Jatinangor dan sebaliknya, serta Terminal Elang-Soekarno Hatta-Tol Moh. Toha-Tol Padaleunyi-Jatinangor dan sebaliknya. Waktu operasional bus, yaitu pukul 06.00 WIB dari Dipati Ukur dan Terminal Elang dan 16.00 WIB dari kampus Jatinangor.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Rencana Pengurangan Konsumsi Energi di FIB Unpad: Langkah Menuju Keberlanjutan

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran tengah menjalankan inisiatif penting untuk mengurangi konsumsi energi dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Dalam upaya ini, FIB Unpad telah merancang beberapa langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi energi di seluruh fasilitas kampus. Menurut Daman Yusup, M.M., Manajer Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana FIB Unpad, setidaknya ada empat langkah yang akan dilaksanakan oleh timnya terkait permasalahan ni. Pertama, FIB Unpad akan melakukan audit energi secara menyeluruh. Audit ini bertujuan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan dan menemukan solusi efektif untuk pengurangan konsumsi energi. Daman menambahkan, FIB akan mulai mengganti lampu konvensional dengan lampu LED. Lampu LED, yang dikenal karena efisiensi energi dan umur panjangnya, akan mengurangi konsumsi energi serta biaya pemeliharaan. Selain penggantian lampu, kedua, FIB Unpad juga akan mengimplementasikan sistem pencahayaan otomatis. Sistem ini menggunakan sensor gerak dan timer untuk memastikan pencahayaan hanya aktif saat diperlukan, sehingga mengurangi pemborosan energi. Pemanfaatan cahaya alami dari jendela dan skylight juga akan diperluas, mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan. Ketiga, pengelolaan sistem pendingin udara (AC) juga akan dioptimalkan. Suhu AC akan diatur pada tingkat optimal untuk menghindari penggunaan energi yang berlebihan. Selain itu, filter AC akan dibersihkan secara rutin, dan ventilasi alami akan dimanfaatkan untuk mengurangi kebutuhan pendinginan tambahan. Dengan melaksanakan langkah-langkah ini, FIB Unpad tidak hanya bertujuan untuk menurunkan biaya operasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada upaya keberlanjutan lingkungan. Inisiatif ini mencerminkan komitmen fakultas untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih ramah lingkungan dan efisien energi, serta menjadi contoh bagi institusi lain dalam menerapkan praktik keberlanjutan yang baik. Writer: Gilang Januarsyah

Scroll to Top