Kolaborasi Wayang Ajen dan Wayang China

Rabu (13-Mei-2014) Pribahasa Sunda “Asa Cina dipangwayangkeun” tampaknya tidak berlaku bagi pertunjukan yang digelar Universitas Padjadjaran.  Pertunjukan Wayang Ajen dan Wayang China yang berlangsung Senin, 11 Mei 2015 di Aula Graha Sanusi Harjadinata Bandung ditonton lebih dari 400 orang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran  dan 300 orang tamu undangan. Wayang yang disajikan pada pertunjukan ini ternyata dapat menjadi jembatan komunikasi yang bisa melintasi perbedaan bahasa, budaya dan etnis.

       

Pertunjukan yang diprakarsai oleh Universitas Padjadjaran, Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under the auspices of UNESCO (CRIHAP), dan Fujian Provincial Departement of Culture ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr.. Dalam sambutannya Rektor Unpad mengatakan pertunjukan ini merupakan bentuk konsistensi Universitas Padjadjaran yang ingin mengembangkan dan memajukan Budaya Sunda hingga ketingkat dunia. Salah satunya dengan pertunjukan wayang dua negara ini diharapkan dapat mengangkat wayang Sunda ke tingkat global.

           

 

Pertunjukan wayang yang diawali dengan pertunjukan Wayang Ajen ini membuat penonton terpukau karena pertunjukan dikolaborasikan dengan sajian multi media. Selain itu tokoh-tokoh wayang yang tampilkan selain tokoh-tokoh wayang yang sudah malang melintang di dunia perwayangan juga muncul tokoh-tokoh baru yang sangat dikenal oleh para penonton pemula yang sebagian besar mengisi ruang pertunjukan. Ditemui selepas acara berlangsung Dalang Wawan Gunawan yang merupakan pimpinan dari grup Parwa Pujangga ini menyatakan dirinya sengaja menamai Wayang Golek pimpinannya dengan nama Wayang Ajen. Alumni Program Doktor Kajian Budaya Unpad ini mengatakan istilah Ajen diambil dari Bahasa Sunda yang artinya harga atau nilai dan  Wayang Ajen lahir dari proses kesadaran generasi muda pada wayang golek Sunda tradisi yang asli dengan eksplorasi kreatif. Penampilan yang sedikit berbeda dengan wayang golek pada umumnya ternyata berhasil mendapat apresiasi yang baik dari penonton meskipun dalam waktu yang sangat singkat untuk sebuah pertunjukan wayang golek.

       

Memasuki sesi pertunjukan Wayang China penonton di Graha Sanusi Harjadinata Jalan dipati Ukur 35 Bandung ini makin antusias. Pertunjukan Wayang China dari Provinsi Fujian ini menampilkan Zhangzhou Pupperty Troupe, Jinjiang Hand Puppet Art Heritage Protection Centre, dan Quanzhou Marionette Drama. Para ‘dalang’ (red.) dari China dalam penampilannya hanya menampilkan satu wayang untuk satu orang dalang tidak seperti wayang golek yang bisa memainkan beberapa wayang sekaligus. Namun demikian gerakan yang dihasilkan Wayang China lebih mendetail. Sebagai contoh pada penampilan salah satu wayang yang memerankan aktivitas minum arak dan mabuk. Wayang yang ukurannya tidak lebih dari 50 cm ini dapat melakukan aktivitas mengambil teko, menuangkan arak ke gelas, dan meminum arak langsung dari guci. Aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan wayang dengan sempurna dan sangat detail bahkan mulut dari wayang yang berbaju merah ini pun tampak jelas sedang melakukan aktivitas minum ketika minum arak.

Penanggung Jawab pertunjukan Pagelaran Wayang Ajen dan Wayang China Dekan FIB Unpad, Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed. Ph.D.  mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Universitas Padjadjaran beserta Jajarannya yang telah menfasilitasi dan mendukung kegiatan pertunjukan ini. Sehingga persiapan dan pertunjukan Wayang China dan Wayang Ajen bisa terlaksana meskipun dengan waktu yang cukup singkat. Selanjutnya Dekan FIB juga berharap kepada  Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region under the auspices of UNESCO (CRIHAP), Fujian Provincial Departement of Culture, dan grup Parwa Pujangga (Wayang Ajen) agar kerja sama ini bisa terus berlangsung. (rat/JHS)

Album foto: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.951982014833750.1073741868.591382284227060&type=3

Scroll to Top