Jilbab: Budaya Pop dan Identitas Muslim (Kota) di Indonesia

Kamis (30-04-2015) mengakhiri bulan April 2015 Departemen Susatra dan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unpad menggelar seminar berjudul “Jilbab: Budaya Pop dan Identitas Muslim (Kota) di Indonesia” dengan narasumber Dr. Lina Meilinawati Rahayu. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Dekan I FIB Unpad Dr. Mumuh Muchsin Z, M.Hum. dihadiri oleh mahasiswa program sarjana, mahasiswa program pascasarjana, dan dosen. Dalam sambutannya Mumuh menyampaikan apresiasi yang disampaikan oleh pimpinan universitas kepada FIB Unpad  yaitu sebagai salah satu fakultas yang sangat aktif menggelar kegiatan ilmiah khususnya yang diselenggarakan oleh departemen. Dalam hal ini Wadek I FIB Unpad menyatakan Departemen Susatra dan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unpad merupakan departemen yang paling sering menggelar kegiatan ilmiah.

Memasuki sesi seminar Dr. Lina Meilinawati Rahayu dalam paparannya menjelaskan jilbab saat ini di masyarakat muncul dengan beberapa istilah seperti kerudung, jilbab, dan hijab. Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia ini menyatakan awal kebangkitan penggunaan jilbab di masyarakat  mulai tahun 1990-an bahkan memasuki tahun 2000-an jilbab menjadi pilihan fasion bagi sebagian besar kaum wanita. Namun demikian kondisi tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi pada tahun 80-an di mana saat itu masih sangat sedikit masyarakat yang menggunakan jilbab. Hal ini terjadi salah satunya dengan adanya larangan penggunaan jilbab di sekolah negeri dan pegawai negeri sipil melalui SK No 052/1982.

  

Penelitinan mengenai jilbab saat ini sudah sering dilakukan, dalam presentasinya Lina menyebutkan setidaknya ada lima penelitian yang bertemakan jilbab di antaranya “Komunitas Jilbab Kontemporer Hijabers di Kota Makasar (rima Hardiyanti, 2012); Busana Muslim dan Kebudayaan Populer di Indonesia: Pengaruh dan Persepsi (Elizabeth Raleigh, 2004); Pakaian, Gaya, dan Identitas Perempuan Islam (Heru Prasetia dlm Jurnal Srinthil, 2009); dan Jilbab: Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan (Fadwal El Guindi, 2013). Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari ini berlangsung tidak monoton  karena dalam presentasinya narasumber sering menyisipkan pengalaman-pengalamannya ketika ia berjilbab maupun pendapat orang-orang mengenai jilbab yang ia kumpulkan dengan gaya khasnya. (rat/JHS).

Scroll to Top