Sumedang, September 2025 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran terus menunjukkan dedikasinya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Unpad Bermanfaat, yang kini memasuki tahun ketiga. Menggabungkan dosen, mahasiswa, dan mitra lintas fakultas, inisiatif ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan di desa-desa di seluruh Kabupaten Sumedang.
Program ini berfokus pada empat model pembangunan desa:
- Pembangunan Sosial-Ekonomi,
- Desa Wisata Budaya,
- Pembangunan Sosial-Ekonomi Berbasis Pesantren, dan
- Desa Literasi Budaya.
Memberdayakan Desa Melalui Kearifan Lokal
Salah satu kegiatan utama program ini berlokasi di Desa Jatiroke, Jatinangor, yang sedang dikembangkan menjadi desa wisata budaya. Inisiatif yang dilakukan meliputi pemasangan papan penunjuk arah di objek wisata Teras Gunung Geulis, promosi merek kopi lokal “Gugels”, serta revitalisasi kesenian Sunda seperti pencak silat dan singa depok. Selain itu, pelatihan juga diberikan kepada perangkat desa untuk meningkatkan kompetensi dalam pengelolaan pariwisata dan kegiatan promosi.
Di Desa Nagarawangi, tim memberikan pelatihan pemasaran digital untuk membantu UMKM lokal, khususnya dalam produksi kopi dan furnitur. Sebuah film dokumenter tentang sejarah dan potensi wisata desa juga dibuat dan dibagikan secara daring, menyoroti dampak penceritaan digital (digital storytelling) dalam memperkuat identitas lokal.
Sementara itu, Desa Sindulang berfokus pada pertanian ramah lingkungan. Kelompok tani dan pemuda didukung dalam mengembangkan usaha sayuran organik, bermitra dengan supermarket, serta mengeksplorasi program pertukaran pangan untuk meningkatkan gizi anak-anak. Inisiatif “Julang Food” oleh kelompok perempuan berhasil mengolah kelebihan pasokan tomat menjadi produk olahan inovatif.
Di Desa Citengah, literasi budaya menjadi fokus utama. Program-programnya meliputi pembentukan Sekolah Budaya, pelestarian alat musik tradisional Songah, serta dukungan terhadap pertunjukan seni berbasis masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya melindungi warisan budaya tetapi juga meningkatkan pendidikan kreatif bagi pemuda setempat.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Program Unpad Bermanfaat tidak hanya terbatas pada dosen FIB saja. Para akademisi dari Fakultas Kedokteran, Pertanian, Teknologi Industri Pertanian, Peternakan, Ilmu Komunikasi, serta Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) turut berkolaborasi dalam mengimplementasikan proyek-proyek tersebut. Pendekatan lintas disiplin ini memastikan bahwa solusi yang diberikan mencakup berbagai aspek pembangunan masyarakat.
Dengan lebih dari 30 proyek yang telah diselesaikan di seluruh Sumedang, FIB Unpad membuktikan perannya sebagai agen perubahan yang menghubungkan pengetahuan akademis dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui inisiatif ini, kami berharap dapat menciptakan desa model yang berkelanjutan di mana kearifan lokal, kekayaan budaya, dan inovasi modern berdampingan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Prof. Aquarini Priyatna, Dekan FIB Unpad.
Seiring berjalannya program, FIB Unpad berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi, memperluas dampak, dan memastikan bahwa Unpad Bermanfaat benar-benar menjawab namanya—memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini secara langsung selaras dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB dengan menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berpusat pada masyarakat. Melalui inisiatif pertanian ramah lingkungan dan pemenuhan gizi anak di Desa Sindulang, program ini berkontribusi pada SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sementara literasi budaya dan pelestarian seni tradisional di Desa Citengah mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui perlindungan warisan lokal. Selain itu, pelatihan pemasaran digital untuk UMKM dan pengembangan pariwisata budaya di Desa Jatiroke dan Nagarawangi memperkuat ketahanan ekonomi lokal sesuai dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Seluruh upaya ini didukung oleh kerangka kerja lintas disiplin yang kuat dengan melibatkan berbagai fakultas, pemerintah daerah, dan masyarakat desa, yang menjadi wujud nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) sebagai model pembangunan berkelanjutan secara holistik.
