Author name: mnrizal

Berita

Kreatif Mengolah Kuliner, Warisan Berharga Leluhur Nusantara

Laporan oleh Arif Maulana [Foto ilustrasi] Tahu Sumedang, kuliner khas dari Sumedang, Jawa Barat. (Foto: Dadan Triawan)*[unpad.ac.id, 28/9/2020] Indonesia dikenal sebagai surga bagi para pencinta kuliner karena memiliki keanekaragaman sajian makanan dan kudapan khas. Keanekaragaman kuliner ini tentunya tidak lepas dari kreativitas nenek moyang Indonesia. Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A., mengatakan, leluhur bangsa Indonesia sudah kreatif dalam mengolah kuliner. Para leluhur terbiasa memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar untuk diolah menjadi makanan. Kreativitas ini berkembang menjadi seni boga yang menjadi ciri khas Indonesia. “Ini menarik, jika di Barat punya culinary, kita sebenarnya sudah punya seni boga sejak lama,” kata Fadly. (baca juga: Melacak Jejak Lalapan Sunda Hingga Abad 10 Masehi) Akademisi yang menggeluti sejarah kuliner Indonesia ini menuturkan, tidak hanya memanfaatkan bahan pangan yang ada, nenek moyang juga biasa mengolah bahan-bahan pangan yang dianggap terbuang atau tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat kolonial. Sebagai contoh nenek moyang mengolah jeroan hewan untuk dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Dalam sejarahnya, jeroan dianggap sebagai makanan buangan oleh masyarakat Eropa. Setiap pasar di era kolonial rutin dilakukan inspeksi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memastikan bahwa bahan pangan yang dijual adalah bahan yang “layak dikonsumsi” orang Eropa. Di satu sisi, kata Fadly, masyarakat pribumi tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi daging, sehingga akhirnya memanfaatkan jeroan daging sampai ekor hewan untuk dijadikan makanan. Bukan hanya jeroan, masyarakat pribumi juga gemar menyantap olahan fermentasi kedelai, atau yang akrab dikenal sebagai tempe. Dulu, tempe dianggap sebagai makanan kelas proletar yang tidak dikonsumsi oleh kaum kolonial. (baca juga: Lestarikan Tradisi Masyarakat, FIB Unpad Selenggarakan “Gelar Budaya Pangan”) “Tetapi ketika sudah diteliti pada 1930an oleh para ahli gizi, ternyata tempe bisa untuk substitusi daging. Akhirnya tempe pun naik daun,” kata Fadly. Selain makanan, masyarakat juga kreatif dalam menciptakan kudapan ringan. Ada beragam alasan mengapa leluhur Indonesia banyak menciptakan kreasi kudapan ringan. Fadly menyebut salah satu alasannya adalah faktor kesenangan. Ya, sejatinya leluhur Nusantara juga sama dengan masyarakat Indonesia saat ini. Menyukai kuliner sebagai suatu kesenangan. “Contohnya, ada banyak narasi yang berkaitan kenapa kue cucur dan dodol diolah dan dikonsumsi karena memang ada unsur kesenangan,” jelasnya. (baca juga: Haleuang Kuliner Sunda Sukses Angkat Kuliner Sunda Melalui Lagu) Alasan lain adalah sebagai perbekalan. Kudapan ringan sangat praktis dibawa saat bepergian dan cukup efektif untuk mengganjal perut yang lapar. Terakhir, lanjut Fadly, kudapan kemudian digunakan untuk acara seremonial dan selamatan atas hasil bumi yang didapat. Wujud syukur atas hasil bumi tersebut salah satunya adalah dengan mengolahnya menjadi makanan. Kreativitas Berbalut Kejenakaan Tidak hanya dalam pengolahan, kreativitas juga lahir saat pemberian nama suatu kudapan. Salah satunya adalah apa yang sudah dilakukan masyarakat Sunda. (baca juga: Lagu Merupakan Sarana Efektif Ajarkan Bahasa Sunda pada Generasi Muda) Bila ditelusuri, banyak nama-nama kudapan yang merupakan akronim, seperti “cireng” yang berarti “aci digoreng”, “cilok” yang berarti “aci dicolok (ditusuk)”, “comro” atau “oncom di jero (dalam)”, hingga “misro” atau “amis (manis) di jero (dalam)”. Fadly menjelaskan, munculnya kudapan tersebut berasal dari masa peralihan abad 19 hingga 20. Sebagian besar kudapan tersebut berasal dari bahan baku yang sama, yaitu aci atau dalam bahasa Indonesia disebut tepung tapioka. Ini disebabkan, Jawa Barat pada masa kolonial merupakan kawasan produsen tepung tapioka terbesar di Indonesia.  Hal ini pula yang menjadikan banyak jajanan di lingkungan masyarakat Jawa Barat menggunakan bahan baku dari tepung tapioka. “Ini salah satu bentuk kelucuan dan kreativitas orang Sunda yang punya sifat jenaka dan komunikatif,” tutur Fadly.*

Berita

Mahasiswa Prodi Sastra Rusia berlatih bersama Mahasiswa Universitas Pedagogi Negeri Moskow.

21 September 2020. Mahasiswa Prodi Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Unpad berlatih bahasa Rusia dan berkenalan dengan Mahasiswa Universitas Pedagogi Negeri Moskow. Praktik pertama bahasa Rusia di tahun ajaran baru diadakan secara online untuk mahasiswa Program Studi Sastra Rusia Universitas Pajadjaran di Indonesia. Untuk pelajar Indonesia, ini adalah pengalaman pertama berkomunikasi dengan penutur asli Rusia, terutama dalam konteks pembelajaran jarak jauh (universitas di Indonesia masih bekerja secara online).Sebagaimana seharusnya pada pertemuan pertama, mereka mengucapkan “halo” dan belajar berkenalan, mengingat alfabet Rusia, membaca kata-kata dan membuat kalimat sederhana. Saat membaca huruf-huruf alfabet Rusia, perlu untuk mengingat kata-kata yang berisi huruf-huruf ini, dan juga untuk menentukan tempatnya di kata. Pada saat disebutkan kata чайка “burung camar” salah satu siswa menjawab: “Saya tahu:” Burung Camar “adalah Chekhov”. Percakapan tersebut menunjukkan bahwa pelajar Indonesia tertarik dengan budaya Rusia dan ingin belajar lebih banyak tentang negara kita.Kerja sama antara Universitas Pedagogi Negeri Moskow dan Universitas Pajadjaran di Indonesia dimulai pada Desember 2019, ketika didirikan Pusat Bahasa Rusia dan Pendidikan Terbuka dalam Bahasa Rusia di Bandung di bawah proyek Kementerian Pendidikan Federasi Rusia. Tujuan dari Pusat ini adalah untuk mempopulerkan bahasa Rusia, budaya dan pendidikan bahasa Rusia di Republik Indonesia. Rencana Pusat, selain kelas praktis untuk mahasiswa, termasuk kuliah pendidikan untuk dosen di Unpad tentang budaya Rusia kontemporer, geografi dan etnografi Rusia, yang telah disiapkan oleh karyawan Fakultas Studi Regional dan Pendidikan Etnokultural ISGO MSGU.Kami sangat berharap suatu saat nanti kami dapat bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang kami temui hari ini, baik di lingkungan Universitas Pedagogi Negeri Moskow: baik sebagai tamu maupun sebagai mahasiswa S1 dan S2. Sementara itu, kami melanjutkan kenalan jarak jauh kami. (Elena Omelchenko, Tatyana Krivoruchko)

Berita

Pelantikan para Manajer di lingkungan FIB Unpad

Jumat, 4 September 2020. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Yuyu Yohana Risagarniwa, M. Ed. Ph. D., melantik dan memberhentikan dengan hormat para manajer di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.1. Pemberhentian dengan hormat Manajer Sumber Daya Fakultas Ilmu Budaya., Yudi Kristianto, S. Sos., M. Ak. yang diangkat sebagai Manajer Sumber Daya, Perencanaan dan Informasi Fakultas Teknik Geologi.2. Pemberhentian dengan hormat Manajer Tata Kelola, Perencanaan dan Data Fakutas Ilmu Budaya. Nuke Affandi, M. Ak. yang diangkat sebagai Manajer Sumber Daya, Perencanaan dan Informasi Fakultas Pertanian.3. Pemberhentian dengan hormat Manajer Akademik dan Kemahasiswaan, Inu Isnaeni Sidiq, S.S., M.A., Ph. D. yang selanjutnya diangkat kembali sebagai Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ilmu Budaya.4. Pemberhentian dengan hormat Manajer Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Inovasi dan Kerja Sama, Taufik Ampera, M. Hum., yang selanjutnya diangkat kembali menjadi Manajer Riset, Inovasi dan Kemitraan Fakultas Ilmu Budaya.5. Pengangkatan Manajer Sumber Daya, Perencanaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya, Daman Yusup, SE., M.M. Pelantikan dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Luing bertempat di Ruang Sidang Gedung A. Dosen, tendik, dan perwakilan mahasiswa mengikuti pelaksanaan acara pelantikan secara daring.

Berita

Penerimaan Mahasiswa Baru FIB UNPAD Tahun 2020/2021

Sabtu, 29 Agustus 2020. Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2020/2021 dilaksanakan secara daring. Diikuti lebih dari 650 Mahasiswa Baru. Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru dapat dilihat dihttps://www.youtube.com/watch?v=4hGmhvDgqGI

Berita

Dubes RI Pakistan dalam Webinar FIB-UNPAD: Perlu Perubahan Mindset untuk Studi Bahasa Arab

​Islamabad – “Pentingnya bahasa Arab sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk  menjadi relevan dalam kehidupan keseharian kita, yaitu bermanfaat baik sebagai alat untuk berinteraksi maupun di dunia profesi,” Dubes Iwan Amri merumuskan kembali pandangan Taha Hussein, sastrawan dan pemikir Mesir terkemuka mengenai kedudukan Bahasa Arab dalam visi kemajuan manusia.  Dubes Iwan menjadi salah satu narasumber pembuka pada seri Webinar Internasional bertema “Menyongsong Pembelajaran Bahasa Arab di Era Tatanan Baru Pasca Pandemik Covid-19″, yang diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa Arab, Fakultas Ilmu Budaya UNPAD pada 6 Juli 2020. “Keberadaan studi bahasa Arab saat ini ditantang manfaatnya baik oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Kita perlu memiliki kesadaran baru bahwa penguasaan bahasa Arab adalah pintu masuk untuk menguasai berbagai aspek kehidupan sehari-hari,” tambah Dubes Iwan yang memaparkan peran bahasa Arab dalam bidang hubungan internasional. Dikatakan bahwa dalam konteks dunia diplomasi internasional, peran bahasa Arab menjadi penting karena menjadi salah satu dari enam bahasa PBB, dan bahasa pengantar di persidangan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta di organisasi regional Liga Arab. Dengan jumlah penutur 422 juta atau 5,4% penduduk dunia, baik di negara Arab maupun non-Arab, bahasa Arab juga menjadi bahasa pengantar dalam dunia bisnis dan perdagangan, serta menjadi media pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.  Terobosan dalam pengajaran bahasa Arab perlu dimulai dengan kombinasi lintas disiplin ilmu, seperti ilmu ekonomi dan ilmu sosial-politik. Penguasaan terminologi dan istilah Arab untuk dunia diplomasi dan bisnis perbankan, misalnya “akan mempermudah proses perundingan dengan pelaku usaha atau bernegosiasi dengan diplomat dari Timur Tengah,” Dubes Iwan meyakinkan. Sejalan dengan konsep kemajuan pendidikan tinggi Indonesia dengan kampus merdeka dan merdeka belajar, penyelenggaraan Webinar Prodi Sastra Arab UNPAD ini menjadi mementum bagi UNPAD untuk merumuskan kurikulum untuk membentuk mahasiswa yang memiliki karakter mandiri, berbudi luhur, kompeten, kreatif dan inovatif. Dengan didukung tenaga pengajar yang menjadi motor penggerak di lingkungan akademis, mahasiswa menjadi percaya diri menjadikan bahasa Arab relevan dalam praktik hidup sehari-hari. Sambutan baik datang dari salah seorang peserta webinar yang menyarankan agar dibuat disain khusus untuk pembelajaran bahasa Arab dalam paraktik diplomasi. Ketua Program Studi Bahasa Arab, Dr. Titin Nurhayati menyambut baik usulan tersebut dan akan membicarakan lebih lanjut dengan pihak kampus dan konsultasi dengan Kemlu agar pembelajaran tersebut masuk dalam kurikulum Prodi Bahasa Arab ke depan. Webinar yang dilaksanakan berseri ini akan berlangsung sampai dengan 18 Juli 2020. Dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD, Yuyu Yohana Risagarniwa, Ph.D, webinar menghadirkan pakar pendidikan, seperti Prof. drh. Arid Junaedi, Ph.D Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemdukbud RI dan Mohammad Fahmi, Ph.D, Direktur Pendidikan dan internasionalisasi UNPAD yang menjelaskan mengenai perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia melalui kebijakan kampus merdeka dan merdeka belajar di era new normal. Selain mengundang pembicara ahli bahasa Arab dari berbagai kampus di Timur Tengah, webinar juga menghadirkan Dr. Muhammad Bashir, ahli linguistik dan Dekan Fakultas Bahasa Arab pada International Islamic University of Islamabad (IIUI) sebagai salah satu pembicara. Melalui webinar ini inisiatif kerjasama pendidikan antara UNPAD dan IIUI dalam bidang pendidikan bahasa Arab akan semakin terbuka lebar.​ rilis : KBRI di Islamabad Pakistan

Berita

Advokasi Budaya Workshop Tari Cikeruhan

Jumat, 13 Maret 2020. Departemen Sosial Kemasyarakatan dan Lingkungan BEM Gama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Advokasi Budaya Workshop Tari Cikeruhan “Ngamumule Tari Cikeruhan di Era Milenial”. Workshop diikuti oleh siswa SMP/MTs, SMA, guru, dan masyarakat umum se-Kecamatan Jatinangor. Bertindak sebagai narasumber Taufik Ampera, M.Hum sebagai tim peneliti “Revitalisasi Tari Cikeruhan sebagai Identitas Jatinangor”, narasumber lainnya Didi dan Beben sebagai pegiat seni. Instruktur tari Raka Cakra dan Fadiah mahasiswa Sastra Sunda Unpad. Acara workshop dihadiri oleh Camat Jatinangor Syarif Efendi Badar, S.Sos, M.Si. dan panitia HUT ke-20 Kecamatan Jatinangor. #cikeruhantradisionaldance #cikeruhjatinangor

Berita, Berita Dosen

Kunjungan penjajakan kerja sama Universitas Lancangkuning Pekanbaru

Rektor Unversitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Dr. Junaidi. M.Hum. kunjungi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran disambut oleh Wakil Dekan Fib Unpad Dr. Mumuh Muhsin Z. M.Hum. didamping Ketua Program Doktor Program Studi Ilmu-ilmu Sastra Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum. beserta Manajer Riset, Pengabdian pada Masyarakat, Inovasi, dan Kerja Sama, Drs. Taufik Ampera, M.Hum. di ruang Dekan Fib Unpad. Kunjungan dalam rangka penjajakan kerja sama dalam Bidang Pendidikan, Unilak akan mengirimkan dosen-dosennya untuk mengikuti program S3 pada Program Pascasarjana FIB Unpad. Rektor Unversitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Dr. Junaidi. M.Hum. adalah alumni Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran angkatan 1994.

Berita, Berita Mahasiswa

Dukung Kampus Hijau, Alumni FIB Unpad Serahkan Bibit Pohon Usai Sidang Akhir

Laporan oleh Arif Maulana [unpad.ac.id,10/2/2020] Merayakan kelulusan merupakan hal yang tidak akan dilewatkan ketika selesai menjalani sidang akhir. Namun, ada hal unik yang diinisasi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran tatkala menyelesaikan sidang skripsi. Awal 2020, alumni program studi Sastra Inggris Unpad menyumbangkan sejumlah bibit pohon usai menyelesaikan sidang skripsinya. Inisiasi ini kemudian disetujui pihak prodi, sehingga niat baik ini kemudian menjadi kesepakatan bersama dan anjuran kepada mahasiswa lainnya yang akan menempuh sidang skripsi. Wakil Dekan FIB Unpad Dr. Mumuh Muhsin Zakaria, M.Hum., mengatakan, aktivitas baik ini kemudian diikuti oleh mahasiswa dari program studi lain, seperti Sastra Jerman hingga prodi Sejarah pun menyusul melakukan aktivitas tersebut. “Kami sepakat untuk menjadi kegiatan bersama, karena ini program bagus sekali,” ujar Dr. Mumuh saat diwawancarai via telepon, Senin (10/2). Dr. Mumuh mengatakan, dipilihnya bibit pohon sebagai kenang-kenangan dari alumni bertujuan untuk mendukung implementasi kampus hijau (green campus) di Unpad. Upaya ini juga dilakukan untuk mengurangi sampah balon ataupun sampah plastik yang kerap dihasilkan ketika perayaan kelulusan. Bibit pohon ini nantinya akan ditanam di area kampus FIB Unpad. Dr. Mumuh menjelaskan, penanaman ini menjadi bagian dari proses peremajaan pohon yang ada di kawasan FIB Unpad, mengingat sebagian pohon sudah berusia tua dan dikhawatirkan roboh. “Ini akan dikoordinasikan dengan pihak universitas mengenai jenis tanaman dan tempat menanamnya di mana,” tambahnya. Dr. Mumuh pun mendorong mahasiswa untuk menciptakan tradisi bagus lainnya. Diharapkan tradisi baik ini memberikan manfaat bagi warga kampus Unpad.*

Berita, Berita Mahasiswa

Disiplin Beribadah, Kunci Kesuksesan Yusup Mulyana

Laporan oleh Muhammad Dzulfikri Firdaus Yusup Mulyana, wisudawan dari program studi Sastra Arab berfoto bersama kedua orang tuanya, Yayat dan Ucih, usai mengikuti wisuda pada Wisuda Lulusan Gelombang II Tahun Akademik 2019/2020 Universitas Padjadjaran, Selasa (4/2). (Foto: Arif Maulana)* [unpad.ac.id, 4/2/2020] Yusup Mulyana, menjadi salah satu wisudawan pada Wisuda Lulusan Gelombang II Tahun Akademik 2019/2020 Universitas Padjadjaran, Selasa (4/2). Mahasiswa penerima Bidikmisi ini berhasil menyelesaikan studi di Sastra Arab Unpad selama 3,5 tahun. Ia dinyatakan lulus dengan IPK 3.52 pada 7 Januari 2020 lalu setelah tugas akhir skripsi berjudul “Estetika Interior Masjid Agung Kota Cimahi dengan Kajian Semiotika”. Kesuksesan Yusup menempuh studi di Unpad bukan tanpa kendala. Selepas lulus SMA, kedua orangtuanya sempat tidak menyetujui keinginan Yusup untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi lantaran keterbatasan biaya. Sehari-hari, ayah Yusup berprofesi sebagai pengayuh becak, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa. Namun, ia tak menyerah begitu saja. Pemuda asal Desa Banjarsari, Ciamis ini kemudian banyak berkonsultasi dengan gurunya. Ia pun mencoba mendaftar program bantuan Bidikmisi dan membulatkan tekad memilih prodi Sastra Arab Unpad. “Akhirnya diterima melalui jalur SNMPTN sekaligus dinyatakan berhak memperoleh beasiswa Bidikmisi,” ujar Yusup. Semasa aktif sebagai mahasiswa, pria kelahiran Ciamis 22 Februari 1998 ini banyak mengabdikan diri melayani umat sebagai takmir di masjid Al-Mushlih FIB Unpad hingga Masjid Raya Unpad, Yusup juga aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Sastra Arab Unpad dan Ikatan Mahasiswa Studi Arab se-Indonesia (Imasasi). Yusup mengatakan, selama kuliah, selain belajar untuk menuntaskan kewajiban akademiknya, ia juga menjadi pengajar baca tulis Al-Quran di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Unpad hingga DKM Masjid Al-Jabbar ITB Jatinangor. Dalam membagi waktu antara belajar, berorganisasi, sekaligus mengabdikan diri kepada masyarakat, Yusup mengaku tidak menemui kesulitan berarti. Menurutnya, kunci untuk mengatur waktu di antaranya adalah disiplin menjalankan salat tepat waktu, dan mengisi waktu kosong antar jadwal sholat wajib itu dengan belajar, baik membaca atau mendengarkan kajian. “Dengan menjaga ibadah, Allah juga akan menjaga kelancaran segala urusan kita.” ujarnya. Masa setengah tahun terakhir masa studinya, Yusup memutuskan untuk tinggal di Masjid Raya Unpad.  Selama tinggal di Masjid Raya Unpad sejak bulan Juli tahun lalu, ia merasakan banyak manfaat yang diperoleh selain giat beribadah mendekatkan diri pada Tuhan. Ia mengabdikan diri menjadi takmir, sekaligus melakukan banyak kegiatan sosial bersama organisasi KMMK Syamil Unpad. Tidak berhenti setelah memperoleh gelar sarjana, Yusup bertekad untuk terus melanjutkan pendidikannya. Saat ini, ia tengah merencanakan untuk meneruskan pendidikan Magister melalui beasiswa PMDSU Unpad. Di keluarganya, Yusup menjadi anak pertama yang berhasil meraih gelar sarjana. Ia berharap keberhasilan tidak menjadikannya jumawa. “Semoga keberhasilan ini mampu menjadi penyemangat dirinya untuk terus mengabdikan diri pada masyarakat, dan memotivasi untuk terus belajar meraih cita-cita,” pungkasnya.(am)*

Agenda, Kegiatan, Pengumuman

Pasanggiri Ngeusian Tarucing Cakra Basa Sunda

Pasanggiri Ngeusian Tarucing Cakra Basa Sunda (Nganggé Komputer) Daftar jadi Pamilon Pikeun ngareuah-reuah Poé Basa Indung Internasional, 21 Pébruari 2020, Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (PDP-BS) Universitas Padjadjaran rukun gawé jeung Prodi Sastra Sunda Unpad, Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) katut Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) baris ngayakeun Pasanggiri Tarucing Cakra (Teka-Teki Silang). Tujuanana pikeun ngasah kamampuh masarakat dina ngagunakeun basa Sunda, lian ti pangaweruh kasundaan lianna. Ieu pasanggiri téh maké pakakas laptop, tablét, atawa télépon cerdas  (lain ngeusian dina keretas), sarta dibagi jadi 2 (dua) katégori: Katégori umum, bisa diiluan ku guru-guru basa Sunda, mahasiswa, jeung sakumna balaréa. Katégori barudak sakola, husus keur murid-murid SMP/SMA sa-alam dunya. Katangtuan Umum Sakur pamilon kudu daftar heula ka panitia ku cara ngeusian formulir dina tautan di luhur (Daftar jadi Pamilon) Jumlah pamilon teu diwatesanan. Régistrasi pamilon baris ditutup tanggal 19 Pébruari 2020 pukul 23.59. Matéri dina pasanggiri ngawengku kamahéran basa Sunda jeung pangaweruh kabudayaan Sunda (sastra, sajarah, seni, jsté). Nu geus daftar kari datang dina waktuna (tempat jeung waktu ilikan di handap). Waktu jeung Tempat Pasanggiri Ieu pasanggiri baris digelar dina:Poé, Tanggal: Jumaah, 21 Pébruari 2020Waktu: Pukul 08.00—10.30Tempat: Graha Sanusi Hardjadinata UnpadJl. Dipatiukur No. 35 Kota Bandung Hadiah a. Katégori UmumPinunjul I: Rp4.000.000,-Pinunjul II: Rp3.000.000,-Pinunjul III: Rp2.000.000,-Pinunjul Hiburan: 5 x Rp200.000,- b. Barudak SakolaPinunjul I: Rp2.000.000,-Pinunjul II: Rp1.500.000,-Pinunjul III: Rp1.000.000,-Pinunjul Hiburan: Rp500.000,- Katangtuan Husus Pamilon nu wenang milu kana pasanggiri, nu geus disatujuan ku panitia, tur méméhna ngeusian heula formulir pendaftaran. Sakur pamilon kudu mawa pakakas séwang-séwangan, prak baé sabogana-bogana saperti hapé, laptop, tablét, atawa nu rék ngagigiwing CPU gé teu nanaon. Unggal pakakas alusna dilengkepan ku kuota, tapi dina kaayaan darurat mah panitia baris nyayagikeun jaringan WI-FI di sabudereun tempat pasanggiri. Saméméh prung pasanggiri, sakur pamilon kudu daftar ulang heula ka panitia. Sabada daftar deui, pamilon baris meunang kodeu jeung sandi pikeun aksés alamat wéb pasanggiri tarucing cakra. Pukul 08.00—08.15 panitia baris ngécéskeun prak-prakan pasanggiri (technical meeting). Unggal pamilon kudu bisa ngagunakeun komputer (program browser Internét, upamana Mozilla, Chrome, jeung sabangsana). Mun aya pamilon nu teu bisa metakeun browser, bisa ngajak saha baé (saurang) pikeun maturan ngeusikeunana. Upama dina waktuna pasanggiri aya pamilon anu teu hadir atawa elat, ku panitia dianggap bedo. Waktu keur ngeusian tarucing cakra ditangtukeun ku panitia, lilana maksimum 90 menit. Sakur pamilon wenang mawa rupa-rupa réferénsi: buku, kamus, atawa rék bari googling moal dicaram. Hasil tina pasanggiri baris dipeunteun maké sistem komputer tur diumumkeun poé éta kénéh. Para pinunjul baris dicokot ti nu pangbenerna jeung panggancangna ngeusian tarucing cakra. Keur latihan, pamilon bisa milu simulasi ngeusian pasanggiri tarucing cakra dina internét, tanggal 15—19 Pébruari 2020. Alamatna baris diémbarkeun. Bandung, 2 Pébruari 2020Panitia Pasanggiri Tarucing Cakra Basa SundaPDP-BS UNPAD Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Universitas Padjadjaran Rukun Gawé

Scroll to Top