
“Burung karasu (sejenis burung gagak) merupakan salah satu hewan yang kerap menimbulkan masalah di Jepang. Burung yang yang berwarna hitam ini seringkali menjadi penyebab bercecerannya sampah rumah tangga di area perumahan di Jepang. Burung yang sering keluar di pagi hari ini seringkali mematuki bahkan mencakari sampah untuk mencari sisa-sisa makanan sehingga mengakibatkan sampah berserakan. Selain itu burung ini juga sering menimbulkan masalah listrik di Jepang karena sarang yang dibuat di tiang-tiang listrik oleh burung karasu ini sering menimbulkan hubungan arus pendek. Dalam menyikapi masalah ini pemerintah dan masyarakat Jepang tidak memilih jalan pintas dengan cara membunuh burung pengganggu tersebut namun dengan cara menyediakan fasilitas untuk burung karasu. Salah satu fasilitas yang diberikan adalah dengan membuatkan sarang di tiang-tiang yang sering digunakan oleh burung karasu.”

Kisah penanganan burung karasu tersebut menjadi salah satu paparan yang disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. pada ceramah yang dilaksanakan selepas sembahyang dzuhur di Masjid Raya Padjadjaran (Bale Aweuhan), Selasa 23 Juli 2015. Dekan FIB menyampaikan kisah burung karasu tersebut berkenaan dengan bagaimana hubungan manusia dengan alam. Selain itu disampaikan pula mengenai budaya malu yang kini mulai pudar dikalangan sivitas akademika Unpad. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari).

Pada ceramah yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Dekan FIB selain mengutip ayat-ayat Quran dan Hadist juga memberikan contoh-contoh yang pernah dialaminya langsung di antaranya terkait dengan sikap pemaaf yang dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan pentingnya sebuah amanat. Pada bagian akhir Dekan FIB mengajak kepada jamaah untuk merenungi kembali apakah nilai-nilai Islam sudah diamalkan dengan baik?. (rat-JHS)
