Berita

Berita

FIB UNPAD KEMBALI DIPERCAYA MENANGANI PENERIMA BEASISWA LPDP

Senin (27-04-2015) Faklultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran kembali menerima kepercayaan dari Lembaga Pengelola Dana  Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Republik Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris para mahasiswa penerima Beasiswa LPDP. Menurut Kepala Divisi Penyaluran Dana Kegiatan Pendidikan LPDP Rumtini kali ini merupakan kali kedua pihak LPDP menitipkan para penerima Beasiswa LPDP ke FIB UNPAD. Sebelumnya sebanyak dua kelas (42 orang) mahasiswa penerima beasiswa LPDP (sedang) menjalani pendidikan khusus peningkatan kemampuan bahasa Inggris di Pusat Bahasa FIB UNPAD. Kepada para penerima Beasiswa LPDP Rum (Rumtini) mengharapkan agar dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya apalagi reputasi dari Pusat Bahasa FIB UNPAD ini sudah tidak diragukan lagi.     Sementara Dr. Mumuh Muchsin Z., M.Hum. (Wakil Dekan I FIB UNPAD) dalam sambutannya menyatakan sangat bangga menerima kepercayaan LPDP apalagi yang menjadi mahasiswa binaannya merupakan utusan dari berbagai daerah. Selain itu Mumuh berpesan kepada para pengajar agar lebih sungguh-sunguh menghadapi para penerima beasiswa LPDP ini karena mereka merupakan anak-anak pilihan yang diharapkan bisa membangun daerahnya. Di akhir sambutan Wakil Dekan Satu FIB UNPAD ini atasa nama Dekan FIB UNPAD secara resmi menerima 21 orang penerima LPDP untuk mengikuti pendidikan khusus peningkatan kemampuan Bahasa Inggris. (rat/JHS)

Berita

Pusat Bahasa FIB Unpad dipercaya untuk Melatih Kemampuan TOEFL Penerima Beasiswa LPDP Se-Indonesia

Senin (9/3/2015) Pusat Bahasa FIB Unpad kembali mendapat kepercayaan untuk mendidik calon-calon penerus bangsa yang tergabung dalam penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).  Kepercayaan tersebut digelar dalam acara serah terima peserta penerima beasiswa LPDP untuk pelatihan TOEFL di Pusat bahasa FIB Unpad.  Sebanyak 42 peserta yang sebagain besar berasal dari Timur Indonesia ini dipercayakan kepada Pusat Bahasa FIB Unpad untuk dilatih kemampuan berbahasa Inggrisnya. Pemilihan FIB Unpad untuk menangani penerima beasiswa LPDP dari wilayah Timur Indonesia ini tidak lepas dari prestasi yang diperlihatkan oleh Pusat Bahasa FIB Unpad akhir-akhir ini. Prestasi tersebut di antaranya mendapat kepercayaan untuk melakukan pengujian kemampuan Bahasa Inggris di Universitas Karimun Kepulauan Riau, Sekoad TNI AD, Bank Jabar Banten, BAPENAS dan instansi lainnya. Dalam Sambutannya Rusmini dari LPDP mengatakan para penerima LPDP dari Timur Indonesia ini ibarat mutiara-mutiara hitam yang tidak ternilai harganya. Diharapkan setelah mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi melalui Beasiswa LPDP dan mendapat sentuhan dari Pusat Bahasa FIB Unpad mereka dapat mengembangkan dan mengangkat potensi daerahnya sehingga menjadi lebih maju lagi. Sementara Wakil Dekan I FIB Unpad Dr. Mumuh Muchsin, M.Hum. mengatakan FIB merasa bangga mendapat kepercayaan seperti ini. Apalagi dalam hal ini FIB dipercaya untuk menangani aset-aset bangsa yang ke depannya akan  menentukan masa depan Indonesia.          Para mahasiswa penerima Beasiswa LPDP ini akan dilatih selama 4 bulan di Pusat Bahasa FIB Unpad dengan materi-materi yang dapat meningkatkan kemampuan para peserta dalam menghapi TOEFL. Hal serupa juga pernah dilakukan pada para peserta dari BAPENAS dan hasilnya cukup memuaskan. Teknis pelaksanaanya ke-42 peserta ini akan dibagi menjadi dua kelas dan dilatih oleh dosen-dosen dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unpad.  (rat/jhs)  

Berita

SEJARAH KAUM TERPINGGIRKAN (Diskusi Selasa, 24 Februari 2015)

Diskusi tentang Orang-orang yang Terbuang Pasca 1965 dan Bedah Buku Nasib Manusia karya Syarif Maulana Hari/Tanggal   : Selasa, 24 Februari 2015 Waktu                : 13.00 – 15.30 WIB Pembicara        : Syarif Maulana (penulis buku Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom) Taufiq Hanafi (dosen Sastra Inggris FIB Unpad, pengkaji sastra bandingan lulusan University of Oregon) Tempat             : Aula Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung-Sumedang Km 21 Jatinangor, Sumedang   Jika kita ingin mengetahui fakta-fakta tentang suatu perusahaan, siapa yang hendak kita tanyai, apakah orang yang menjabat di posisi direktur, atau orang yang bekerja sebagai satpam atau cleaning service? Dengan mudah, mungkin kita bisa menjawab yang pertama. Mengapa? Karena bagaimanapun, direktur tahu tentang sejarah, visi misi, kebijakan, problem, hingga profit perusahaan, secara detil dan mendalam. Satpam atau cleaning service? Mereka mungkin hanya tahu ruang lingkup pekerjaan dirinya, dan kebijakan-kebijakan yang bersifat pragmatis –terkait langsung dengan hajat hidupnya sendiri, seperti gaji atau bonus-. Namun jika hendak ditelaah dari sudut pandang lain, bisa jadi seorang satpam atau cleaning service punya pandangan yang lebih luas tentang suatu perusahaan. Dengan hanya mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, ia bisa menemukan hal-hal yang tidak terduga –yang tidak mungkin dipaparkan oleh seorang direktur-. Misalnya, kenyataan bahwa sepanjang satpam bekerja, gaji selalu terlambat dibayarkan. Belum lagi, gaji tersebut dipotong sekian persen oleh alasan yang tidak ia pahami. Bahkan seorang cleaning service bisa saja memergoki sekumpulan staf perusahaan yang tertidur atau merokok di ruang kerjanya masing-masing, ketika bos-bos mereka sedang tidak di tempat. Artinya, lewat sudut pandang satpam atau cleaning service, kita bisa menemukan fakta yang lain, yang justru lebih indrawi dan terkait dengan pengalaman, daripada pandangan seorang direktur yang cenderung berlandaskan data-data yang kaku dan ideologi yang sempit. Apa yang dipaparkan di atas adalah ilustrasi dari apa yang dikatakan oleh sejarawan Prancis, Lucien Febvre sebagai “Histoire vue d’en bas en non d’en haut” (“Sejarah yang dilihat dari bawah dan bukan dari atas”). Howard Zinn kemudian memperkuat ucapan Febvre tadi dalam pernyataannya, “Di dunia yang penuh konflik antara yang kuat dan yang lemah, yang menindas dan yang ditindas ini, ada baiknya kita tidak melihat sejarah dari sisi para eksekutor, melainkan justru dari mereka-mereka yang dieksekusi.” Sesuai apa yang dikatakan Zinn, dalam diskusi kali ini, kita akan membicarakan sejarah dari sudut pandang orang-orang yang dieksekusi. Kita sama-sama tahu bahwa Indonesia mengalami gejolak politik serius di tahun 1965. Terdapat peristiwa G 30 S yang berisi pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat, dalam rangka kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Peristiwa G 30 S tersebut, berpuluh tahun lamanya, dipropagandakan sedemikian rupa oleh pemerintahan Orde Baru, sebagai ulah orang-orang berideologi komunisme -maka itu segala bentuk ajaran komunisme dilarang di Tanah Air, bahkan hingga sekarang-. Namun tidak banyak orang tahu, bahwa sebenarnya, Orde Baru melakukan tindak kekerasan luar biasa terhadap orang-orang yang berafiliasi dengan komunisme. Kekerasan tersebut bentuknya beragam, mulai dari melakukan pembantaian secara langsung, membuangnya ke Pulau Buru, hingga melarang pulang mereka yang sedang studi di negara lain -terutama negara-negara komunis seperti Tiongkok dan Uni Soviet-. Awal Uzhara adalah salah satu orang yang dieksekusi oleh Orde Baru dengan cara yang terakhir. Berangkat ke Moskow dalam rangka sekolah film, ia dinyatakan tidak boleh pulang pada tahun 1968 -sehingga harus tinggal di sana selama lebih dari lima puluh tahun-. Meski terpinggirkan dalam sejarah, Awal tidak begitu saja menyerah. Di tahun 1990-an, ia mengajar bahasa dan sastra Indonesia untuk para mahasiswa Rusia di Universitas Negeri Moskow. Hal tersebut seolah menegaskan bahwa meski ia terpinggirkan, ia ingin tetap menjadi bagian dari perjalanan negeri ini. Dalam diskusi kali ini, kita akan membahas tentang orang-orang yang terpinggirkan oleh sejarah, terutama kaitannya dengan Indonesia pasca 1965, bersama Taufiq Hanafi yang merupakan pengkaji sastra bandingan lulusan University of Oregon. Selain itu, dengan metode history from below, mungkin kita bisa menemukan banyak fakta menarik tentang sejarah Indonesia, dari perjalanan hidup Awal Uzhara yang tertuang dalam buku Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang -yang ditulis oleh Syarif Maulana-. (release (Sandya Maulana)/rat)

Berita

FIB kembali menjadi tempat student exchange and discovery Waseda University

Senin (16-02-2014) Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. kembali menerima 8 orang mahasiswa dari  Waseda University. Kunjungan tersebut dalam rangka student exchange and discovery Waseda University di FIB Unpad khususnya di Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang. Mahasiswa yang terdiri dari 3 orang mahasiswa program pascasarjana dan 5 orang mahasiswa program sarjana tersebut akan berada di FIB selama 2 minggu ke depan. Dalam peneriamaannya Dekan menjelaskan tetang Fakultas Ilmu Budaya secara umum dan juga meminta masing-masing peserta student exchange and discovery Waseda University untuk memperkenalkan diri.    Student exchange and discovery Waseda University ini sudah berlangsung sejak tahun 2013 dan kunjungan hari ini merupakan kunjungan yang ke-4. Para mahasiswa Waseda University ini akan diberi kesempatan untuk kunjungan ke kelas di Prodi. Bahasa dan Sastra Jepang mendampingi dosen mengajar. Menurut salah seorang dosen Prodi. Bahasa dan Sastra Jepang Risma Rismelati M.A. biasanya para mahasiswa  student exchange and discovery ini akan diberikan kesempatan untuk berinteraksi bersama para mahasiswa baik di kelas maupun di luar kelas. Sementara untuk mahasiswa  Prodi. Bahasa dan Sastra Jepang kesempatan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk melatih percakapan mereka dalam berbahasa Jepang. Selain itu dengan berinteraksi langsung dengan orang Jepang menurut Risma diharapkan dapat menambah motivasi mahasiswa untuk lebih giat lagi belajar bahasa Jepang. (rat/JHS)  

Berita

Sosialisasi Calon Rektor Unpad

Jumat (16-1-2015) Aula PSBJ FIB Unpad dikunjungi para peserta  Sosialisasi Strategi dan Program Kerja Para Calon Rektor Universitas Padjadjaran Periode 2015-2019. Acara yang berlangsung mulai pukul 8.30 WIB tersebut menampilkan 7 calon rektor hasil seleksi panitia Pemilihan Rektor Unpad. Dipandu Dekan FIB Drs. Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. satu perstu para calon rektor memaparkan strategi dan program kerjanya jika terpilih nanti. Para calon rektor tersebut adalah: Prof. Dr. Ir. H. Denny Kurniadie, M.Sc., dari Fakultas Pertanian. Prof. Dr. Ir. Elin Harlia, M.S., dari Fakultas Peternakan Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S., dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Prof. Dr. Ir. Hendarmawan, M.Sc., dari Fakultas Teknik Geologi. Prof. Dr. Ina Primiana, S.E., M.T., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., M.SIE., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr., dari Fakultas Kedokteran.                              ————–                  ————– Berbeda dengan di tempat sosialisasi lainnya, para calon rektor ini selain memaparkan strategi dan program kerja juga menyingung mengenai pengembangan budaya Sunda sebagai ciri khas dari Unpad. Peserta yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa dan alumni dari FIB, FISIP dan FIKOM ini tampak antusias mengikuti pemaparan dari para kandidat. Hal ini salah satunya diperlihatkan dengan banyaknya penanya pada sesi tanya jawab. Namun Drs. Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. sebagai moderator terpaksa harus membatasinya mengingat waktu yang disediakan cukup terbatas.      Setelah melakukan sosialisasi di Aula PSBJ FIB Unpad para calon rektor ini masih harus mengikuti beberapa agenda sosialisasi lainnya sebelum masuk kepada tahap pemilihan. (rat/JHS/Edkar)  

Scroll to Top