Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran turut mengambil bagian dalam Ekspedisi Patriot 2026, program strategis Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang mempertemukan ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat untuk mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi.




Program ini melibatkan 1.476 personel yang terdiri atas 246 ketua tim dan 1.230 anggota. Mereka terbagi ke dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia, meliputi 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua. Para Patriot berasal dari kalangan akademisi dan talenta muda yang direkrut melalui 10 perguruan tinggi negeri mitra.
Universitas Berpartisipasi di Ekspedisi Patriot
Sepuluh perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, IPB University, Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Diponegoro, dan Universitas Brawijaya. Kolaborasi lintas kampus ini dirancang untuk menghadirkan tim multidisiplin yang mampu membaca persoalan lapangan secara menyeluruh dan menyusun solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pada pelaksanaan tahun ini, Unpad memberangkatkan 24 tim yang terdiri atas 24 dosen sebagai ketua tim dan 120 anggota. Sebanyak 20 tim ditempatkan di kawasan Fakfak, Papua Barat, sedangkan empat tim lainnya ditugaskan masing-masing di Kotawaringin Barat, Pulau Nibung, dan Kapuas di Kalimantan Tengah, serta Lagita di Bengkulu Utara. Pelepasan kontingen Unpad telah dilaksanakan di Auditorium Balai Santika, Kampus Unpad Jatinangor, pada Jumat, 24 Juli 2026.
Peran FIB Unpad
Dari FIB Unpad, dua dosen dipercaya menjadi ketua tim Ekspedisi Patriot 2026, yaitu Dr. Taufik Ampera, M.Hum., dan Dr. Yudi Permadi, M.Hum. Keduanya mendapat penempatan di Papua Barat. Selain dua dosen tersebut, sejumlah alumni FIB Unpad juga terlibat sebagai anggota tim. Keterlibatan sivitas dan alumni FIB menunjukkan bahwa perspektif ilmu budaya memiliki peran penting dalam memahami kondisi sosial, bahasa, sejarah, pengetahuan lokal, serta pola interaksi masyarakat yang menjadi dasar pelaksanaan program pemberdayaan.
Rangkaian persiapan lapangan dimulai pada 25 Juli 2026 melalui pembekalan di Green Forest, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembekalan nasional dan pelepasan peserta pada 29–30 Juli 2026 di Balai Kartini, Jakarta. Selama pembekalan, para Patriot memperoleh penguatan mengenai kepemimpinan, kolaborasi multipihak, hilirisasi, kewirausahaan, ekonomi kreatif, komunikasi publik, ketahanan lapangan, serta tata kelola pelaksanaan program.
Ekspedisi Patriot 2026 tidak berhenti pada kegiatan penelitian. Tim ditugaskan memetakan potensi daerah, mengidentifikasi persoalan pembangunan, mengembangkan komoditas unggulan, memperkuat ekonomi kreatif dan UMKM, serta menghimpun data terkait pertanahan dan tata ruang. Setiap tim juga diharapkan menyusun rekomendasi dan rencana tindak lanjut berbasis data agar kawasan transmigrasi dapat berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pelaksanaan tahun 2026 diarahkan untuk menindaklanjuti hasil riset Ekspedisi Patriot 2025. Temuan dan rekomendasi tahun sebelumnya diharapkan tidak hanya berhenti sebagai laporan akademik, melainkan diterjemahkan menjadi pendampingan, studi kelayakan, penguatan kelembagaan, serta aksi nyata yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka peluang kerja, dan memperkuat kemandirian kawasan.
“Melalui Ekspedisi Patriot 2026, dapat menindaklanjuti hasil riset Ekspedisi Patriot 2025, dengan mengubah hasil riset menjadi aksi nyata untuk kemajuan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan,” ujar Dr. Taufik Ampera, M.Hum.
Penugasan di Papua Barat
Masa penugasan disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Tim yang bertugas di luar Papua menjalankan pengabdian selama sekitar 120 hari, sedangkan tim yang ditempatkan di kawasan Papua dijadwalkan bertugas hingga 360 hari. Durasi yang lebih panjang di Papua memberi ruang bagi tim untuk membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, melakukan pendampingan secara berkelanjutan, dan memastikan program yang dirancang dapat diterapkan sesuai konteks lokal.
Keikutsertaan Dr. Taufik Ampera, M.Hum., Dr. Yudi Permadi, M.Hum., dan para alumni FIB Unpad diharapkan menjadi kontribusi nyata fakultas dalam mendukung pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui kerja kolaboratif bersama masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya, Ekspedisi Patriot 2026 diharapkan mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi yang berdampak bagi kawasan transmigrasi.
Partisipasi ini memiliki keterkaitan erat dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui pengiriman akademisi ke kawasan transmigrasi di Papua Barat dan wilayah prioritas lainnya, perguruan tinggi menerapkan ilmu pengetahuan serta riset terapan untuk mendorong pembangunan daerah tertinggal guna memperkecil kesenjangan sosial-ekonomi. Selain itu, program Ekspedisi Patriot 2026 ini wujud nyata kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Transmigrasi, 10 perguruan tinggi negeri, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal untuk menciptakan solusi berbasis data yang berkelanjutan bagi kemajuan kawasan transmigrasi.
