Aliyah Zahra Saffanah
Di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, mata kuliah Pengkajian Budaya menjadi salah satu ruang belajar yang mengasah kepekaan mahasiswa terhadap isu-isu sosial di sekitarnya. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai konsep penting seperti identitas, representasi, dan relasi kuasa, yang kemudian dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya persoalan tradisi atau kesenian, melainkan juga arena di mana nilai, ideologi, serta posisi individu dan kelompok dinegosiasikan.
Salah satu fokus utama dalam perkuliahan ini adalah pembahasan mengenai identitas, termasuk bagaimana gender dibentuk dan dipahami dalam masyarakat. Mahasiswa diajak untuk melihat lebih jauh bagaimana perempuan maupun kelompok lain direpresentasikan dalam media, teks budaya, hingga praktik sosial. Lewat kajian ini, mereka belajar mengenali bias, stereotip, dan bentuk-bentuk ketidakadilan yang seringkali hadir secara tidak disadari.
Tidak berhenti pada teori, mahasiswa juga dilibatkan dalam analisis budaya populer. Contohnya, fenomena komunitas hijabers yang memperlihatkan cara perempuan membangun identitas baru melalui gaya hidup dan media sosial. Atau film Black Panther, yang membuka diskusi tentang bagaimana kelompok minoritas dan tokoh perempuan dihadirkan dalam cerita global. Dari kajian semacam ini, mahasiswa bisa melihat bagaimana budaya bisa menjadi sarana penguatan sekaligus pembatasan bagi perempuan.
Lebih dari sekadar pemahaman akademik, pengalaman belajar ini memberi mahasiswa bekal penting untuk bersikap lebih kritis terhadap isu kesetaraan. Mereka tidak hanya mempelajari bagaimana gender dikonstruksi, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu membaca realitas sosial dengan lebih tajam. Kesadaran semacam ini mendorong mahasiswa untuk menyadari pentingnya ruang yang adil dan setara bagi semua orang.
Dengan demikian, Pengkajian Budaya tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa tentang teori dan praktik budaya, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan gender yang masih relevan hingga kini. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa belajar bahwa kesetaraan bukanlah wacana abstrak, melainkan bagian nyata dari kehidupan yang perlu terus diperjuangkan.
