Author name: hilman

Kegiatan

FIB Unpad Bekerja Sama dengan 16 Fakultas Ilmu Budaya Se-Indonesia Sebagai Upaya Memajukan MBKM

Pada hari Senin 26 Juli 2021 yang lalu telah diadakan acara Penandatanganan Kerja Sama (PKS) antar institusi. Acara tersebut dilaksanakan secara daring dan dihadiri oleh para pimpinan dari 17 institusi, yang terdiri dari Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jendral Soedirman, Universitas Jambi, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro. Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Hasanudin, Universitas Mulawarman, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Halu Oleo, Universitas Sebelas Maret, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Jember. Perjanjian Kerja Sama ini merupakan inisiasi antar institusi sebagai bentuk dukungan penyelanggaraan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek. Dengan adanya kerja sama ini, setiap institusi diharapkan dapat memfasilitasi kolaborasi antar universitas dalam pelaksanaan MBKM. Kolaborasi tersebut mencakup beberapa aspek, di antaranya adalah pertukaran pelajar, petukaran staf pengajar,  dan berbagai kerja sama lain yang mendukung Tri Dharma perguruan tinggi. Capaian utama dari kolaborasi ini adalah mahasiswa dapat terdorong untuk mendapatkan berbagai kompetensi – baik kompetensi utama ataupun komeptensi penunjang, di luar kompetensi keprodian melalui pengalaman belajar secara trans-institusional. Selain itu, pengalaman belajar mahasiswa di luar institusinya pun diharapkan dapat memberikan warna baru dan memperkaya proses belajar mahasiswa di jenjang perguruan tinggi. Tidak hanya itu, kerja sama ini pun meliputi diharapkan dapat memfasilitasi terbentuknya kerja sama dalam penyelenggaraan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia. Sebelum dilaksanakannya Penandatanganan Kerja Sama, acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Dr. Made Sri Satyawati, M.Hum,. dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development Universitas Airlangga, Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, Drh., DEA. Penandatanganan dilaksanakan secara simbolis. Acara ditutup dengan disampaikannya kesan dan pesan oleh Dekan FIB Universitas Airlangga, Dekan FIB Universitas Indonesia, dan Dekan FIB Universitas Hasanudin. Sebagai bentuk dukungannya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Prof. Aquarini Priyatna, M.A., M.Hum., Ph.D.,  menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan hal yang penting karena dapat membuka peluang bagi mahasiswa, dosen, dan ke 16 FIB dan 1 FKIP di seluruh Indonesia untuk saling belajar dan saling melengkapi. Bagi FIB UNPAD sendiri, kerja sama ini memberi peluang yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan jaringan kerja sama dengan sejawat dari lembaga lain baik dalam bidang pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Berita Dosen

BKR (BADAN KEAMANAN RAKYAT): CIKAL BAKAL TENTARA INDONESIA?!

Anggapan bahwa PETA (Pembela Tanah Air) merupakan (satu-satunya) pelopor ketentaraan di Indonesia sudah beredar dan diyakini sejak lama. Namun, anggapan ini sepertinya kurang lengkap, karena banyak kesatuan militer lainnya yang anggotanya kemudian menjadi bibit-bibit pembangun TNI (Tentara Nasional Indonesia). Dalam upaya melengkapi diskusi mengenai muasal keprajuritan nasional ini, tim yang terdiri dari dosen sejarah Universitas Padjadjaran (Widyo Nugrahanto, Rina Adyawardhina, dan Budi Gustaman) menerbitkan penelitian yang berkaitan dengan hal ini. Sesuai dengan judulnya, artikel ilmiah tersebut menggadang-gadang BKR (Badan Keamanan Rakyat) sebagai cikal bakal tentara Indonesia.  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah, dengan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian ini didapatkan dari Perpustakaan TNI AD dan Dinas Sejarah TNI AD di Bandung, serta dari Monumen Pers di Surakarta. Sumber yang dapat dihimpun merupakan buku-buku mengenai sejarah militer dan koran-koran sezaman. Setelah sumber itu diolah sesuai dengan tahapannya, dapat diperoleh kesimpulan hasil penelitian sesuai yang akan diuraikan di bawah. Alasan bahwa PETA merupakan cikal bakal TNI bisa disanggah jika melihat legalitas kelembagaannya. PETA yang didirikan pada 3 Oktober 1943 dibubarkan Jepang setelah Indonesia merdeka. Selain itu, dengan menjadikan PETA sebagai (satu-satunya) cikal bakal TNI berarti menafikan satuan keprajuritan lain seperti KNIL, Giyugun dan Heiho–yang mana beberapa mantan anggotanya menjadi bagian penting dalam Tentara Nasional Indonesia.  BKR (Badan Keamanan Rakyat) dalam hal ini menjadi penting, karena secara kelembagaan merupakan bentukan legal dari Pemerintah Indonesia, di tengah adanya kekosongan satuan keprajuritan pada awal lahirnya negara Indonesia. Meski anggotanya sebagian besar merupakan bekas tentara PETA, dan dalih pendirian BKR ditujukan untuk penolong keluarga korban perang, tapi di balik itu ada suatu rintisan dan upaya yang terorganisir untuk membentuk satuan ketentaraan. Interpretasi bahwa BKR adalah cikal bakal TNI merupakan upaya untuk memberagamkan perspektif dalam penulisan sejarah militer di Indonesia. BKR resmi dibentuk lima hari setelah proklamasi (23 Agustus 1945), dalam upaya pengorganisasian angkatan bersenjata yang dilakukan pemerintah Republik (Kahin, 2013: 204). Pengorganisasian ini merupakan bentuk pengumpulan kembali prajurit-prajurit PETA yang telah dilucuti senjatanya. PETA dibentuk Jepang pada 3 Oktober 1943 dengan tujuan mempertahankan setiap wilayah yang menjadi basis pertahanan Jepang di Indonesia dalam rangka memenangkan Perang Pasifik. Namun demikian, para tokoh pemimpin Indonesia, seperti Soekarno, memiliki anggapan lain. PETA dijadikan momentum untuk pengenalan aspek-aspek ketentaraan bagi para pemuda. Bahkan, dalam otobiografinya, Soekarno menyebutkan bahwa PETA digunakan untuk melawan Belanda atau siapapun yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokoh yang merupakan hasil didikan PETA adalah Soedirman.  Berbeda dengan PETA di Jawa, cikal bakal tentara nasional di Sumatera secara khusus merujuk pada Giyugun. Pembentukan Giyugun ini didasari perubahan strategi perang Jepang yang mengalami kemerosotan di beberapa front pertempuran. Jepang mulai mengkonsolidasikan pertahanan di wilayah-wilayah pendudukan (Zed, 2005: 27-28). Beberapa pribumi juga pernah dididik dalam satuan tentara kolonial bernama KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger) yang didirikan sejak 1830 (Matanasi, 2007: 16-17). Oerip Soemohardjo, Didi Kartasasmita, A.H. Nasution. TB Simatupang, dan Alex Kawilarang adalah tokoh-tokoh militer Indonesia yang pernah menjadi prajurit KNIL dan mengenyam pendidikan militer Belanda. Dari beberapa kesatuan militer ini terlahir tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam pendiri BKR. Bibit-bibit tentara alumni KNIL tersebut kadang memiliki pandangan militer yang berbeda dengan prajurit PETA. Bahkan di antara mereka ada suatu kecurigaan karena perbedaan visi. Misalnya saat terjadinya perbedaan pendapat soal kandidat ketika pemilihan panglima militer di Yogyakarta pada 12 November 1945. Para mantan KNIL berharap Oerip-lah yang dapat memenangkan pemilihan tersebut. Alasannya, Oerip adalah tokoh senior yang dianggap mumpuni dan cakap dalam organisasi kemiliteran. Akan tetapi, pandangan berbeda berkembang dalam pemikiran mantan PETA yang hadir dalam rapat itu. Rupanya mereka masih punya kecurigaan pada perwira-perwira mantan KNIL, karena mereka dianggap sebagai perwira didikan Belanda (Majalah Tentara Keamanan Rakyat, 10 Januari 1946). BKR pada dasarnya bukan satuan ketentaraan. Namun demikian, BKR sebagai suatu badan telah melakukan tugas-tugas militer. Ben Anderson (2018: 117- 118) menyebutkan bahwa pembentukan BKR merupakan hasil kompromi antara dua pihak yang memiliki perbedaan pandangan dalam strategi perjuangan. Otto Iskandardinata sebagai kepala Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) serta beberapa orang yang masih ingin menjalin hubungan baik dengan Jepang, menghendaki pembentukan BKR dengan maksud untuk menjaga ketertiban umum dari perampokan, pembunuhan, dan anarki sporadis. Bagi mereka, fungsi BKR ialah untuk memperkuat polisi dalam memelihara hukum dan ketertiban, serta memelihara wibawa pemerintah. Sementara di sisi lain, bekas perwira KNIL dan PETA segera menghendaki pembentukan tentara nasional pada saat itu juga. Keinginan para bekas perwira tersebut kemudian tercapai pada 5 Oktober 1945, setelah BKR diubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pengumuman pembentukan TKR hampir tidak berdampak lebih dari sekedar memberikan nama lain kepada BKR lokal dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya (Anderson, 2018: 275).  Tujuan Presiden Soekarno membentuk satuan ketentaraan ini adalah untuk memperkuat perasaan keamanan umum (Fattah, 2005: 46). Selain itu, pembentukan tentara dengan nama keamanan rakyat ini dimaksudkan untuk dapat menjadi sebuah pertanda bagi Sekutu maupun Jepang bahwa tentara yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia bukanlah untuk menghadapi musuh, melainkan untuk menangani masalah dalam negeri, yaitu keamanan rakyat. Namun, di sisi lain pembentukan kesatuan tentara ini dimaksudkan sebagai spontanitas perlawanan yang hampir terjadi di setiap daerah tanpa adanya kesatuan komando (Notosusanto, 1991: 40).  Oerip Soemohardjo, sebagai Kepala Staf Umum, menginisiasi pembentukan divisi-divisi di TKR. Awalnya, ia hanya akan membentuk empat divisi saja, yakni tiga di Jawa dan satu di Sumatra. Namun, urung terjadi karena tingginya antusiasme pemuda yang mendaftar sebagai anggota. Kuota pendaftaran pun diperbanyak. Di Sumatra, anggota TKR banyak berasal dari Barisan Pemuda Republik Indonesia (BPRI) dan Pemuda Indonesia (PI), sedangkan di Jawa banyak berasal dari PETA dan Heiho (Soeara Merdeka, 10 November 1945). Pada akhir tahun 1945, timbul konsep keselamatan untuk merubah konsep keamanan dengan harapan tentara akan lebih memperluas dan memperdalam tugas ketentaraannya (Nasution, 1970: 258). Pemerintah mengabulkan, lalu menerbitkan surat penetapan pada tanggal 8 Januari 1946. Sejak saat itu, nama tentara secara resmi disebut sebagai TKR (Tentara Keselamatan Rakyat) (Notosusanto, 1991:43). Begitu juga nama Kementerian Keamanan digantikan menjadi Kementerian Pertahanan (Nasution,1970: 258-259). Tidak sampai satu bulan, nama satuan militer Indonesia kembali berubah pada 26 Januari 1946. Pemerintah mengeluarkan maklumat pergantian menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Alasannya adalah untuk membentuk kesatuan tentara yang lebih sempurna dengan melihat beberapa contoh dari bangsa lain. Perubahan nama

Berita

PENTINGNA NGARIKSA BASA INDUNG MALAR KAARAH MANGPAAT

PENTINGNA NGARIKSA BASA INDUNGMALAR KAARAH MANGPAATNA Sumanget kasundaan jadi salah sahiji pamiangan jeung tatapakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dina ngawujudkeun tagline “Ngakar di Sarakan, Punjul di Buana” nu digedurkeun ku Dékan FIB Unpad, Prof. Aquarini Priyatna, M.Hum, M.A., Ph.D.  Internasionalisasi fakultas mémang jadi program utama nu kiwari keur dihangkeutkeun. Malah salah sahiji program strategisna ogé nyaéta ngaguar tur ngadumaniskeun topik-topik kasundaan dina rupa-rupa panalungtikan nu baris diwacanakeun sarta dipublikakeun di ranah internasional. Hal éta ditepikeun ku Prof. Atwin (kitu nénéhna) dina pangbagéa Miéling Poé Basa Indung Sadunya nu diayakeun ku Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Unpad rukun gawé jeung Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass), Senén, 22 Februari 2021 nu anyar kaliwat ngaliwatan zoom nu dihadiran ku leuwih ti 700 pamilon. Internasionalisasi Fakultas Ilmu Budaya téh ceuk Prof. Atwin penting kacida. Ajén-inajén lokalitas kasundaan jadi bekel penting pikeun ngawujudkeunana nu bisa diadumaniskeun jeung rupa-rupa widang kaélmuan nu nyampak di prodi-prodi nu aya di Fakultas Ilmu Budaya Unpad, munasabah Fakultas Ilmu Budaya Unpad ogé mibanda prodi Sastra Sunda nu pancénna “ngagelarkeun” sarjana-sarjana nu jembar wawasanana. “Di Prodi Sunda tangtos waé aya dosén-dosén anu hébat nu saleresna tiasa sareng mibanda poténsi pikeun ngigelkeun kasundaan di ranah internasional,” ceuk Prof. Atwin bangun nu reueus. Ari salila ieu publikasi-publikasi kasundaan téh kurang  ceuyah lamun dibandingkeun jeung publikasi-publikasi étnis séjén nu aya di Indonesia. “Pangalaman sim kuring pribadi waktu ngaréngsékeun révisi paper. Harita sim kuring perlu informasi ngeunaan kasundaan. Nya sim kuring nyobi milarian di perpustakaan digital. Geuning kecap Sunda, dina rupa-rupa publikasi jurnal bereputasi nu bisa dirujuk ku balaréa téh teu muncul. Dina waktos nu sanés sim kuring ngetik javannesse, ngabaris rupa-rupa bahasan ilmiah ngeunaan pangaweuh Jawa. Nya éta waktos ngetik kecap Sundanis mah langka pisan aya informasi sareng publikasi ilmiah nu aya patalina jeung basa katut budaya Sunda téh,” ceuk Prof. Atwin bangun nu manghanjakalkeun. Hal éta ceuk Prof. Atwin deui, tangtu waé jadi PR urang saréréa, lain waé keur Unpad, Fakultas Ilmu Budaya jeung Prodi Sastra Sunda, tapi oge jadi PR keur sakumna mahasiswa jeung masarakat nu enya-enya micinta tur mikanyaah basa katut budaya Sunda. Basa jeung budaya Sunda tangtu bisa dipaké tandang makalangan di dunya internasional, Ajip Rosidi geus nyontoan hal éta ku rupa-rupa ketak, karya jeung préstasina di lingkungan internasional. Malah dina waktu anjeunna narima gelar Doktor Honoris Causa ti Unpad dina taun 2011, apan dina pidato panarimaan gelarna ogé maké basa Sunda. “Di lingkungan Unpad, basa Sunda bisa dipaké basa panganteur nu hakna satata jeung basa Indonésia katut basa Inggris nu bisa dipaké dina kagiatan sapopoé sivitas akademika Unpad, hal éta écés kaunggel dina statuta Unpad jeung lamun nilik kana sajarah ngadegna ieu kampus mémang ditujukeun pikeun ngatik warga Jawa Barat bari teu mopohokeun kana kasundaanana.” Dina pamungkas pangbagéa, Prof. Atwin ogé nepikeun harepanana yén kagiatan Miéling Poé Basa Indung Sadunya nu digagas ku Prodi Sastra Sunda téh muga-muga baris jadi uar pangajak ka sakumna urang Sunda nu boga kénéh raga katineungna kana basa indung, supaya basa jeung budaya titinggal karuhun téh tetep dipiara jeung dimumulé. Sapamadegan jeung Dékan FIB Unpad, Ketua Prodi Sastra Sunda FIB Unpad, Dr. Hera Meganova Lyra, M.Hum., ogé nétélakeun pentingna basa Sunda (basa Indung) sangkan terus dimumulé hirup jeung huripna. Lantaran ceuk ieu kaprodi teureuh Karawang téh, dina basa indung nyampak rupa-rupa nilai positif, “Dina basa Sunda aya nilai étika, aya nilai rasa, aya nilai karakter sareng aya nilai batin. Éta rupa-rupa nilai positif téh tangtu kedah teras nganteng diwariskeun ti generasi ka generasi supados nonoman-nonoman urang Sunda téh teu pareumeun obor jeung nyaho kana kabeungharan basa katut budayana sorangan,” ceuk Dr. Hera tandes naker. “Basa Sunda téh jadi salah sahiji bagian tina basa daérah jeung basa indung nu aya di nusantara ogé alam dunya. Kiwari nasibna sarua jeung basa daérah-daérah séjeénna nu teu weléh dikukuntit ku karisi baris leungit panyaturna. Nya ku hal éta pisan, urang gaduh pancén kanggo terus ngamumulé jeung ngariksa sangkan basa jeung budaya titinggal karuhun nu luhung ajénna jeung nyampak rupa-rupa élmu pangaweruh téh baris tetep dipaké jeung puguh hirup jeung huripna,” ceuk Dr. Hera mungkas pangbagéana. Ari nurutkeun panyatur kahiji, Dr. Gugun Gunardi nu ogé jadi salah sahiji dosén di Prodi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Unpad, nurutkeun sawangan jeung pangalaman sapopoéna mah, mémang nu maraké basa Sunda di lingkungan kota mah mingkin ngurangan. Masarakat leuwih loba nu maké basa Indonesia jeung diajar basa deungeun. “Kaayaan di lingkungan perumahan Bandung mah tos tiasa disebat langki nu nganggo basa Sunda, komo nu nganggo undak usuk basa mah. Upami sakalian mendakan, biasana nganggo basa kasar atawa basa Sunda nu kamalayon,” ceuk Dr. Gugun bangun nu manghanjakalkeun. Dina éta kasempetan, Dr. Gugun miharep masarakat sadar kana pentingna ngawariskeun basa Sunda ka barudakna, “Margi ari diajar basa mah kedah dibiasakeun ti aalit. Diwanohkeun ku sepuhna di lingkungan kulawarga. Upami teu dibiasakeun kitu, tangtos waé basa Sunda bakal leungit sareng pegat panyaturna,” pokna deui. Dr. Gugun ogé nandeskeun, diajar basa deungeun kacida pisan pentingna dina jaman kiwari mah, lantaran ngaliwatan média basa asing baris bisa ngawanohkeun kabeungharan jeung kapunjulan budaya jeung basa Sunda ka tingkat internasional, “Tapi teu kenging dugi ka hilap kana basa Indung basa Sunda mah,” pokna ngawanti-wanti. Panyatur kadua, Agis Cantini nu kiwari masih nyuprih élmu di Prodi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Unpad nu oge jadi influencer nu followerna ngarebu, nepikeun pentingna ngabiasakeun maké basa Sunda dina gunem catur sapopoé utamana dina media sosial, nu kiwari jadi lapak pikeun para nonoman ngaéksprésikeun karesepna. “Dina Youtube, Facebook, Instagram, Twitter atanapi Tiktok, biasakeun dina ngadamel status atanapi konten nganggo basa Sunda. Ku cara dianggo dina media sosial, hartosna basa Sunda ngiring kapromosikeun supados dianggo gunem catur.” Ari nurutkeun panyatur pamungkas, Riki Nawawi, M.Hum., alumni Prodi Sastra Sunda jeung Guru Basa Sunda SMA Al-Masoem Bandung, ngahatéan para nonoman sangkan ngabiasakeun nyarita maké basa Sunda bari teu kudu sieun salah atawa ngarasa teu bisa. Basa Sunda téh penting, lantaran ngandung nutrisi anu “séhat” keur lahir & batin manusana. Éta gizi basa Sunda téh di antarana nyampak dina babasan jeung paribasana jeung dina kasusastraanana. “Ku éta nutrisi waé, mun enya dibacana,

Agenda, Kegiatan

WEBINAR MIELING POE BASA INDUNG SADUNYA: EKSISTENSI BASA INDUNG DI JAMAN KIWARI

Dina raraga ngareuah-reuah Poe Basa Indung Sadunya, Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara rukun gawe jeung Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass), baris ngayakeun “WEBINAR MIELING POE BASA INDUNG SADUNYA: EKSISTENSI BASA INDUNG DI JAMAN KIWARI” nu baris dilaksanakeun dina: 📆 Senen, 22 Februari 2021🕖 Jam 19.00📍 Zoom Meetinghttps://zoom.us/j/96422741618?pwd=MXJZUlNuYzB0aW95SFhBZ2V6cUViUT09Meeting ID: 964 2274 1618Password: 208400 Pangjejer ka-1DR. GUGUN GUNARDI, M.HUM.(Dosen Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran) Pangjejer ka-2RIKI NAWAWI, M.HUM.(Alumni Program Studi Sastra Sunda, Guru SMA Al-Masoem jeung Redaktur Rawayan.id) Pangjejer ka-3AGIS CANTINI(Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran) Panumbu Catur:Fahri Fadilah Kholis(Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran) Kanggo umum sareng disayogikeun sertifikat kanggo para pamilon webinar. Hatur nuhun, mangga diantos kasumpinganana dina waktosna.

Scroll to Top