Author name: mnrizal

Berita

Tim GNRM FIB Unpad Bersama Kemenko PMK Gelar Pelatihan Copywriting

Tim Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran bekerjasama dengan Kementrian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menyelenggarakan pelatihan secara luring bertajuk “Tingkatkan Penjualan dengan Copywriting” pada Jumat, 3 September 2021. Peserta pelatihan adalah pelaku usaha kecil menengah (UKM) Saluyu yang merupakan mitra dari tim GNRM FIB Unpad di Kabupaten Sukabumi. Pelatihan copywriting ini dibutuhkan para pelaku usaha agar dapat meningkatkan penjualan dengan cara menjangkau konsumen yang lebih luas lagi. Dalam kegiatan yang berlangsung di aula Kelompok Usaha Bersama Saluyu, Kabupaten Sukabumi, dosen FIB Unpad Mohamad Noor Rizal, M.A. menyampaikan materi yang berisi tips serta kiat-kiat merangkai kata agar dapat meningkatkan omzet penjualan. Ketua tim kegiatan, Dr. Elvi Citraresmana, M.Hum, yang memberikan sambutan di pertemuan ini menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pelaku usaha akan pentingnya bahasa sebagai salah satu strategi penjualan sehingga calon konsumen dapat tertarik untuk membeli produk yang diiklankan, terlebih pada masa pandemi ini. Anggota UKM Saluyu yang mayoritas kaum ibu tampak antusias dan dapat memahami materi yang disampaikan dengan mampu memberikan contoh aplikasi copywriting dalam memasarkan produk mereka. Hal ini juga terlihat dari jawaban yang mereka berikan saat berdiskusi. Beberapa anggota UKM Saluyu ternyata sudah mulai memasarkan produk mereka secara online dengan terlebih dahulu memikirkan kalimat menarik agar produk yang ditawarkan dapat dilirik calon konsumen. Pada kesempatan terpisah, Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) perwakilan dari Kemenko PMK yang turut hadir dalam kegiatan berharap bahwa program GNRM yang sudah dilaksanakan oleh tim FIB Unpad selama dua bulan ini mampu merangkul audiens serta mitra yang lebih luas lagi sehingga menjadi program yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat.

Berita

UKM Saluyu Sukabumi Ikuti Inkubasi GNRM oleh Tim FIB Unpad

Pelaku usaha dari Usaha Kecil Menengah (UKM) Saluyu yang berasal dari desa Sukaraja di Kabupaten Sukabumi mengikuti kegiatan inkubasi (pembinaan dan pendampingan) Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) secara daring melaui Zoom yang dilaksanakan pada hari Senin, 23 Agustus 2021. Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Elvi Citraresmana, M.Hum. mengatakan, kegiatan inkubasi ini menjadi pembuka dari rangkaian program kegiatan GNRM yang telah direncanakan. Program GNRM 2021 ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Kementrian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) bersama Forum Rektor Indonesia (FRI). Kegiatan program secara detail dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi (PT) termasuk Universitas Padjadjaran. Program GNRM ini mengutamakan perwujudan nilai-nilai Integritas, Etos Kerja, dan Gotong Royong melalui peran aktif PT sebagai elemen dari masyarakat. Pada pertemuan virtual ini Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan The Local Enablers Community and Product Development dalam menyampaikan topik tentang “Merancang Produk yang Disukai Konsumen”, dan kelompok UKM Saluyu yang terkenal karena olahan ikan nilanya terlihat antusias mengikuti kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas berwirausaha. Koordinator kegiatan, Dr. Elvi Citraresmana, M.Hum, membuka serta memberikan sambutan di pertemuan daring ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi belajar yang dipandu Muhammad Nur Rijaldi, S.T.P. dan Aryanita Sembiring, S.T.P. dengan pendekatan Design Thinking: sebuah pendekatan yang menekankan pada pola pikir ala desainer di mana ada tahapan–tahapan cara berpikir dalam menemukan solusi. Anggota UKM Saluyu yang mayoritas kaum ibu tampak dapat memahami materi yang disampaikan dengan mampu menyebutkan contoh aplikasi Design Thinking dalam keseharian mereka berwirausaha. Hal ini juga terliihat dari jawaban yang mereka berikan saat berdiskusi. UKM Saluyu ternyata sudah mulai menjalin hubungan dengan konsumen dan kerap bertanya kepada mereka tentang perasaan saat menikmati produk yang ditawarkan untuk ditindaklanjuti. Pada kesempatan terpisah, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Aquarini Priyatna, M.A., M.Hum., Ph.D. menyampaikan bahwa program GNRM ini diharapkan mampu membawa perubahan nyata terhadap cara pandang kemandirian finansial di Indonesia, khususnya pemberdayaan perempuan.

Berita Dosen

Habitus Membaca

Presiden Central Connecticut State University di Amerika Serikat, John W. Miller, merilis studi perihal peringkat budaya baca di 61 negara di dunia. Studinya menunjukkan temuan menarik terkait negara yang mendapuk peringkat pertama hingga negara terbuncit dalam tingkat rata-rata budaya baca warganya. Peringkat pertama ternyata diduduki Finlandia lalu hingga urutan kelima diikuti empat negara Skandinavia lainnya (Norwegia, Islandia,  Denmark, dan Swedia). Lalu siapa yang terbuncit? Untuk tiga peringkat terakhir ternyata diduduki Thailand (59), Indonesia (60), dan Botswana (61). Terkait studinya itu, Miller menjelaskan bahwa indikator kesejahteraan ekonomi sebuah bangsa, tak bisa dilepaskan dari tingkat pengetahuan warganya yang berelasi dengan kualitas budaya melek baca. Setidaknya studi ini bisa menjadi cermin bagi Indonesia yang menduduki peringkat kedua terakhir. Sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia, jelas ini permasalahan yang tak bisa dibiarkan apalagi dianggap sepele. Membaca dan Spirit Kemanusiaan Ketika membaca studi Miller itu, spontan saya teringat dengan tulisan Sindhunata “Belajar Bersama Kuncung dan Bawuk” (Basis, No. 01 – 02, 2008). Dengan menggunakan pendekatan pedagogi pembebasan à la Paulo Freire, Sindhunata menekankan bahwa dalam fase literasi yang paling penting bukanlah sekadar membebaskan buta aksara; tapi lebih pada bagaimana manusia dapat mengenal realitas kehidupan dari kata-kata yang dibentuk melalui aksara. Tahapan awal yang dikehendaki Freire adalah pemanfaatan media visual/gambar sebagai sarana membayangkan berbagai realitas agar dapat mudah ditangkap, dicerna, dan dimaknai oleh anak-anak ketika mereka belajar membaca.  Jika menyimak saksama metode freirean itu, saya menjadi tersadar dengan buku-buku pelajaran membaca terbitan J.B. Wolters pada masa awal kemerdekaan Indonesia yang dibahas Sindhunata. Buku-buku terbitan penerbit itu sungguh terasa dapat menggugah anak-anak Indonesia saat itu untuk bukan sekedar mengenal aksara, tapi juga mengasah imajinasinya agar dapat menangkap realitas di sekelilingnya lalu secara bertahap dirangkai melalui aksara. Aksara memang jalan menuju cakrawala pengetahuan. Tapi, tanpa disertai imajinasi yang terasah, maka aktivitas membaca akhirnya hanyalah sebatas membaca teks; adapun pesan dan makna di baliknya tidak: ditangkap, dicerna apalagi dimaknai. Sejak usia dini, substansi dari aktivitas membaca idealnya menumbuhkan kesadaran seorang anak terhadap nilai-nilai dasariah kehidupan. Misalnya, berkesadaran melestarikan alam, menyayangi makhluk ciptaan Tuhan, menghormati orangtua, toleran menyikapi perbedaan, cinta tanah air dan bangsa, serta jujur dan disiplin dalam berbagai aspek kehidupan. Pada masa awal abad ke-20 hingga awal kemerdekaan, buku-buku pelajaran membaca dirancang sebagai bahan belajar bagi anak-anak menyerap nilai-nilai dasariah itu. Hal itu bisa disimak dari buku-buku seperti Batjoet Sapeuë: Kitab Beuët keu Aneu’ Miët (sejumput dari segala hal: bacaan anak, 1911) karya Mohamad Djam, Soetan Pamènan, dan Nja’ Tjoet untuk siswa-siswa di Aceh; Rusdi jeung Misnem (Rusdi dan Misnem, 1913) karya A.C. Deenik dan Rd. Djajadiredja untuk siswa-siswa berbahasa ibu Sunda; dan Siti koro Slamet (Siti dan Slamet, 1948) karya M. Samoed Sastrowardojo untuk siswa-siswa berbahasa ibu Jawa. Misi yang dituju oleh para penulis buku itu kiranya cukup sama, yaitu ingin membentuk mental anak-anak menjadi pribadi beradab dan berperikemanusiaan di lingkungan keluarga, sosial, dan alam. Inilah pelajaran paling hakiki –lebih dari sekadar belajar mengenal aksara– sebagai bekal mental bagi anak-anak untuk meniti kehidupannya di masa depan. Mari coba untuk menyadari kembali, bagaimana generasi paruh pertama abad ke-20 seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka bisa membayangkan sebuah bangsa yang merdeka dari penjajahan. Ternyata, hal itu bisa terwujud berkat habitus membaca mereka yang kemudian membentuk ide-ide genial dalam mewujudkan kemerdekaan hidup bagi rakyat Indonesia.   Dimulai dari Keluarga Habitus membaca memang harus terus hidup, tapi juga bisa mati jika tak dijaga spiritnya. Memang, sekolah menjadi ruang untuk mengenalkan dan mengembangkan budaya literasi. Tapi juga harus disadari, sekolah hanyalah perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga. Keluargalah yang sebenarnya merupakan ruang penting untuk menjaga kebiasaan membaca terus hidup sejak masa kanak hingga tua. Menjadi bermasalah jika baik orangtua maupun guru tidak gemar membaca buku dan tidak mengetahui manfaat dari budaya membaca. Hasilnya bisa dipastikan, mental mereka yang demikian itu akan mewaris ke anak-anak. Jika saat ini dunia perbukuan –seperti halnya nasib media massa cetak– mengalami kelesuan, penyebabnya bukan semata karena kian beralihnya manusia ke gawai-gawai canggih. Namun, ini lebih disebabkan kian lemahnya habitus membaca di kalangan keluarga Indonesia. Jangan heran jika anak-anak sulit dibendung untuk terbiasa memilih “belajar” menggunakan gawai ketimbang buku. Sekali lagi letak kesalahan bukanlah pada gawainya, melainkan pada bagaimana individu memanfaatkannya secara bijak dan cerdas tanpa harus kehilangan status kemanusiaannya karena takluk oleh teknologi bikinan manusia. Ketika takluk, maka proses belajar menjadi ingin serba mudah, instan, dan kian berjarak jauh dari lingkungan alam, sosial, dan budaya. Artinya, kekhawatiran yang mesti dikhawatirkan saat ini adalah makin lemahnya kepekaan, nalar, dan refleksi manusia dalam menghadapi dan menyikapi berbagai persoalan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara.   Tampaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, perlu mensosialisasikan pentingnya budaya membaca bukan hanya dimulai dari lingkungan sekolah, tapi dari ruang lingkup keluarga. Keluargalah yang paling diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga habitus membaca di kalangan anak-anak. Peran penting keluarga dalam menumbuhkan budaya literasi ini misalnya dipikirkan begitu serius dalam program “Families and Literacy… Where Learning Grows” yang digarap lembaga The Connecticut Family Literacy Initiative & the Study Circles Resources Center (2001). Program ini mencoba mendorong terbentuknya “lingkungan rumah yang melek baca” (literate home environment) dan “keluarga adalah pusat pembelajaran” (family is the center of learning). Tampaknya, program seperti itulah yang saat ini absen di lingkungan keluarga Indonesia. Dengan menciptakan lingkungan rumah yang melek bacadan menekankan keluarga sebagai pusat pembelajaran, tentu ini menjadi langkah sangat penting untuk menanam dan menumbuhkan (kembali) nilai-nilai kemanusiaan pada diri setiap anak Indonesia. (Artikel ini pernah dimuat di Majalah Tempo & Indonesiana) Fadly RahmanDosen Departemen Sejarah dan Filologi FIB Unpad

Berita Dosen

Feminisme Menurut Prof. Aquarini Priyatna

Feminisme kerap disalahartikan oleh banyak orang, mulai dari anggapan untuk menyamaratakan gender, maupun paham yang menyesatkan. Padahal, bukan seperti itu hakikat dari feminisme sesungguhnya. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Aquarini Priyatna, guru besar dalam kajian gender dan ilmu sastra di Universitas Padjadjaran dalam Seminar Academic Leadership Grant (ALG) yang diselenggarakan oleh SDGs Center UNPAD (13/11/2019). Acara yang dipandu oleh Prof. Zuzy Anna selaku Direktur Eksekutif SDGs Center UNPAD ini mengambil tema Subjective Wellbeing: Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan. Mari simak video di bawah ini, untuk tahu seputar feminisme lebih lanjut!

Berita Dosen

Sambal dan Kebangsaan

Sambal tak dapat dipisahkan dari selera makan orang Indonesia. Dari kawasan barat hingga timur dapat dipastikan terdapat aneka jenis sambal. Perbedaan jenis sambal antara satu daerah dengan daerah lain menunjukkan bahwa sambal dapat dinilai sebagai penanda identitas suatu daerah. Fungsi sambal sebagai penggugah selera makan telah mengada jejaknya sejak lampau. Ahli arkeologi Jawa Kuna, Timbul Haryono dan H.I.R. Hinzler menemukan bukti bahwa sambal telah menjadi bagian dari menu makan masyarakat Jawa jauh sebelum cabai (Capsicum) dari Benua Amerika yang dibawa orang-orang Portugis pada abad ke-16 tumbuh di Nusantara. Sebelum cabai masuk ke Nusantara, nenek moyang orang Jawa menggunakan cabya jawa (Piper retrofractum), lada (Piper nigrum), dan jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan membuat sambal. Lain hal dengan di Sumatra Utara yang memiliki andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC), tanaman khas yang sejak dulu hingga kini digunakan sebagai pecitarasa pedas.   Budidaya cabai dari benua Amerika yang terus berkembang diikuti pula dengan kian berkembangnya nafsu makan masyarakat Nusantara terhadap sambal. Kesaksian orang-orang Eropa menjadi bukti betapa gelojohnya masyarakat Nusantara dalam mengkonsumsi sambal. Pada 1621, seorang petualang Prancis, Augustin de Beaulieu, dijamu makan di Istana Aceh. Ia dibuat begitu terkesima dengan sajian hidangan yang melimpah ruah. Satu sajian yang tidak ia sentuh adalah sambal. Bagi orang Eropa seperti Beaulieu, sensasi pedas sambal terkesan begitu mengkhawatirkan bagi pencernaannya. Kesan itu tetap bertahan pada abad-abad kemudian. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, momok terhadap rasa pedas sambal di kalangan orang Eropa berpadu dengan “uji nyali” untuk mencicipinya. Pada 1898, wisatawan Belanda, M. Buys, mencatat suasana makan siang di Hotel Des Indes, Batavia. Dalam menu jamuan makan yang dinikmatinya, ia dibuat terpana dengan sajian aneka jenis sambal. Dalam pandangan penulis Belanda, Augusta de Wit (1896), meskipun hanya berfungsi sebagai kondimen, namun sambaladalah salah satu unsur hidangan pribumi yang kerap membuat  penasaran orang-orang Eropa untuk mencicipinya. Semakin pedas rasa sambal, maka semakin histeris si pencicip dibuatnya. Boleh dibilang, di kalangan orang Eropa, belum bisa dikatakan berjiwa berani jika mereka belum bernyali untuk mencicipi sambal. Tidak heran dalam buku-buku masak masa kolonial, di samping resep sambel goreng dan sambel oelek yang populer, ada aneka jenis resep sambal dengan nama-nama unik. Sebut saja di antaranya sambel badjak, sambel brandal, sambel serdadoe, dan sambel setan. Beb Vuyk, sastrawan Indo yang pernah menulis buku masak masyhur di Belanda, Groot Indonesisch Kookboek (1973), menyebutkan bahwa: “Zonder sambal smaakt de Indonesiër de maaltijd niet” (orang Indonesia tidak dapat menikmati makanan tanpa sambal). Apa yang dikatakan Vuyk memang benar adanya. Jika orang-orang Eropa menilai sambal tak lebih hanya simbol eksotisme timur ala kolonialisme belaka, namun bagi orang-orang pribumi, sambal sungguh penggugah selera makan sejati. Tokoh pergerakan nasional Tjipto Mangoenkoesoemo, mengungkapkan kenikmatan rasa tiada tara ketika ia makan dengan menu sambal terasi dan sambal goreng tempe yang melengkapi hidangan kegemarannya seperti gudeg, sayur asam, sayur lodeh, ikan asin, dan pecel. Begitu juga dengan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Tatkala dalam pengasingannya di Belanda (1913 – 1919), Soewardi kerap menjamu makan saudara-saudara sebangsanya. Sambal goreng hati adalah salah satu jenis olahan dengan bumbu sambal buatan istri Soewardi yang menghiasi menu jamuan bagi para tamunya.       Sekalipun tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Tjipto dan Soewardi telah banyak menempa dan ditempa pengetahuan Barat, namun bukan berarti selera makan mereka menjadi kebarat-baratan. Selera mereka terhadap sambal kian menggugah rasa cintanya terhadap Tanah Air. Kesamaan selera terhadap sambal juga telah menjalin ikatan solidaritas sebagai sesama bangsa. Hal itu tersiratkan pula dari kisah ketika Sukarno, Hatta dan para pimpinan negara ketika  diasingkan oleh Belanda ke Bangka pada masa Agresi Militer tahun 1948 – 1949. Selama diasingkan, sehari-hari mereka mendapatkan makanan kaleng sebagai ransum. Alih-alih rasa makanan kaleng tidak enak dimakan, mereka lantas lebih memilih menikmati sambal dari cabai yang dipetik di kebun. Supaya semua mendapatkan bagian, sambal dibagi sama rata sama rasa. Kecintaan terhadap sambal sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari rumah dan kampung halaman sebagai akar  dari selera makan bangsa Indonesia. Hal itu kiranya terwakili dari selera makan Sukarno yang begitu “rumahan”. Sekalipun telah menjadi sosok “bapak bangsa” dan “pemimpin besar revolusi”, selera makannya tidak pernah bisa luput dari sambal. Berdasarkan penuturan kisah Inggit Garnasih dan Fatmawati, Sukarno adalah seorang pecinta sambal. Dalam menyiapkan menu makan sehari-hari, kedua istri Sukarno ini kerap menyiapkan sambal sebagai pelengkap hidangan favorit sang suami seperti sayur lodeh, sayur asem, dan tempe. Ada senyawa capsaicin dari setiap cabai dalam sambal yang dinikmati para tokoh bangsa pada masa lalu. Bukan hanya sekadar memunculkan efek pedas, capsaicin juga menghasilkan suatu zat yang dinamakan endorphin. Zat ini yang oleh para alkemis diyakini dapat membuat seseorang merasa senang serta mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Kesuka-citaan dan keberanian memperjuangkan kemerdekaan bangsa yang tercermin dari kisah para tokoh bangsa pencinta sambal, mungkin dapat dialegorikan bahwa efek endorphin telah merasuk dalam jiwa mereka. Dengan sensasi pedasnya, sambal telah turut serta dalam menggugah semangat kebangsaan. ***(FR) (Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos, Oktober 2020) Fadly RahmanDosen Departemen Sejarah dan Filologi FIB Unpad

Berita

Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Pengelola Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Senin, 1 Februari 2021. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Prof. Aquarini Priyatna. M.A., M.Hum., Ph. D., melantik dan mengambil sumpah jabatan para Kaprodi, para Kepala Departemen, para Manajer, dan Kepala Unit Internasionalisasi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Dekan melantik para pejabat pengelolanya berdasarkan implementasi Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja (SOTK) yang baru sebagai upaya bagi Fakultas dan Universitas agar dapat melakukan pengembangan tata kelola yang lebih baik lagi dalam suasana struktural yang dinamis. Hal ini salah satunya ialah untuk menempatkan SDM yang tepat untuk mengisi berbagai posisi. Pelantikan dilaksanakan di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Acara pelantikan pun dihadiri dosen, tendik, dan perwakilan mahasiswa secara daring. Berikut Nama-nama Pengelola Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran : Inu Isnaeni Sidiq S.S., M.A., Ph.D. (Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Alumni). Drs. Taufik Ampera M.Hum. (Manajer Riset, Inovasi dan Kemitraan). Prof. Dr. Tajudin Nur M.Hum. (Kepala Departemen Linguistik). Prof. Dr. Hj Nina Herlina Sukmana MS. (Kepala Departemen Sejarah dan Filologi). Prof. Dr. Drs. Cece Sobarna M.Hum. (Kepala Program Studi Doktor Ilmu Sastra). Dr. Elvi Citraresmana S.S., M.Hum. (Kepala Program Studi Magister Linguistik). Dr. Muhamad Adji S.S., M.Hum. (Kepala Program Studi Magister Ilmu Sastra dan Kepala Program Studi Magister Kajian Budaya). Dr. Drs. Hazbini M.Ag. (Ketua Program Studi Sastra Arab). Nani Darmayanti S.S., M.Hum., Ph.D (Ketua Program Studi Sastra Indonesia). Dr. Drs. Ari Jogaiswara Adipurwawidjana MA. (Ketua Program Studi Sastra Inggris). Dr. Sri Rijati Wardiani M.Hum. (Ketua Program Studi Sastra Perancis). Dr. Tri Yulianty Karyaningsih S.S., M.Hum. (Ketua Program Studi Sastra Rusia). Dr. Hera Meganova Lyra S.S., M.Hum. (Ketua Program Studi Sastra Sunda). Dr. Raden Muhammad Mulyadi SS., M.Hum. (Ketua Program Studi Ilmu Sejarah). Amaliatun Saleha S.S., M.Si., Ph.D. (Ketua Program Studi Sastra Jepang). Dr.phil. Dian Ekawati S.S., M.A. (Ketua Program Studi Sastra Jerman). Dr. Ekaning Krisnawati SS., M.Hum. (Ketua Program Studi Diploma 4 Bahasa dan Budaya Tiongkok). Dr. Raden Muhammad Mulyadi SS., M.Hum. (Plt. Ketua Program Studi Magister Sejarah). Hilman Fauzia Khoeruman M.Phil. (Kepala Unit Internasionalisasi Fakultas). Tisna Prabasmoro M.Si., Ph.D. (Plt. Kepala Departemen Susastra dan Kajian Budaya).

Berita

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Rina Indiastuti melantik pejabat Dekan dan Wakil Dekan Fakultas dan Sekolah Pascasarjana di lingkungan Unpad

Pelantikan tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Rektor Unpad Nomor 1-84/UN6.RKT/Kep/HK/2021 tentang Pemberhentian dengan Hormat Dekan dan Wakil Dekan Fakultas dan Sekolah Pascasarjana di Lingkungan Unpad serta Pengangkatan Dekan dan Wakil Dekan Fakultas dan Sekolah Pascasarjana di Lingkungan Unpad. Rektor mengharapkan para Dekan dan Wakil Dekan baru mampu mengimbangi percepatan kemajuan Unpad sebagai PTN Badan Hukum. Sebagai PTN Badan Hukum, Unpad dituntut untuk melakukan peningkatan kinerja dengan cepat, fleksibel, efisien, hingga inovatif. Memiliki target masuk ke dalam 500 besar perguruan tinggi terbaik dunia pada 2024, Rektor menilai kerja sama tim sangat dibutuhkan. “Kita menjadi satu tim besar. Maka tuntutannya adalah mohon kerja sama, kolaborasi yang sinergi kemudian produktif,” kata Rektor. Selain memajukan fakultas, tugas lain pimpinan fakultas dan sekolah pascasarjana adalah berkontribusi dalam kemajuan universitas. Dengan berkontribusi memajukan universitas, Rektor optimistis kemajuan fakultas dan sekolah pascasarjana juga akan tercapai. “Bapak/Ibu tolong berkomunikasi efektif, mempunyai gagasan yang cermat sehingga berhasil berdampak, bermanfaat, dan mendunia,” kata Rektor. Rektor juga mengapresiasi kinerja Dekan dan Wakil Dekan sebelumnya. “Mudah-mudahan kontribusi Bapak/Ibu sekalian menjadi catatan amal dari Bapak/Ibu semua,” kata Rektor. Adapun nama Dekan dan Wakil Dekan yang dilantik adalah sebagai berikut: Dekan 1. Dr. Idris, S.H., M.A., sebagai Dekan Fakultas Hukum; 2. Prof. Dr. Nunuy Nur Afiah, M.S., Ak., sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis; 3. Dr. Yudi Mulyana Hidayat, dr., Sp.OG(K), sebagai Dekan Fakultas Kedokteran; 4. Prof. Dr. Iman Rahayu, S.Si., M.Si., sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam; 5. Dr. Ir. Meddy Rachmadi, M.P., sebagai Dekan Fakultas Pertanian; 6. Dr. Dudi Aripin, drg., Sp.KG., sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi; 7. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, S.IP., S.Si., M.T., M.Si. (han)., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; 8. Prof. Aquarini Priyatna , M.A., M.Hum., Ph.D, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya; 9. Zahrotur Rusyda Hinduan, S.Psi., MOP., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Psikologi; 10. Dr. Rahmat Hidayat, S.Pt., M.Si., sebagai Dekan Fakultas Peternakan; 11. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.H., S.Sos., M.Si., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi; 12. Kusman Ibrahim, S.Kp., M.NS, Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Keperawatan; 13. Dr. Sc.agr. Yudi Nurul Ihsan, S.Pi., M.Si., sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; 14. Dr. Ir. Sarifah Nurjanah, M.App.Sc., sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian; 15. Prof. Dr. Ajeng Diantini, M.Si., Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi; 16. Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Teknik Geologi; dan 17. Dr. med. Setiawan, dr., sebagai Dekan Sekolah Pascasarjana. Wakil Dekan 1. R. Achmad Gusman Catur Siswandi, S.H., LL.M., Ph.D, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FH; 2. Dr. Maret Priyanta , S.H., M.H., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FH; 3. Dr. Maman Setiawan, S.E., MT., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FEB; 4. Dr. Kurniawan Saefullah, S.E., MEc., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FEB; 5. dr. Herry Herman, Sp.OT., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FK; 6. dr. Irvan Afriandi , Grad.Dipl.OEH, MPH, Dr.PH, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FK 7. Yudhie Andriyana, S.Si., MSc., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FMIPA; 8. Dr. Desi Harneti Putri Huspa, S.Si., M.Si, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FMIPA; 9. Nono Carsono, S.P., MSc., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Faperta; 10. Dr. Rija Sudirja, S.P., MT, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi Faperta; 11. Dr. drg. Sri Susilawati, M.Kes, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FKG; 12. Dr. drg. Endang Sjamsudin, Sp.BM, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FKG; 13. Ida Widianingsih, S.IP., MA., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FISIP; 14. Dr. Mohammad Benny Alexandri, S.E., MM, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FISIP; 15. Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FIB; 16. Dr. Mumuh Muhsin Zakaria, M.Hum., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FIB; 17. Fredrick Dermawan Purba, M.Psi., MSc., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset F. Psikologi; 18. Dr. Afra Hafny Noer, M.Sc., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi F. Psikologi; 19. Ir. Indrawati Yudha Asmara, S.Pt., M.Si., PhD., IPM, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Fapet; 20. Dr. Ir. Andre Rivianda Daud, S.Pt., M.Si., IPM, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi Fapet; 21. Dr. Atwar Bajari, M.Si., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Fikom; 22. Dr. Jenny Ratna Suminar, MSi, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi Fikom; 23. Windy Rakhmawati, S.Kp., M.Kep., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Fkep; 24. Restuning Widiasih, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi Fkep; 25. Dr. Ir. Rita Rostika, M.P., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FPIK; 26. Dr. Asep Agus Handaka Suryana, S.Pi., MT, sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FPIK; 27. Robi Andoyo, S.TP., MSC., PhD., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FTIP; 28. Dr. Tita Rialita, S.Si., M.Si., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FTIP; 29. Dr. Aliya Nur Hasanah, S.Si., Apt., M.Si., sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset F. Farmasi; 30. Auliya Abdurrohim Suwantika, S.Si., Apt., MBA., PhD., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi F. Farmasi; 31. Prof. Euis Tintin Yuningsih, S.T., M.T., PhD, sebagai Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset FTG; 32. Dr. Cipta Endyana, S.T., M.T., sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FTG; 33. Dr. R. Ira Irawati, M.Si., sebagai  Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Sekolah Pascasarjana.*

Scroll to Top