Author name: Ghina Nafsiya

Berita, SDG 2025

FIB Unpad Perkuat Implementasi SDG 5 melalui Program Perlindungan dan Edukasi Kesetaraan Gender

Thurfah Mahira Ahnaf Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung SDG 5 tentang kesetaraan gender melalui berbagai program perlindungan, pendampingan, dan edukasi. Upaya tersebut diwujudkan antara lain dengan peluncuran layanan ‘Halo Bu Dekan’ pada April 2022, yang menjadi kanal khusus bagi mahasiswa maupun sivitas akademika untuk melaporkan dugaan diskriminasi atau kekerasan seksual di lingkungan kampus, serta relevan dengan SDG 5.1 dan 5.2. Layanan ini menekankan pada kerahasiaan identitas pelapor, pemberian ruang aman, serta penyediaan fasilitas konsultasi dan pendampingan, sehingga pelapor tidak merasa terisolasi dalam prosesnya. Seiring meningkatnya kesadaran dan jumlah laporan, Universitas Padjadjaran memperkuat langkahnya dengan membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) yang memiliki mandat langsung dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Satgas ini bertugas menindaklanjuti laporan, melakukan investigasi, hingga menyiapkan rekomendasi penanganan. Pada tahun 2023 dan 2024, Satgas PPKS Unpad menambah jumlah personel untuk memastikan laporan dapat ditangani lebih cepat dan komprehensif, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media nasional. Satgas juga menjalin kerja sama erat dengan fakultas-fakultas, termasuk FIB, untuk memperkuat sistem pendampingan korban. Tidak hanya berhenti pada level struktural, Satgas PPKS Unpad dan FIB juga secara aktif melakukan edukasi publik melalui sosialisasi layanan pengaduan di FIB sejak 2022 atau forum diskusi yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan demi meningkatkan kesadaran. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya membekali sivitas dengan pemahaman hukum dan kebijakan, tetapi juga menanamkan perspektif keadilan gender dan pentingnya budaya saling menghormati di lingkungan kampus. Hal ini merupakan implementasi yang baik dari SDG poin 5.5. Komitmen ini kembali ditegaskan pada Pengenalan Mahasiswa Baru (PMB) Fakultas Ilmu Budaya 2025, di mana Ketua Satgas PPKS Unpad sekaligus Ketua Program Studi Sastra Inggris Unpad, Dr. Ari Jogaiswara Adipurwawidjana, M.A., hadir sebagai narasumber utama dalam sesi sosialisasi. Dalam kesempatan tersebut, Ari menekankan pentingnya mahasiswa baru memahami mekanisme pelaporan serta peran satgas dalam memberikan perlindungan. Ia juga menjelaskan bahwa mahasiswa tidak perlu khawatir identitasnya akan tersebar, karena kerahasiaan pelapor merupakan prinsip utama dalam penanganan kasus. Sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini bahwa kampus adalah ruang aman yang terbebas dari diskriminasi dan kekerasan. Kehadiran program “Halo Bu Dekan” di tingkat fakultas, diperkuat dengan kerja Satgas PPKS Unpad di tingkat universitas, membuktikan bahwa FIB dan Unpad berkomitmen membangun ekosistem pendidikan tinggi yang aman, inklusif, dan berkeadilan gender. Dengan konsistensi dalam menggelar kegiatan edukasi dan pendampingan sejak 2022 hingga 2025, FIB Unpad berkontribusi langsung pada pencapaian SDG 5, khususnya dalam memastikan akses yang setara bagi perempuan dan laki-laki, menghapus bentuk diskriminasi, serta menciptakan ruang belajar yang mendukung tercapainya pendidikan bermutu.

Berita, SDG 2025

Sastra Inggris Unpad Tembus Top 300 Dunia QS WUR by Subject 2025

Thurfah Mahira Ahnaf Universitas Padjadjaran kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Dalam pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2025 yang dirilis pada Kamis (6/3), enam bidang ilmu Unpad berhasil masuk daftar pemeringkatan dunia. Salah satu capaian terbaru datang dari bidang English Language and Literature yang untuk pertama kalinya berhasil menembus jajaran 301–350 dunia. Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, yang selama ini terus berupaya meningkatkan kualitas akademik, penelitian, dan relevansi lulusannya di dunia kerja. Capaian peringkat 301–350 dunia merupakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga menempatkan Sastra Inggris Unpad sejajar dengan sejumlah universitas ternama di dunia, seperti University of California at Riverside, Florida State University, Universiti Teknologi Malaysia, University of Surrey, dan University of Wollongong. Peringkat yang diraih ditentukan oleh sejumlah indikator, di antaranya reputasi akademik dan prospek kerja lulusan atau employability. Bagi Sastra Inggris Unpad, hasil ini menunjukkan masih adanya ruang untuk meningkatkan reputasi akademik, meski prospek kerja lulusan sudah cukup kuat dan beragam. Hal ini juga sejalan dengan rekam jejak Program Studi Sastra Inggris FIB Unpad yang dikenal sebagai prodi dengan jumlah peminat terbanyak di Fakultas Ilmu Budaya, sehingga memenuhi poin SDG 4.3. Prodi ini menghasilkan lulusan yang diserap di berbagai sektor, baik di lembaga pemerintah maupun swasta. Hal ini disebabkan oleh mahasiswa Sastra Inggris FIB Unpad yang dibekali dengan kompetensi interdisipliner, mulai dari kemampuan membaca kritis, analisis wacana, semiotika, kajian budaya, hingga pemanfaatan teknologi mutakhir. Kurikulum dirancang untuk mengasah kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap situasi global sekaligus menumbuhkan kontribusi nyata bagi masyarakat, sejalan dengan SDG poin 4.4 dan 4.7. Program Studi Sastra Inggris FIB Unpad sangat berkaitan dengan poin SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Kurikulum yang diterapkan berorientasi pada peningkatan kompetensi literasi, kritis, dan kreatif mahasiswa, serta menyediakan akses pendidikan interdisipliner yang relevan dengan kebutuhan global. Sastra Inggris Unpad juga berperan dalam menciptakan lulusan dengan daya saing tinggi yang tidak hanya mampu mengembangkan diri, tetapi juga berkontribusi pada masyarakat luas. Masuknya Sastra Inggris Unpad dalam pemeringkatan dunia menunjukkan bahwa program studi ini mampu bersaing secara internasional. Namun, tetap diperlukan adanya peningkatan reputasi akademik melalui publikasi riset berkualitas dan memperkuat jejaring global, sehingga dapat berkontribusi nyata pada pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan bermutu.

Berita, SDG 2025

Membangun Pembelajaran Hybrid, FIB Saling Memopong melalui Program “Laptop Bersama”

Jatinangor, 6 September 2025 — Program Studi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran memulai program peminjaman laptop bernama “Laptop Bersama.” Dengan sistem donasi laptop dari para dosen dan alumni, program ini bertujuan untuk mendukung mahasiswa dalam pembelajaran hybrid.  Nani Darmayanti, ketua program studi yang telah menjalankan program ini selama delapan tahun, mengatakan bahwa program ini berlanjut karena dilakukan dengan sistem donasi. “Para dosen yang memiliki laptop yang dipakai dan tidak lagi digunakan di rumahnya diserahkan ke program studi,” ujarnya. Mahasiswa kemudian dapat meminjam laptop tersebut, khususnya mereka yang sedang mengerjakan skripsi. Setelah mahasiswa selesai memakai, laptop tersebut dibalikkan ke program studi dan dipinjamkan ke mahasiswa berikutnya.  Kegiatan yang memanggul pembelajaran hybrid ini sudah berlanjut lebih dari delapan tahun dan diinisiasikan oleh para dosen di program studi Sastra Indonesia. Namun, tidak hanya dosen prodi Sastra Indonesia yang memberi konstribusi dalam program ini, tetapi para alumni FIB dan dosen-dosen dari fakultas lain juga turut menyumbang laptop mereka. Sampai sekarang, belasan laptop sudah disumbangkan oleh para donatur dan disalurkan ke mahasiswa. Keefektivitas program ini ditunjukkan pula oleh jumlah mahasiswa yang meminjam laptop, yaitu sekitar 5–10 mahasiswa pada setiap tahun. Program ini berhubungan pula dengan program “Dompet Bersama”. Tidak hanya dibantu dalam aspek pembelajaran hybrid, mahasiswa KIPK yang meminjam laptop dapat juga meminjam dana hingga Rp500.000 selama masa studi mereka. Dana ini kemudian dikembalikan saat beasiswa mereka cair.  Melalui program “Laptop Bersama” dan “Dompet Bersama,” Bu Nani berharap “akan lebih banyak lagi yang berdonasi ke depannya agar FIB dapat membantu mahasiswa yang membutuhkan bantuan dana dan fasiilitas yang mendukung.” Dengan kelengkapan fasilitas hybrid ini, FIB akan terus mengembangkan program-programnya dengan kreatif dan saling memopong. Mereka memiliki tujuan khusus di belakang rangkaian kegiatan dan program-programnya, yaitu untuk memopong seluruh kebutuhan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Red. Jauza Maryam Mumtazah

Berita, SDG 2025

Ruang Belajar Kreatif: Menggali Potensi lewat Wirausaha dan Pariwisata

Aliyah Zahra Saffanah Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bisa diaplikasikan di kehidupan nyata. Inilah yang menjadi landasan hadirnya mata kuliah Kewirausahaan dan Kepariwisataan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Kedua mata kuliah ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, mengenali potensi yang ada di sekitarnya, serta melatih diri agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan peluang ekonomi di masa depan. Pada mata kuliah Kewirausahaan, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai konsep dasar tentang dunia usaha. Mereka belajar memahami definisi dan prinsip-prinsip kewirausahaan, peran penting wirausaha, serta bagaimana sebuah ide bisa berkembang menjadi usaha yang bernilai. Materi yang diberikan juga mencakup keterampilan mengidentifikasi peluang, konsep dan perbedaan tipe-tipe kepemimpinan rencana pemasaran dan rencana bisnis, branding dan masih banyak lagi.  Selain itu, mahasiswa dikenalkan pada technopreneurship, yaitu pemanfaatan teknologi dalam membangun bisnis modern. Hal ini penting karena dunia usaha kini semakin lekat dengan perkembangan teknologi digital. Dengan pemahaman ini, mahasiswa tidak hanya mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga dibekali keberanian untuk menjadi pencipta lapangan kerja baru. Proses belajar di kelas ini menumbuhkan sikap percaya diri, kemandirian, dan kemampuan untuk mengambil keputusan, yang merupakan modal utama dalam dunia wirausaha. Di sisi lain, mata kuliah Kepariwisataan menghadirkan pengalaman belajar yang memperluas wawasan mahasiswa tentang salah satu sektor ekonomi yang strategis. Materi yang dibahas meliputi sejarah dan perkembangan pariwisata, jenis-jenis wisata, hingga strategi pengelolaan destinasi. Mahasiswa juga diajak untuk memahami bagaimana pariwisata berperan dalam pembangunan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan. Perkuliahan ini membekali mahasiswa dengan pemahaman komprehensif tentang pariwisata, mulai dari konsep dasar, sejarah, hingga strategi pengembangan destinasi. Di dalam materi juga dibahas aspek pemanduan wisata, sehingga mahasiswa mendapatkan gambaran bagaimana industri pariwisata seharusnya dijalankan. Dari pembahasan ini, mereka belajar melihat pariwisata tidak hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas budaya sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat. Metode pembelajaran di kedua mata kuliah ini berfokus pada diskusi kelas, studi literatur, serta penyelesaian tugas yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis. Penilaian pun tidak hanya bertumpu pada ujian akhir, tetapi juga mencakup partisipasi, presentasi kelompok, dan penyusunan tugas tertulis yang menuntut pemahaman mendalam terhadap materi. Dengan pendekatan ini, mahasiswa dibiasakan untuk tidak sekadar menerima teori, melainkan juga mengolah dan mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat. Kehadiran mata kuliah Kewirausahaan dan Kepariwisataan menunjukkan bagaimana perkuliahan bisa menjadi sarana untuk mempertemukan ilmu dengan kebutuhan praktis. Dari Kewirausahaan, mahasiswa belajar bagaimana sebuah ide dapat dirancang menjadi rencana usaha yang realistis. Dari Kepariwisataan, mereka memahami bagaimana potensi budaya dan pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas masyarakat. Kedua mata kuliah ini pada akhirnya memberi mahasiswa bekal penting untuk menghadapi dunia kerja, baik sebagai pencari kerja maupun pencipta peluang baru yang bermanfaat bagi banyak orang.

Berita, SDG 2025

Comfortable, Affordable, and Sustainable: Transportation Made Easy at Unpad

Jatinangor, September 3rd 2025— For many students and staff, the daily commute between Bandung and Jatinangor can feel like a journey of its own. Universitas Padjadjaran helps make this journey smoother by offering reliable and affordable transportation options that connect campuses and communities—while staying true to its vision of sustainability. The Metro Jabar Trans bus has become a trusted companion for those traveling between Unpad Dipatiukur in Bandung and Unpad Jatinangor in Sumedang. Operating from 4:30 AM to 20:10 PM, this service ensures that no matter how early or late your schedule is, there’s always a safe and comfortable ride available. The ticket prices are designed to be accessible for all. A standard one-way fare costs IDR 4,900, while students and senior citizens (60+) who have registered their data can enjoy a special fare of just IDR 2,000, helping them save on daily commuting costs. By offering affordable fares, this initiative not only eases the financial burden of commuting but also encourages the use of public transportation over private vehicles—helping to reduce traffic congestion and emissions. In addition to Metro Jabar Trans, the Damri Bus serves the Elang-Jatinangor route, giving students and staff more choices for eco-friendly transportation to campus. Even within the campus environment, Unpad provides Odong-odong, a free shuttle service that helps students and staff move easily from one faculty to another. This reflects Unpad’s ongoing commitment to accessibility and the well-being of its academic community.  These transportation services offer more than convenience; they are part of a broader effort to promote sustainable mobility and affordable energy access. Through these initiatives, Unpad not only provides practical solutions for its community but also contributes to a cleaner, greener future—one ride at a time. Jatinangor, September 3rd 2025— For many students and staff, the daily commute between Bandung and Jatinangor can feel like a journey of its own. Universitas Padjadjaran helps make this journey smoother by offering reliable and affordable transportation options that connect campuses and communities—while staying true to its vision of sustainability. The Metro Jabar Trans bus has become a trusted companion for those traveling between Unpad Dipatiukur in Bandung and Unpad Jatinangor in Sumedang. Operating from 4:30 AM to 20:10 PM, this service ensures that no matter how early or late your schedule is, there’s always a safe and comfortable ride available. The ticket prices are designed to be accessible for all. A standard one-way fare costs IDR 4,900, while students and senior citizens (60+) who have registered their data can enjoy a special fare of just IDR 2,000, helping them save on daily commuting costs. By offering affordable fares, this initiative not only eases the financial burden of commuting but also encourages the use of public transportation over private vehicles—helping to reduce traffic congestion and emissions. In addition to Metro Jabar Trans, the Damri Bus serves the Elang-Jatinangor route, giving students and staff more choices for eco-friendly transportation to campus. Even within the campus environment, Unpad provides Odong-odong, a free shuttle service that helps students and staff move easily from one faculty to another. This reflects Unpad’s ongoing commitment to accessibility and the well-being of its academic community.  These transportation services offer more than convenience; they are part of a broader effort to promote sustainable mobility and affordable energy access. Through these initiatives, Unpad not only provides practical solutions for its community but also contributes to a cleaner, greener future—one ride at a time. By Dilla Maharani Putri

Berita, SDG 2025

Learning Without Borders: FIB Unpad’s Global Academic Initiatives

Jatinangor, September 3rd 2025 — Over the past three years, the Faculty of Cultural Sciences (FIB) at Universitas Padjadjaran has hosted over 60 guest lectures and lecture series featuring international lecturers, researchers, and professionals from around the world. These sessions have become an invaluable platform for students and staff to engage with diverse perspectives, explore new ideas, and stay connected to global academic conversations. Covering topics ranging from literature, linguistics, and cultural studies to history and contemporary global issues, each lecture provides participants the opportunities to broaden their knowledge while sharpening critical thinking skills and deepening cross-cultural understanding. By making these lectures accessible not only to students but also to the wider community, FIB Unpad fosters an inclusive learning environment that bridges cultures and disciplines. The collaboration with global experts and partner institutions ensure participants gain access to world-class insights—without ever leaving campus. Beyond bringing world-class expertise to Jatinangor, FIB Unpad also consistently welcomes exchange students from around the globe. These students immerse themselves in Indonesian studies, focusing on Sundanese culture and the Indonesian language. At the same time, FIB Unpad empowers its local students to study abroad at partner universities, encouraging them to gain global perspectives and develop a truly international mindset. This consistent effort reflects FIB Unpad’s dedication and commitment to creating a vibrant academic atmosphere where learning goes beyond the classroom, inspiring students to embrace lifelong learning and global engagement. By Dilla Maharani Putri

Berita, SDG 2025

Students Help Hegarmanah Village Strengthen Sanitation Practices

Jatinangor, September 2nd, 2025 — In Desa Hegarmanah, Jatinangor, a group of Universitas Padjadjaran students spent the semester working side by side with local residents on something very down-to-earth: keeping water clean and homes healthy. The program, run with the village office and community leaders, focused on everyday habits that make a real difference for SDG 6—Clean Water and Sanitation.  The team met regularly with market vendors and families to talk about safe water use, waste disposal, and food-handling hygiene. “Most people already pay attention to what they cook and sell,” one student said, “but we talked about where the water comes from, how to keep it from getting contaminated, and small routines like washing hands at key times, that help stop disease.”  Workshops were practical and hands-on. Together with residents, the students showed how to separate greywater from drinking water, set up simple household filters, and organize neighborhood clean-up days to keep drains clear. Village leaders mapped out problem spots where trash and stagnant water collect, and the group drew up a maintenance schedule the community can keep going after the project wraps up.  An October follow-up will check how the changes are working and adjust the plan if needed. The students are also turning their field notes into a journal article so other villages can learn from Hegarmanah’s experience.  By linking local values of cleanliness with straightforward sanitation steps, the project proves that cleaner water and healthier surroundings don’t have to be complicated but just take shared effort and a bit of guidance. By Dhia Anaulva PutriFakultas Ilmu Budaya

Berita, SDG 2025

Pengkajian Budaya: Ruang Belajar Kesadaran Sosial dan Gender

Aliyah Zahra Saffanah Di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, mata kuliah Pengkajian Budaya menjadi salah satu ruang belajar yang mengasah kepekaan mahasiswa terhadap isu-isu sosial di sekitarnya. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai konsep penting seperti identitas, representasi, dan relasi kuasa, yang kemudian dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya persoalan tradisi atau kesenian, melainkan juga arena di mana nilai, ideologi, serta posisi individu dan kelompok dinegosiasikan. Salah satu fokus utama dalam perkuliahan ini adalah pembahasan mengenai identitas, termasuk bagaimana gender dibentuk dan dipahami dalam masyarakat. Mahasiswa diajak untuk melihat lebih jauh bagaimana perempuan maupun kelompok lain direpresentasikan dalam media, teks budaya, hingga praktik sosial. Lewat kajian ini, mereka belajar mengenali bias, stereotip, dan bentuk-bentuk ketidakadilan yang seringkali hadir secara tidak disadari. Tidak berhenti pada teori, mahasiswa juga dilibatkan dalam analisis budaya populer. Contohnya, fenomena komunitas hijabers yang memperlihatkan cara perempuan membangun identitas baru melalui gaya hidup dan media sosial. Atau film Black Panther, yang membuka diskusi tentang bagaimana kelompok minoritas dan tokoh perempuan dihadirkan dalam cerita global. Dari kajian semacam ini, mahasiswa bisa melihat bagaimana budaya bisa menjadi sarana penguatan sekaligus pembatasan bagi perempuan. Lebih dari sekadar pemahaman akademik, pengalaman belajar ini memberi mahasiswa bekal penting untuk bersikap lebih kritis terhadap isu kesetaraan. Mereka tidak hanya mempelajari bagaimana gender dikonstruksi, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu membaca realitas sosial dengan lebih tajam. Kesadaran semacam ini mendorong mahasiswa untuk menyadari pentingnya ruang yang adil dan setara bagi semua orang. Dengan demikian, Pengkajian Budaya tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa tentang teori dan praktik budaya, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan gender yang masih relevan hingga kini. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar bahwa kesetaraan bukanlah wacana abstrak, melainkan bagian nyata dari kehidupan yang perlu terus diperjuangkan.

Berita, SDG 2025

Pelatihan Menjahit: Membuka Ruang Kreatif bagi Perempuan

Aliyah Zahra Saffanah Pada pertengahan tahun 2025, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran menghadirkan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan menjahit. Program ini ditujukan bagi warga di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor dan berhasil menarik 15 peserta, sebagian besar perempuan, yang ingin mempelajari keterampilan baru sekaligus membuka peluang untuk menambah penghasilan. Pelatihan dibuka pada 20 April 2025 dan berlangsung secara rutin setiap hari Minggu mulai Juni hingga 13 Juli 2025. Selama kegiatan, peserta mendapatkan bimbingan langsung dari dua instruktur berpengalaman, Ibu Reni Taviriani dan Bapak Iwan Purnawan. Mereka tidak hanya mengajarkan dasar-dasar menjahit, seperti mengenal alat, cara menggunakan mesin, hingga membuat pola sederhana, tetapi juga mendampingi peserta dalam menghasilkan produk yang siap pakai. Bagi para perempuan yang mengikuti, kegiatan ini menghadirkan manfaat ganda. Di satu sisi, mereka memperoleh keterampilan teknis yang praktis dan bisa langsung digunakan. Di sisi lain, pelatihan menjahit membuka kesempatan untuk lebih mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial. Dengan bekal keterampilan ini, peserta dapat mencoba memulai usaha kecil, menjual produk buatan tangan, atau sekadar membantu memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Beberapa peserta masih berusia sangat muda sehingga belum memungkinkan menggunakan jarum atau mesin jahit. Untuk mereka, diberikan kursus menyulam sebagai alternatif yang lebih aman. Menjelang akhir kegiatan, pada 13 Juli 2025, hasil karya menyulam yang terbaik mendapatkan hadiah khusus sebagai bentuk apresiasi. Selain menjadi sarana belajar, pelatihan juga menjadi ruang interaksi sosial. Para peserta saling bertukar cerita, memberikan dorongan semangat, hingga menjalin relasi yang bermanfaat di luar kegiatan. Ruang bersama ini menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu mengembangkan potensi diri, terlepas dari keterbatasan yang ada. Inisiatif sederhana ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan tidak harus selalu melalui program berskala besar. Melalui keterampilan sehari-hari seperti menjahit, perempuan dapat memperoleh peluang baru untuk berkembang. Pelatihan menjahit di FIB Unpad menjadi contoh nyata bagaimana langkah kecil dapat membawa dampak besar dalam membuka jalan menuju kemandirian, kesejahteraan, dan kesetaraan bagi perempuan di tingkat komunitas.

Berita, SDG 2025

Enhancing Education Quality Through a Diverse and Well-Structured Curriculum

Jatinangor, September 2nd, 2025—In its commitment to improving the quality of education, the Faculty of Cultural Sciences at Universitas Padjadjaran requires students to take faculty-wide compulsory courses outside their own study programs. These courses cover a wide range of disciplines, including religion, civics, culture, philosophy, cultural diplomacy, tourism, entrepreneurship, and many more—each carefully designed with a detailed Rencana Pembelajaran Semester (RPS) or Semester Learning Plan to ensure effective delivery and absorption of knowledge. By offering this diverse curriculum, FIB demonstrates its dedication to fostering interdisciplinary understanding while enhancing educational quality. The courses are designed to equip students with not only academic and practical skills but also essential soft skills to thrive in various professional and global contexts. Each course is supported by a comprehensive and structured RPS, outlining clear learning outcomes, assessment methods, updated reference materials, and other key components. The presence of this framework underscores the faculty’s strong commitment to competency-based education and student-centered learning. FIB’s compulsory courses emphasize critical literacy, research skills, and cross-cultural understanding, reflecting the faculty’s dedication to providing students with accessible, high-quality education. The flexibility of the curriculum allows for a personalized and relevant learning experience, ensuring students can apply theoretical knowledge to real-world contexts. Through this approach, FIB Unpad aims to produce graduates who are well-prepared to contribute to the advancement of education and knowledge, both in Indonesia and on a global scale. Jatinangor, September 2nd, 2025—In its commitment to improving the quality of education, the Faculty of Cultural Sciences at Universitas Padjadjaran requires students to take faculty-wide compulsory courses outside their own study programs. These courses cover a wide range of disciplines, including religion, civics, culture, philosophy, cultural diplomacy, tourism, entrepreneurship, and many more—each carefully designed with a detailed Rencana Pembelajaran Semester (RPS) or Semester Learning Plan to ensure effective delivery and absorption of knowledge. By offering this diverse curriculum, FIB demonstrates its dedication to fostering interdisciplinary understanding while enhancing educational quality. The courses are designed to equip students with not only academic and practical skills but also essential soft skills to thrive in various professional and global contexts. Each course is supported by a comprehensive and structured RPS, outlining clear learning outcomes, assessment methods, updated reference materials, and other key components. The presence of this framework underscores the faculty’s strong commitment to competency-based education and student-centered learning. FIB’s compulsory courses emphasize critical literacy, research skills, and cross-cultural understanding, reflecting the faculty’s dedication to providing students with accessible, high-quality education. The flexibility of the curriculum allows for a personalized and relevant learning experience, ensuring students can apply theoretical knowledge to real-world contexts. Through this approach, FIB Unpad aims to produce graduates who are well-prepared to contribute to the advancement of education and knowledge, both in Indonesia and on a global scale. By Dilla Maharani Putri

Scroll to Top