Integrasi Motif, Teknik Produksi, dan Desain Batik Kasumedangan: Studi Komparatif Batik Citengah, Sumedang dan Batik Cyntok, Kedah sebagai Basis Pengembangan Desain Busana Multikultural Asia

Judul:
Integrasi Motif, Teknik Produksi, dan Desain Batik Kasumedangan: Studi Komparatif Batik Citengah, Sumedang dan Batik Cyntok, Kedah sebagai Basis Pengembangan Desain Busana Multikultural Asia

Resume:
Penelitian ini mengkaji integrasi antara motif, teknik produksi, dan desain dalam batik Kasumedangan dengan pendekatan komparatif antara Batik Citengah (Sumedang, Indonesia) dan Batik Cyntok (Kedah, Malaysia). Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam aspek visual (motif dan ornamen), teknis (proses produksi), serta desain sebagai produk budaya dari dua wilayah yang memiliki latar belakang historis dan budaya yang berbeda.

Melalui pendekatan komparatif dan analisis desain, penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi pengembangan batik sebagai inspirasi desain busana multikultural Asia. Aspek historis dan budaya juga dipertimbangkan untuk memahami bagaimana interaksi lintas wilayah di Asia Tenggara memengaruhi perkembangan batik di kedua daerah tersebut.

Hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan konsep integratif yang menggabungkan kekhasan lokal dari masing-masing tradisi batik menjadi inovasi desain busana yang merepresentasikan identitas multikultural Asia, tanpa menghilangkan nilai tradisional yang melekat.

Periset: Dr. Drs. Taufik Ampera, M.Hum.

Penelitian ini memiliki korelasi erat dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian warisan budaya lokal berupa batik Kasumedangan dan batik Cyntok agar tetap lestari di era modern (Target 11.4). Selain itu, kajian ini mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong pengembangan desain busana multikultural yang berpotensi memajukan industri kreatif serta mempromosikan produk budaya lokal ke kancah regional (Target 8.9). Keterlibatan perbandingan budaya antara Indonesia dan Malaysia dalam riset ini juga merepresentasikan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang memperkuat kolaborasi akademik dan kemitraan lintas batas untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Bagikan berita ini