Author name: Ghina Nafsiya

Berita

Kampanye Pencegahan Diabetes Mellitus oleh Padjadjaran Nursing Corps

Jatinangor, 16 November – Salah satu organisasi di bawah BEM Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Padjadjaran Nursing Corps berpartisipasi dalam kampanye dunia tentang pencegahan Diabetes Mellitus (DM) dengan mengadakan kegiatan screening risiko DM, edukasi, photo booth dengan clue circle, dan pengumpulan dana untuk penderita DM. Kegiatan ini juga digelar sebagai bagian dari memperingati “World Diabetes Day” setiap tanggal 14 November. Kegiatan positif yang didukung penuh oleh Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas lainnya di Unpad ini diikuti oleh sebanyak 138 pengunjung, mulai dari tanggal 9 hingga 14 November yang lalu di Gerbang Lama Unpad.   Berdasarkan screening berdasarkan usia, indeks masa tubuh, riwayat keluarga DM, riwayat hipertensi, riwayat gula darah tinggi, pola diet dan kebiasaan olahraga dari 138 pengunjung, telah diketahui bahwa 70% diantaranya memiliki risiko DM pada kategori rendah, 24% mengalami sedikit peningkatan risiko DM, 4% risiko menengah, dan 2% risiko tinggi DM sangat tinggi.  Sebagian besar orang masih memiliki risiko DM rendah, namun tidak menjamin mereka tidak berisiko. Lalai menjaga diet, olahraga, dan pola hidup sehat lainnya, akan memungkinkan terjadinya risiko DM yang lebih tinggi. Di lain sisi, sebagian besar pengunjung mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya mengetahui risiko DM dan upaya pencegahan DM. Bahkan, penelitian pada keluarga penderita DM yang pada dasarnya berinteraksi langsung dan terpapar dengan penderita DM juga menunjukkan hasil yang kurang lebih sama bahwa mereka tidak sepenuhnya melakukan perilaku pencegahan yang diharapkan, seperti memeriksa gula darah, menjaga diet, dan melakukan olahraga secara teratur. Ditambah lagi, sebagian besar masyarakat masih memiliki keyakinan bahwa DM hanya diderita oleh “orang tua”. Padahal jika berpacu kepada data, diabetes juga banyak ditemukan di kalangan anak-anak dan remaja yang disinyalir berhubungan erat dengan banyaknya temuan obesitas pada balita dan anak-anak. Data ini memperkuat mengenai pentingnya tindak lanjut berupa peningkatan intensitas upaya edukasi dan screening guna meningkatkan kesadaran semua pihak pentingnya upaya pencegahan.  Di Indonesia, upaya pencegahan masih merupakan tantangan berat. Kebiasaan masyarakat yang menunggu sakit (muncul gejala) terlebih dahulu dan akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke puskesmas/rumah sakit, menjadikan masyarakat merasa aneh, apabila dalam kondisi “sehat”, namun diminta melakukan pemeriksaan kesehatan. Merubah kebiasaan tidak selalu mudah.  Hingga saat ini, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) terbanyak di dunia dan diperkirakan bahwa jumlah penderita DM akan terus meningkat, bahkan pada usia yang lebih muda.  Data juga menunjukkan, banyak penderita DM yang terlambat terdiagnosa, bahkan banyak di antara mereka yang terdiagnosa secara tidak sengaja atau setelah mengalami komplikasi. Kondisi ini menyebabkan upaya penanganan dan pencegahan komplikasi lebih sulit dan cenderung tidak efektif. Selain jumlah yang terus meningkat, DM juga dikenal banyak menimbulkan dampak negatif baik secara fisik, psikis, sosial-spiritual, maupun finansial, baik untuk pasien maupun keluarga. Melihat berbagai hal tersebut, diharapkan dengan adanya kampanye ini, setiap individu menyadari secepat mungkin pentingnya melakukan pengecekan tingkat risiko DM yang dengannya mereka dapat mengambil upaya penanganan ataupun menjaga pola hidup sehat. Jika kesadaran ini muncul di masyarakat, maka diagnosa yang terlambat dan komplikasi akibat DM dapat ditekan.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad Ajak Masyarakat Lakukan Reboisasi dan Pemeliharaan Lingkungan

Ekosistem yang sehat merupakan salah satu penunjang kehidupan berkelanjutan. Namun, seringkali banyak aktivitas manusia yang justru berakibat fatal pada keberadaan ekosistem tersebut. Salah satunya adalah peristiwa kebakaran hutan yang pernah terjadi di Gunung Geulis, yang diakibatkan oleh musim kemarau dan ulah manusia.  Menanggapi peristiwa tersebut, Kementerian Sosial dari LK Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menyelenggarakan sebuah program kerja bertemakan “Sewagati”. Kata tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “pengabdian”. Adapun program ini telah dilaksanakan sejak tiga tahun lalu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penanaman 50 jenis bibit pohon, seperti pohon mahoni dan pohon manglid.  Pada tahun ini, Sewagati berbentuk penghijauan kembali hutan Gunung Geulis pada Minggu (29/10/2023) di Desa Jatimukti. Kegiatan tersebut turut memberdayakan masyarakat desa untuk berpartisipasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat Desa Jatimukti dapat memahami dan peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat menghindari hal-hal yang berpotensi merusak lingkungan.  Kegiatan Sewagati 2023 mengusung jargon #MariHijaukanKembali. Hal tersebut berangkat dari keresahan masyarakat atas insiden kebakaran Gunung Geulis.  Dalam kegiatannya, para mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad bekerja sama dengan Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis. Hal ini dikarenakan kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya reboisasi, melainkan juga dengan upaya pemeliharaan yang berkelanjutan.  Program Sewagati sejatinya seturut dengan salah satu prinsip Tridharma Perguruan Tinggi yang berbentuk pengabdian sosial. Adapun kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis, Saepudin, serta beberapa media partner Sumedang.  Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sebagai kegiatan “budaya lingkungan”, sebuah budaya baik dalam menghargai alam dengan melestarikan alam.  Saepudin mengungkapkan apresiasinya terhadap program yang dijalankan oleh para mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad tersebut. Hal ini karena menurutnya masyarakat sudah kurang memperhatikan kelestarian lingkungan.  “Nah, dengan adanya kegiatan mahasiswa ini diharapkan menjadi embrio bagi masyarakat lain khususnya mereka yang berada di bawah tegakan atau di bawah perbukitan agar peduli dan mau terjun dalam upaya penghijauan. Namun, perlu digarisbawahi jangan hanya seremonial saja menanam pohon terus difoto. Selanjutnya dibiarkan begitu saja, harus ada upaya pemeliharaan atau perawatan pohon. Apalagi sekarang kan musim kemarau yang harus dijaga asupan airnya,” tuturnya. Melalui program Sewagati yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unpad dapat menjadi inspirasi bagi kegiatan lain, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat agar dapat lebih peka dalam memperbaiki kondisi ekosistem. Sebab keberlangsungan hidup yang akan datang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan saat ini.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Kurangi Jumlah Limbah Gelas Plastik, Mahasiswa Unpad Kembangkan Gelas dari Kulit Biji Kopi

Pemanfaatan barang sekali pakai nyatanya masih menjadi persoalan yang kerap kali ditemui dalam masyarakat. Tidak jarang hal ini menimbulkan berbagai macam permasalahan terkait sampah yang berpotensi merusak lingkungan.  Hal ini menjadi salah satu perhatian anak muda saat ini untuk dapat berinovasi dalam memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Sejalan dengan itu, sekelompok mahasiswa Universitas Padjadjaran berinisiasi untuk memanfaatkan kulit biji kopi menjadi gelas yang dapat dikonsumsi. Para mahasiswa tersebut adalah Ardhia Pramesti, Widya Silva Gramita, Sabrina Maharani Putri, Afina Viany Judawisastra, dan Fahruni Alya Jasminea Bayuaji. Mereka semua berasal dari latar belakang jurusan yang sama, yaitu Teknologi Pangan.  Pengembangan produk ramah lingkungan yang dikembangkan oleh para mahasiswa Unpad bernama “Scara Cup” tersebut berdasar pada riset, pengetahuan, dan pengalaman belajar yang telah diterima selama kuliah. Inovasi ini menjadi salah satu upaya Unpad dalam mengurangi penggunaan barang sekali pakai, seperti gelas plastik. Selain kulit biji kopi, para inovator turut menggabungkan beberapa produk alami lain, seperti tepung terigu, telur, gula, butter, dan cokelat yang berfungsi agar cairan tidak menembus gelas.  Salah seorang anggota tim, Widya Silva Gramita menjelaskan bahwa kulit biji kopi bermanfaat sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Hal ini merupakan sebuah sisi positif yang tidak banyak orang sadari.  “Pembuatan Scara Cup bertujuan untuk mencegah pencemaran limbah, di mana kulit biji kopi bisa menyebabkan pencemaran limbah organik yang besar,” tambah Widya melalui penjelasan tertulisnya.  Pengembangan Scara Cup sebagai upaya mengurangi penggunaan produk sekali pakai turut didukung dengan sebuah fakta menarik bahwa inovasi ini juga dapat menjadi camilan yang mengenyangkan. Dengan keunikannya ini, Scara Cup sukses memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-H) Kemendikbudristek.  Keunikan Scara Cup juga terdapat pada sisi ketahanannya yang tergolong baik. Jika produk ini diisi dengan cairan bersuhu normal, maka dapat bertahan hingga 6 jam. Sementara jika diisi dengan cairan air bersuhu tinggi, Scara Cup mampu bertahan selama 30 menit.  Beragam upaya dilakukan para mahasiswa Unpad untuk dapat mempromosikan produk ramah lingkungan ini, seperti mengikuti pameran bertema lingkungan, membuka pre-order melalui laman media sosial Instagram @scara.cup hingga mengadakan kerja sama dengan berbagai kedai kopi.  Seorang anggota mahasiswa pengembang produk, Ardhia Pramesti menyatakan bahwa target konsumen Scara Cup, yaitu masyarakat yang memiliki ketertarikan pada kopi dan mereka yang sadar, serta ingin berkontribusi untuk mengatasi masalah lingkungan.  “Harapannya, kami ingin Scara Cup dikenal lebih oleh masyarakat luas. Kami juga ingin jangkauan pemasarannya lebih luas, tidak hanya di Jatinangor dan sekitarnya saja,” jelasnya lebih lanjut.  Perbaikan atas masalah lingkungan sejatinya menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Melalui pengembangan produk yang berasal dari limbah ini, Fakultas Ilmu Budaya dan segenap fakultas lain di Universitas Padjadjaran berkontribusi secara aktif dalam mengurangi penggunaan produk sekali pakai.   Red. Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Faperta Bersama Desa

Jatinangor, 27 Oktober – Mahasiswa memiliki empat peran penting yang merupakan harapan dari masyarakat, yaitu peran sebagai agent of change, social control, iron stock dan moral force. Sebagai agent of change, mahasiswa merupakan penggerak masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Mahasiswa dapat menjadi pelopor kemajuan melalui pengetahuan, ide, dan keterampilan yang dimilikinya. Oleh karena itu, sebagai tempat untuk menyemai benih-benih pelopor kemajuan, perguruan tinggi mempunyai peranan penting untuk berkomitmen dan memahami persoalan masyarakat sekitar secara nyata, khususnya masyarakat pedesaan yang dapat mempunyai potensi untuk berkembang.  Dengan maksud menjawab dan mencari solusi dari asesmen keluhan masyarakat, sekaligus merealisasikan peran sebagai agent of change, BEM KMFP Unpad mengadakan salah satu program kerjanya yang bernama “Faperta Bersama Desa” sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan desa.  Program positif ini mendapat dukungan penuh dari berbagai fakultas di Unpad, salah satunya Fakultas Ilmu Budaya.  Kegiatan ini merupakan sosialisasi kepada masyarakat, dengan berisikan konten atau pelatihan tentang bagaimana mengatasi permasalahan dalam masyarakat yang berkaitan dengan pertanian, dengan tujuan untuk mengangkat potensi dan keadaan desa yang berfokus pada pembinaan kelompok masyarakat serta pengembangan desa binaan Fakultas Pertanian Unpad.  Minggu (10/10), BEM KMFP Unpad bersama Klinik Tanaman (Klintan) Unpad melakukan survey lahan cabai di Desa Jatimukti, sekaligus mendiskusikan permasalahan yang menyerang komoditas utama Desa Jatimukti bersama dengan Ketua Kelompok Tani Muktisari Desa Jatimukti, pak Bandi. Alhasil ditemukan bahwa permasalahan yang menyerang komoditas utama Desa Jatimukti berasal dari lalat buah yang menyerang buah-buah cabai. Kemudian pada Sabtu (16/10), BEM KMFP Unpad dan Klintan melakukan penyuluhan kepada para petani Desa Jatimukti berupa pematerian dan praktik tentang bagaimana membuat perangkap lalat buah dengan menggunakan kandungan Metil Eugenol.  Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan hubungan antara masyarakat dan Civitas Akademika Unpad (khususnya Fakultas Pertanian Unpad) semakin erat satu sama lain. Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, khususnya Kelompok Tani Muktisari di Desa Jatimukti. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Menyambut Piala Dunia U-20, Stadion Unpad Mempersiapkan Diri

Jatinangor, 24 Oktober – Dalam menyambut gelaran Piala Dunia U-20, Stadion Jati Universitas Padjadjaran (Unpad) Kabupaten Sumedang melakukan pembenahan. Stadion Jati Unpad ini merupakan salah satu stadion yang masuk dalam lapangan penyerta sebagai tempat latihan sejumlah negara bersama lapangan di IPDN (Kab. Sumedang), Stadion Sidolig (Kota Bandung), dan lapangan Sabilulungan (Kabupaten Bandung). Kepala Kantor Komunikasi Publik Universitas Padjajaran (Unpad) Dandi Supriadi mengatakan dari hasil koordinasi terakhir bersama Kemenpora dan PUPR, terdapat beberapa catatan dan akan segera direnovasi. Dandi mengatakan pertama rumput akan diganti, kemudian tempat duduk penonton, disusul dengan ruang ganti pemain.  Ia juga mengatakan bahwa Stadion Jati sudah berstandar Internasional karena pernah digunakan sebagai lokasi latihan untuk Asian Games 2018. Maka dari itu, renovasi tidak dimulai dari nol dan hanya tinggal memperbaiki agar sesuai seperti yang diminta FIFA. “Jadi apa yang diminta sekarang akan direnovasi, dan semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah lewat PUPR. Fokusnya yaitu mengganti rumput. Bukan berarti rumput sekarang jelek, tapi mereka (FIFA) memang harus mempertahankan standar kualitas, ” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mungkin renovasi dari Stadion Jati akan dilakukan bulan depan.  Sementara itu Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang menyambut baik rencana dari penggunaan dua stadion yang berada di wilayahnya. Kepala Dinas Disparbudpora Hari Santosa mengatakan Pemkab Sumedang belum mengetahui secara rinci apa yang akan diperbaiki di dua lapangan tersebut. Namun dengan terpilihnya Stadion IPDN dan Stadion Jati Unpad, Kabupaten Sumedang dapat diperkenalkan ke mata dunia. Hari mengatakan bahwa kemarin hanya terdapat pemberitahuan mengenai dua lapangan yang ditunjuk sebagai tempat latihan dari sekian lapangan, dan tentunya hal ini menjadi sebuah kesempatan untuk dikenal, dikarenakan kemungkinan besar, banyak orang akan hadir di lokasi. Menurutnya, peluang inilah yang perlu disikapi secara sungguh untuk kedepannya.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Kurangi Tingkat Kelaparan, Mahasiswa Unpad Beri Beasiswa Makan bagi Kalangan Tidak Mampu

Jatinangor, Jawa Barat – Makanan dan minuman menjadi suatu kebutuhan primer bagi setiap makhluk hidup. Akan tetapi, tidak semua orang mampu menjangkau hal tersebut. Salah satu faktornya, yaitu karena ekonomi.  Menyadari kenyataan kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Padjadjaran, Nur Rachman, yang akrab disebut “Ray” membuka peluang yang memungkinkan semua orang, termasuk mahasiswa dan masyarakat sekitar dapat makan dengan membayar seikhlasnya. Hal ini dilakukannya dengan membuka sebuah rumah makan yang diberi nama “Surga Dunia”. Adapun visi yang diangkatnya, yaitu “Indonesia Anti Kelaparan”. Dengan ini, Ray berharap dapat memberi makan kepada kalangan tidak mampu.  “Biasanya teman-teman di akhir bulan suka susah makan karena kehabisan uang. Minimal kita bantu mereka daripada membantu dengan cara mentraktir dan menjadi ketergantungan,” ungkap Ray kepada Humas Unpad pada Kamis (23/10).  Bisnis yang dikembangkan oleh Ray ini telah mengalami pasang dan surut. Sejak dibuka tahun 2012, Ray kerap berusaha untuk menarik para investor agar yakin dengan konsep rumah makan yang diusungnya tersebut. Namun, setelah 3 bulan berjalan, bisnisnya ini mengalami kerugian karena ketidakjujuran para pengunjung. Rumah makan yang ditujukan untuk membantu kaum papa, alih-alih justru dimanfaatkan oleh pengunjung yang mampu dengan membayar sesukanya.  Meskipun mengalami kerugian karena hal tersebut, Ray bersama ketiga temannya tidak hilang akal untuk tetap membantu. Mereka kerap mengkaji dan mengevaluasi konsep rumah makan “Surga Dunia” tersebut. Hal tersebut membawa mereka kepada metode baru dengan menerapkan waktu tertentu untuk dapat membayar sesukanya. Namun, hal ini tetap tidak berjalan optimal, sehingga Ray memutuskan kepada pengunjung untuk membayar sesuai harga yang telah ditetapkan. Kendati demikian, Ray tetap dapat membantu kalangan tidak mampu dengan memberi “beasiswa makan”.  “Untuk yang gak mampu tinggal daftar ke kita, sehingga kita seperti memberi beasiswa makan. Mereka tinggal daftar, isi formulir dan mengajukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan kita akan kasih Kartu Anti Kelaparan. Jadi segmentasinya menjadi lebih jelas”, ungkapnya.  Konsep “berbisnis sambil beramal” nyatanya mampu membawa Ray meraih Juara I Tingkat Nasional kategori Industri dan Boga pada ajang Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional yang diadakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Ray mengaku bahwa konsep rumah makan demikian menjadi satu-satunya di kawasan Asia saat itu.  Dari bisnis industri yang telah dilakukannya, Ray mengaku bahwa ia sangat menikmati usahanya. Ia menjelaskan bahwa hal ini dapat merealisasikan tujuannya untuk membantu mahasiswa, staff, maupun masyarakat yang tidak mampu dengan ikhlas. Program-program yang turut berkontribusi pada pengentasan kemiskinan diharapkan semakin luas dan mampu merealisasikan fungsinya sesuai target. Hal ini merupakan langkah yang tepat dalam upaya mengurangi bencana kelaparan yang dapat terjadi kepada mahasiswa, staf, maupun masyarakat luas yang tidak mampu.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

BEM Keperawatan PSDKU Unpad Adakan Kegiatan Donor Darah

Jatinangor, 23 Oktober 2023 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keperawatan PSDKU Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan PMI Kabupaten Pangandaran menyelenggarakan aksi donor darah di kampus PSDKU Unpad Pangandaran, Sabtu (21/10).  Kegiatan ini merupakan acara puncak sekaligus penutupan dari rangkaian kegiatan “Future Nurse”, sebuah program kerja dari Departemen Sosial dan Kemasyarakatan BEM Keperawatan Wilayah Pangandaran sebagai sarana untuk mengaplikasikan secara langsung keterampilan mahasiswa keperawatan kepada masyarakat sekitar.   Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Markas PMI Pangandaran Dadang Gunawan, Ketua Program Studi Keperawatan Kampus Pangandaran Dr. Siti Yuyun Rahayu Fitri, S.Kp., M.Si, para dosen Keperawatan, tenaga kependidikan, para mahasiswa dari berbagai prodi di PSDKU Unpad, serta beberapa mahasiswa dari Kampus Unpad Jatinangor, yang di antaranya merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).  Dalam sambutannya, Dadang mengapresiasi para pendonor yang telah mendonorkan darahnya. Harapannya, aksi donor darah ini dapat memberikan efek positif bagi sesama yang membutuhkan. Dadang juga berharap bahwa kegiatan ini dapat dijalankan secara rutin.  Dengan mendonorkan darah bagi sesama yang membutuhkan, diharapkan juga rasa kepedulian mahasiswa terhadap sesama dibangun dalam kegiatan ini.  Dalam kegiatan ini, secara keseluruhan dihasilkan 56 kantong darah yang terdiri berbagai golongan darah, yaitu A, B, AB, dan O. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Dharma Wanita Persatuan Unpad Gelar Diskusi Mengenai Makanan Sehat

Jatinangor, 17 Oktober – Selasa (11/10), Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Knowledge Sharing dengan tema “Smart Mom: Preparing Healthy and Simple Food” di Aula Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, Jatinangor. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai makanan sehat dan mudah.  Ketua DWP Unpad, Dr. Reiva Arief S. Kartasasmita mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan pertemuan rutin DWP Unpad, di mana pada kali ini, Dharma Wanita dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian menjadi tuan rumahnya sebagai tuan rumah. Selain ini beliau mengatakan, selain untuk menjalin tali silaturahmi, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.  Dekan FTIP Unpad Dr. Ir. Sarifah Nurjanah., M.App.Sc., mengapresiasi kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat bermanfaat bagi peserta dalam membuat makanan sehari-hari yang sehat dan mudah. Kegiatan positif yang turut didukung oleh Fakultas Ilmu Budaya dan fakultas lainnya ini juga dihadiri oleh berbagai pihak, diantaranya Wakil Ketua Bidang Sosbud DWP Unpad, Anita Yanyan, Ketua DW FTIP Unpad, Tia Amina Setiawati, serta para anggota DWP Unpad.   Dalam acara ini, dosen FTIP Unpad sekaligus narasumber acara, Dr. Souvia Rahimah, M.Sc. menerangkan bahwa tubuh membutuhkan makanan sehat untuk menjaga fungsi dan kinerja organ.  Makanan yang dianggap sehat biasanya mengandung berbagai nutrisi, baik makro maupun mikro. Makanan sehat juga harus bersih, halal, dan mengandung gizi yang seimbang, termasuk proporsi yang seimbang dari karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Souvia mengatakan bahwa banyak jenis makanan sehat dapat membantu tubuh mendapatkan nutrisi, tidak hanya satu jenis makanan. Ia menyarankan untuk mengubah menu makanan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Hal ini dikarenakan berbagai jenis makanan dapat memberikan nutrisi yang berbeda, sehingga gizi yang diperlukan oleh tubuh bisa terpenuhi.  Souvia mengatakan bahwa sebagai seorang ibu, kita dituntut untuk cerdas dalam memilih dan menyajikan makanan demi keluarga tercinta, meskipun sesibuk apapun diri kita dalam menjalankan berbagai aktivitas rutin di kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan bahwa kita harus mengenali tubuh kita dan mengonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan kita.  Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Resmi Ditetapkan, Ini Tugas Satgas PPKS Unpad

Jatinangor, 17 Oktober – Senin (29/08), Universitas Padjadjaran menetapkan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unpad Periode 2022-2024. Sebanyak 9 orang dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa telah ditetapkan menjadi Satgas PPKS Unpad.  Berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 3881/UN6.RKT/Kep/HK/2022 tertanggal 29 Agustus 2022., sembilan nama tersebut ditetapkan sebagai Satgas PPKS Unpad. Surat Keputusan Rektor tersebut menjelaskan beberapa tugas dari Satgas PPKS Unpad yang meliputi:  Ketua Satgas PPKS Unpad, Antik Bintari, M.T., mengatakan bahwa secara garis besar tugas Satgas PPKS Unpad sesuai dengan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, yaitu melakukan pencegahan dan penanganan/merespons kasus.  Tim Satgas untuk jangka pendek akan segera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait alur pengaduan, alur koordinasi, hingga melakukan kerja sama dengan mitra strategis, baik dalam maupun luar kampus.  Antik mengatakan bahwa Satgas PPKS Unpad akan mengaitkan internal kampus dengan Biro Bantuan Hukum, layanan psikologi, Pusat Riset Gender dan Anak, serta dengan BEM di level fakultas maupun universitas. Sementara itu, mitra luar kampus akan berkaitan dengan beberapa NGO dan instansi pemerintah yang memiliki unit pelaksana teknis dinas dalam melakukan penanganan. Adapun struktur Satgas PPKS Unpad adalah sebagai berikut:  Ketua : Antik Bintari, S.I.P., M.T.  Sekretaris : Jovanna Tan Anggota : Dr. Ari Jogaiswara Adipurwawidjana, drs., M.A. Dr. Lies Sulistiani, S.H., M.Hum.,    Eka Komalasari Adiwilaga, S.T., S.E., MM., Ak.,    Fikri Triandhika    Gita Mega Andriani Pasaribu    Siska Bradinda Putri Sudirman    Yahya Achmad Hamim. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Tim KKN Unpad Adakan Penyuluhan Kesuburan Tanah dan Tanaman

Kabupaten Bandung, Jawa Barat — Program pengabdian masyarakat idealnya merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan agar mahasiswa atau kampus dapat mengimplementasikan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya untuk membantu mengatasi masalah yang ada dalam masyarakat. Di sisi lain, hal ini juga merupakan salah satu bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi.  Seperti yang dilakukan oleh salah satu tim KKN-PPM Integratif Universitas Padjadjaran di Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Tim KKN yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, M.S. ini berfokus pada masalah komoditas pertanian desa. Adapun Desa Campakmulya terkenal dengan komoditasnya yang berupa kopi arabika dan ubi jalar.  Tim KKN-PPM Integratif ini mengusung tema “Peningkatan Produktivitas Lahan Perkebunan Kopi Berdasarkan Karakteristik Tanah dan Lingkungannya”. Pada minggu pertama program, mahasiswa tim KKN berhasil menemukan permasalahan utama Desa Campakamulya. Masalah tersebut terdapat pada produktivitas tanaman kopi di bawah tegakan pinuh yang lebih rendah dibandingkan di bawah tegakan rasamala. Selain itu ada pula masalah-masalah lain yang dihadapi, seperti pelestarian budaya, mitigasi bencana, kesadaran kesehatan gigi, minat usaha tani, dan sumber daya manusia.  Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, mahasiswa membagi tim besarnya ke dalam beberapa sub kelompok. Terdapat tiga sub kelompok dengan tema program yang berbeda, yaitu Forum Diskusi Petani Kopi Campakamulya, Penyuluhan Pembuatan Nematisida dna Biosaka, dan Pemetaan Status Unsur Hara Tanah di Perkebunan Kopi. Berbagai mahasiswa dari setiap Fakultas tergabung dalam tiga sub kelompok tersebut, yaitu mahasiswa Fakultas Hukum (FH), Pertanian (Faperta), Ekonomi dan Bisnis (FEB), Ilmu Budaya (FIB), Perikanan (FPIK), Teknik Industri Petanian (FTIP), Teknik Geologi (FTG), dan Kedokteran Gigi (FKG). Dari sub kelompok satu, ditemukan permasalahan pada fase pra-tanam, pemeliharaan, dan pasca panen kopi arabika. Hal ini disebabkan karena sarana pertanian yang belum memadai dan hama penyakit pada tanaman kopi. Menindaklanjuti hal tersebut, kegiatan dilanjutkan oleh sub kelompok dua dengan mengadakan penyuluhan pembuatan nematisida dan biosaka. Pemateri yang diundang pada penyuluhan ini, yaitu Ir. Noor Istifadah, Mc.P, Ph.D. dan perwakilan Klinik Tanaman (Klintan) Unpad. Rangkaian kegiatan ditutup oleh sub kelompok tiga dengan pembuatan peta sebaran status unsur hara perkebunan kopi. Keseluruhan program KKN ini ditutup dengan seminar dengan dua pemateri, yaitu Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, M.S. yang berkaitan dengan “Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi Berdasarkan Kondisi Lahan dan Kesuburan Tanah” dan Dr. Ir. Toto Sunarto, M.P. dengan materi “Nematoda Pada Tanaman Kopi dan Cara Pengendaliannya”. Seminar akhir yang diselenggarakan ini bertujuan sebagai upaya menjaga kerjasama antara petani kopi dan akademisi terkait permasalahan produktivitas kopi puntang. Seminar akhir dihadiri oleh Sekretaris Desa Campakamulya, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Ketua Tani Hutan (KTH), dan petani kopi.  Berdasarkan bahasan seminar, Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, M.S. menyampaikan bahwa permasalahan utama produktivitas kopi Desa Campakamulya disebabkan karena kemiringan lereng yang curam, kedalaman tanah yang dangkal, dan bahaya erosi yang tinggi. Adapun kesuburan tanah desa ini relatif sedang. Di sisi lain, Dr. Ir. Toto Sunarto, M.P. menambahkan bahwa terdapat 17 nematoda parasit yang menjadi hama dan penyakit yang telah menyerang tanah di wilayah perkebunan tersebut.  Dengan terlaksananya program pengabdian masyarakat ini, masyarakat semakin mengetahui masalah yang dihadapi, sekaligus upaya penyelesaiannya. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting dalam mewujudkan produktivitas lahan yang berkelanjutan.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Scroll to Top