



(Apresiasi pada postingan instagram @unpadfib)
Hilman Fauzia Khoeruman, M.Phil., atau lebih akrab dipanggil Pak Hilman, merupakan dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran yang baru saja menyelesaikan program InteRussia Research Fellowship 2026 di Institut Pushkin, Moskow, Rusia. Program bergengsi ini diikuti oleh para ahli dan pendidik global dari 16 negara, termasuk Algeria, Argentina, Bosnia and Herzegovina, India, Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Senegal, Serbia, Sri Lanka, Tajikistan, Tunisia, Turkey, Turkmenistan, Uzbekistan and Vietnam. Keikutsertaan Pak Hilman tidak hanya membawa nama baik universitas di kancah dunia, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi perkembangan akademis di tanah air.
Proses seleksi untuk program InteRussia ini berjalan cukup panjang, dimulai dari bulan Februari hingga pengumuman kelulusan di bulan April 2026. Pak Hilman berhasil lolos setelah melewati beberapa tahapan seleksi dari proposal riset hingga wawancara langsung dengan pihak Institut Pushkin. Wawancara tersebut bertujuan untuk menguji pengalaman mengajar, publikasi ilmiah, serta kontribusi nyata yang telah diberikan pendaftar dalam pengembangan keilmuan Russian Studies.
Meneliti Solusi Kendala Berbicara Mahasiswa Sastra Rusia





Riset yang diangkat oleh Pak Hilman berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa Rusia, khususnya pada aspek percakapan dan mendengarkan, melalui pengayaan keterlibatan penutur asli. Topik ini berangkat dari kerisauan nyata yang dihadapi mahasiswa Sastra Rusia di Indonesia, di mana mereka umumnya memiliki pemahaman gramatikal dan teori yang sangat baik, namun masih menghadapi kendala atau gap saat harus berbicara langsung dengan native speaker. Melalui uji coba kelas khusus bernama Teleaudirovaniye, riset yang diajukan Pak Hilman ini menguji efektivitas keterlibatan penutur asli dalam mempercepat kemampuan adaptasi bicara mahasiswa.
Masterclass dan Ekskursi Budaya Menjadi Kegiatan Harian




Selama berada di Moskow sejak pertengahan Mei 2026, Pak Hilman menjalani aktivitas harian yang sangat padat dari Senin hingga Sabtu. Kegiatan utamanya dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu kelas harian atau masterclass bersama dosen kompeten Institut Pushkin mengenai metode pembelajaran dan tren riset terbaru, kolaborasi penulisan proyek riset bersama, serta ekskursi budaya mingguan. Momen kunjungan ke tempat-tempat bernilai sejarah sastra tinggi, seperti rumah peninggalan sastrawan besar Leo Tolstoy dan Aleksandr Pushkin, badan bahasa, Kremlin, hingga pusat kerajinan piring khas Rusia, menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Pak Hilman.
Keberhasilan program ini membawa dampak positif yang besar. Selain memperluas jejaring hubungan berskala global, Pak Hilman juga berhasil menginisiasi dan menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) resmi antara Universitas Padjadjaran dengan Institut Pushkin Moskow, serta membuka akses lebih luas terhadap materi pembelajaran bahasa Rusia yang kelak dapat disalurkan kepada mahasiswa Sastra Rusia.
Salah satu implementasi dari kerjasama ini adalah dengan adanya kedatangan salah satu profesor dari Institut Pushkin di bidang Bahasa Rusia pada bulan September 2026. Nantinya, profesor tersebut akan mengajar di Prodi Sastra Rusia Unpad selama kurang lebih satu bulan dan melakukan riset bersama dengan para dosen di Prodi Sastra Rusia.
Lalu, bentuk impelementasi kerjasama lainnya adalah penawaran untuk mengikuti seleksi kegiatan Russian Camp di Institut Pushkin pada Agustus – September 2026 di Moskow. Seleksi kegiatan ini dikhususkan bagi para mahasiswa Prodi Sastra Rusia Unpad tahun ini.
Di penghujung wawancara, Pak Hilman menyampaikan pesan dan motivasi yang kuat untuk para peneliti serta seluruh civitas akademika di Indonesia.
“Menurut saya, bagi mereka yang eligible untuk mendaftar, silakan mendaftar. Buktikan bahwa selama ini Anda sudah berkontribusi di bidang masing-masing di Indonesia, baik itu konteks akademik ataupun dalam konteks praktikal.”
Pak Hilman juga dengan terbuka menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta membantu asistensi bagi rekan sejawat atau peneliti lain yang berminat untuk mengikuti program serupa di masa mendatang, dalam rangka peningkatan SDG’s nomor 4 terkait pendidikan berkualitas serta SDG 17 terkait penguatan kemitraan dan kolaborasi antar-institusi, khususnya melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan jejaring akademik.


