SDG 2025

Berita, SDG 2025

Pelatihan Menjahit: Membuka Ruang Kreatif bagi Perempuan

Aliyah Zahra Saffanah Pada pertengahan tahun 2025, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran menghadirkan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan menjahit. Program ini ditujukan bagi warga di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor dan berhasil menarik 15 peserta, sebagian besar perempuan, yang ingin mempelajari keterampilan baru sekaligus membuka peluang untuk menambah penghasilan. Pelatihan dibuka pada 20 April 2025 dan berlangsung secara rutin setiap hari Minggu mulai Juni hingga 13 Juli 2025. Selama kegiatan, peserta mendapatkan bimbingan langsung dari dua instruktur berpengalaman, Ibu Reni Taviriani dan Bapak Iwan Purnawan. Mereka tidak hanya mengajarkan dasar-dasar menjahit, seperti mengenal alat, cara menggunakan mesin, hingga membuat pola sederhana, tetapi juga mendampingi peserta dalam menghasilkan produk yang siap pakai. Bagi para perempuan yang mengikuti, kegiatan ini menghadirkan manfaat ganda. Di satu sisi, mereka memperoleh keterampilan teknis yang praktis dan bisa langsung digunakan. Di sisi lain, pelatihan menjahit membuka kesempatan untuk lebih mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial. Dengan bekal keterampilan ini, peserta dapat mencoba memulai usaha kecil, menjual produk buatan tangan, atau sekadar membantu memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Beberapa peserta masih berusia sangat muda sehingga belum memungkinkan menggunakan jarum atau mesin jahit. Untuk mereka, diberikan kursus menyulam sebagai alternatif yang lebih aman. Menjelang akhir kegiatan, pada 13 Juli 2025, hasil karya menyulam yang terbaik mendapatkan hadiah khusus sebagai bentuk apresiasi. Selain menjadi sarana belajar, pelatihan juga menjadi ruang interaksi sosial. Para peserta saling bertukar cerita, memberikan dorongan semangat, hingga menjalin relasi yang bermanfaat di luar kegiatan. Ruang bersama ini menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu mengembangkan potensi diri, terlepas dari keterbatasan yang ada. Inisiatif sederhana ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan tidak harus selalu melalui program berskala besar. Melalui keterampilan sehari-hari seperti menjahit, perempuan dapat memperoleh peluang baru untuk berkembang. Pelatihan menjahit di FIB Unpad menjadi contoh nyata bagaimana langkah kecil dapat membawa dampak besar dalam membuka jalan menuju kemandirian, kesejahteraan, dan kesetaraan bagi perempuan di tingkat komunitas.

Berita, SDG 2025

Enhancing Education Quality Through a Diverse and Well-Structured Curriculum

Jatinangor, September 2nd, 2025—In its commitment to improving the quality of education, the Faculty of Cultural Sciences at Universitas Padjadjaran requires students to take faculty-wide compulsory courses outside their own study programs. These courses cover a wide range of disciplines, including religion, civics, culture, philosophy, cultural diplomacy, tourism, entrepreneurship, and many more—each carefully designed with a detailed Rencana Pembelajaran Semester (RPS) or Semester Learning Plan to ensure effective delivery and absorption of knowledge. By offering this diverse curriculum, FIB demonstrates its dedication to fostering interdisciplinary understanding while enhancing educational quality. The courses are designed to equip students with not only academic and practical skills but also essential soft skills to thrive in various professional and global contexts. Each course is supported by a comprehensive and structured RPS, outlining clear learning outcomes, assessment methods, updated reference materials, and other key components. The presence of this framework underscores the faculty’s strong commitment to competency-based education and student-centered learning. FIB’s compulsory courses emphasize critical literacy, research skills, and cross-cultural understanding, reflecting the faculty’s dedication to providing students with accessible, high-quality education. The flexibility of the curriculum allows for a personalized and relevant learning experience, ensuring students can apply theoretical knowledge to real-world contexts. Through this approach, FIB Unpad aims to produce graduates who are well-prepared to contribute to the advancement of education and knowledge, both in Indonesia and on a global scale. Jatinangor, September 2nd, 2025—In its commitment to improving the quality of education, the Faculty of Cultural Sciences at Universitas Padjadjaran requires students to take faculty-wide compulsory courses outside their own study programs. These courses cover a wide range of disciplines, including religion, civics, culture, philosophy, cultural diplomacy, tourism, entrepreneurship, and many more—each carefully designed with a detailed Rencana Pembelajaran Semester (RPS) or Semester Learning Plan to ensure effective delivery and absorption of knowledge. By offering this diverse curriculum, FIB demonstrates its dedication to fostering interdisciplinary understanding while enhancing educational quality. The courses are designed to equip students with not only academic and practical skills but also essential soft skills to thrive in various professional and global contexts. Each course is supported by a comprehensive and structured RPS, outlining clear learning outcomes, assessment methods, updated reference materials, and other key components. The presence of this framework underscores the faculty’s strong commitment to competency-based education and student-centered learning. FIB’s compulsory courses emphasize critical literacy, research skills, and cross-cultural understanding, reflecting the faculty’s dedication to providing students with accessible, high-quality education. The flexibility of the curriculum allows for a personalized and relevant learning experience, ensuring students can apply theoretical knowledge to real-world contexts. Through this approach, FIB Unpad aims to produce graduates who are well-prepared to contribute to the advancement of education and knowledge, both in Indonesia and on a global scale. By Dilla Maharani Putri

Berita, SDG 2025

FIB dan Berbagai Ruang Kerja Bersama

Tahun ini, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran telah dilengkapi dengan lingkungan belajar yang memfasilitasi pembelajaran hybrid yang efektif bagi mahasiswa dan dosennya. Di semua area, WiFi gratis dan fasilitas digital disediakan untuk memastikan bahwa pembelajaran online dan offline sejalan dengan produktivitas, kenyamanan, dan kebersamaan.  Ketika pengunjung pertama kali masuk ke Gedung Utama FIB, mereka dapat melihat meja dan komputer yang terletak di dekat tangga. Di sini, mahasiswa yang tidak memiliki akses ke laptop pribadi dapat menggunakan komputer untuk melakukan penelitian atau mengerjakan tugas mereka. Sambil bekerja, mereka juga dapat berinteraksi dengan mahasiswa dan dosen di meja dan sofa di sekitar area tersebut. Untuk camilan dan minuman, mereka dapat berjalan beberapa langkah ke kafe milik fakultas, Poeta. Semua fasilitas ini, tentu saja, dilengkapi dengan WiFi gratis dan colokan listrik di semua meja dan sudut.  Tahun ini, para mahasiswa juga menikmati bekerja di teras belakang Gedung Utama yang sudah familiar. Area semi-outdoor ini dulunya hanyalah taman belakang sederhana dari gedung tersebut, namun mulai tahun 2023, fakultas telah menambahkan lampu dan bangku dengan colokan listrik. Kini, pada tahun 2025, dengan meja tambahan yang lebih dilengkapi untuk laptop, para mahasiswa sesekali berkumpul di sana untuk melakukan kerja kelompok, menulis tesis, atau bahkan istirahat makan siang di antara jam kuliah. Kenyamanan area ini juga didukung oleh ketersediaan Wi-Fi serta colokan listrik yang tersedia di semua bangku, menjadikannya tempat yang sempurna untuk berkonsentrasi dan bersantai.  Bagi mahasiswa yang mencari ketenangan dan fokus lebih, fakultas juga menyediakan perpustakaan dan Student Center. Di perpustakaan, mereka diberikan meja individu di mana mereka dapat fokus menulis tugas atau tesis dalam keheningan total. Selain buku dan sumber daya yang tersedia, mahasiswa juga dapat mengakses repositori tesis, di mana mereka dapat menemukan proyek-proyek sebelumnya dari alumni sebagai bahan referensi dan inspirasi untuk penelitian mereka yang sedang berlangsung. Jika itu belum cukup, mereka juga dapat mengunjungi Student Center yang berada di sebelahnya, di mana mereka dapat menemukan dan membaca teks-teks teoretis spesifik tentang linguistik, sastra, budaya, dan/atau sejarah. Meskipun fasilitas-fasilitas ini telah mendapat tanggapan positif, Dhia, seorang mahasiswa program Magister kajian budaya di FIB, mengatakan, “Saya pikir colokan listrik seharusnya tersedia lebih sering karena pada beberapa hari, colokan tersebut mungkin dimatikan.” Meskipun demikian, tahun ini, fakultas terus meningkatkan fasilitasnya, memastikan yang terbaik diberikan kepada mahasiswanya. Dengan lingkungan belajar yang semakin digital, fakultas berharap tidak hanya beradaptasi dengan kebutuhan yang berubah tetapi juga secara efektif menyediakan atmosfer yang inklusif dan mendukung. Red. Jauza Maryam Mumtazah

Berita, SDG 2025

Faculty of Cultural Sciences Universitas Padjadjaran Holds Public Lecture on SDGs for New Students

The Faculty of Cultural Sciences (FIB) at Universitas Padjadjaran held a public lecture on August 13, 2025, as part of the orientation program for new students of the 2025/2026 academic year. The session focused on the dynamics of the Sustainable Development Goals (SDGs) in academic life, both from the perspective of students and lecturers, and how these global goals can serve as a framework for advancing education and research at FIB Unpad. The guest speaker was Mr. Bokhtar Bokozoda from the Japan International Cooperation Agency (JICA) Kyushu Center, Japan, who shared his insights on the role of universities in contributing to the achievement of the SDGs. He emphasized how students, as future professionals and scholars, can integrate sustainability values into their studies, daily activities, and community engagement. During his talk, Mr. Bokozoda highlighted the importance of individual responsibility. “Everyone has their own contribution to make for the SDGs,” he said. “By working together, we can create a better life for all—especially when we focus on high-quality education, which is the foundation for many other goals.” He also underlined the unique role of young people in shaping the future. “Students are not just learners, they are agents of change. Your creativity, critical thinking, and commitment are vital for addressing global challenges such as climate change, inequality, and cultural sustainability,” Mr. Bokozoda noted. In addition, he stressed the importance of global partnerships. “No country or institution can achieve the SDGs alone. International cooperation—whether between universities, governments, or communities—will strengthen our collective capacity to make meaningful progress,” he explained. “That is why academic collaborations, like the one we are sharing here today, are so essential.” The event received enthusiastic responses from the new students. Many were eager to engage with the topic, seeing it as an inspiring introduction to their academic journey at FIB Unpad. In the Q&A session, several students posed questions in Russian, Japanese, and English, reflecting the multilingual and intercultural atmosphere of the faculty. Impressively, Mr. Bokozoda, who is fluent in these languages, responded to each question directly, making the discussion lively and inclusive. This public lecture not only provided valuable knowledge about the SDGs but also showcased the international and interdisciplinary spirit of FIB Unpad. By connecting global challenges with academic development, the faculty aims to equip students with the awareness and skills to become active contributors to sustainable progress.

Berita, SDG 2025

Open to All: Gender Seminar 2025 at Universitas Padjadjaran

Jatinangor, September 2nd, 2025 — On Thursday, June 5, 2025, Seminar Gender 2025 took place at the Aula PSBJ, Faculty of Cultural Sciences, as part of the faculty’s commitment to making education accessible to the wider public and supporting lifelong learning. The event started with a keynote lecture by Dr. Lestari Manggong, M.A., who delivered an engaging talk titled “Naratif Palimpsestis dalam Tiga Karya Maxine Hong Kingston.” Her presentation highlighted the layered storytelling strategies of Kingston’s works and invited the audience to consider how narrative form intertwines with questions of identity and migration. The seminar was facilitated by faculty members Prof. Aquarini Priyatna, M.A., M.Hum., Ph.D., Dr. Rasus Budhyono, M.Hum., Dr. Mega Subekti, S.S., M.Hum., and Trisna Gumilar, S.S., M.A., who guided discussions and offered scholarly insights throughout the day. A central feature of the event was the participation of fourteen graduate students from the Master’s Program in Literary Studies Program, each of whom presented their research proposals in themed panels. The presentations spanned critical issues at the intersections of gender and cultural studies, touching on femininity, masculinity, performativity, and queer theory. Among some of them were Annisa Ayu Shafira’s “Manifestasi Penundukan Feminitas: Kebutuhan Perempuan pada Aplikasi Flo,” which examined how digital health applications frame women’s bodily needs; Felisita Angelique Novena’s study of “Representasi Maskulinitas Berbasis Penyajian Diri Strategis dalam Akun TikTok @pov_husband,” which questioned new constructions of masculinity in social media; and Dinda Akhlakulkarimah’s “Perempuan dan Kekerasan Institusional dalam Film Anatomie d’une Chute (2023),” which explored systemic power and gendered violence in contemporary cinema. The seminar also provided a platform for queer scholarship, with Elvia Vania Putri presenting “Queer Shame dalam Film Pendek Two Little Boys (2021),” a critical reading of shame as both stigma and resistance within queer narratives. By combining the voices of senior scholars with those of the students as emerging researchers, the event highlighted lifelong learning, opening space for dialogue not only within the academic community but also for members of the public who joined the discussions.  By Dhia Anaulva PutriFakultas Ilmu Budaya

Berita, SDG 2025

Humaniora untuk Kesehatan: Kiprah FIB Unpad dalam Mendukung SDG 3

Thurfah Mahira Ahnaf Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB Unpad) berkomitmen untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, melalui pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata-Pengabdian Pada Masyarakat (KKN-PPM), serta dukungan dana riset yang berorientasi pada isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah kegiatan PPM dengan judul “Pemberdayaan Masyarakat dalam Memulihkan dan Menjaga DAS Sungai Cikeruh” yang dilaksanakan di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Program ini melibatkan mahasiswa melalui KKN dan MBKM, serta diarahkan pada pelestarian lingkungan sungai untuk mengurangi risiko banjir dan penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dana sebesar Rp7.500.000,00, dengan realisasi penggunaan Rp5.000.000,00. Selain menjaga ekosistem, program ini juga memberikan edukasi kesehatan lingkungan kepada masyarakat sekitar bantaran sungai, sesuai dengan poin SDG 3.6 dan 3.9. Kegiatan lain yang relevan adalah “Peningkatan Minat Baca Generasi Milenial melalui Fasilitas di Perpustakaan Riyadlul Jannah” di Desa Cikeruh, Jatinangor. Meski berfokus pada literasi, kegiatan ini menyentuh aspek SDG 3 dengan memperkuat kesejahteraan psikologis dan kreativitas anak-anak melalui kursus menjahit, yang mengimplementasikan poin SDG 3.4. Aktivitas ini membantu anak-anak panti asuhan meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, dan peluang ekonomi di masa depan, sehingga berkontribusi terhadap kesehatan mental dan sosial mereka. Program ini didanai sebesar Rp7.500.000,00, dengan realisasi Rp5.000.000,00, dan melibatkan mahasiswa KKN serta praktikum mata kuliah. Di bidang riset, FIB Unpad juga mengalokasikan dana yang berhubungan dengan SDG 3. Dari total dana hibah PPM sebesar Rp241.000.000,00, sejumlah kegiatan diarahkan untuk mendukung aspek kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup. Mengacu pada poin SDG 3.b., dana ini tidak hanya diberikan dalam bentuk tunai, tetapi juga melalui dukungan in-kind berupa pendampingan, pelatihan, dan fasilitas penelitian. Beberapa penelitian bahkan menghasilkan publikasi di jurnal terindeks, artikel ilmiah, hingga video dokumentasi yang memperkuat diseminasi pengetahuan kepada masyarakat. Melalui kombinasi kegiatan KKN/PPM dan riset tersebut, FIB Unpad menegaskan perannya sebagai fakultas humaniora yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Upaya ini menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner antara budaya, lingkungan, dan kesehatan dapat memperkaya strategi pencapaian SDG 3, sekaligus menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi komunitas lokal.

Berita, SDG 2025

Timbangan Berat Badan di FIB Unpad, Fasilitas Sederhana untuk Dukung Kesehatan

Aliyah Zahra Saffanah Di area mini gym Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran tersedia sebuah timbangan berat badan yang bisa dimanfaatkan oleh civitas akademika. Fasilitas sederhana ini hadir sebagai sarana pendukung untuk menjaga kesehatan sehari-hari di lingkungan kampus. Timbangan badan berfungsi sebagai pengingat kecil untuk memantau kondisi fisik. Walaupun sederhana, menimbang secara rutin dapat membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga pola makan seimbang, aktivitas olahraga, serta kesehatan tubuh secara umum. Ada juga mini gym yang bisa digunakan untuk berolahraga. Dengan begitu, setelah menimbang badan, civitas akademika dapat melanjutkan dengan aktivitas olahraga untuk menjaga kebugaran, menurunkan berat badan, atau sekadar menggerakkan tubuh agar lebih fit sebelum kembali beraktivitas. Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tapi justru dari sini kesadaran akan kesehatan bisa tumbuh. Timbangan di gym FIB bukan hanya sekadar alat ukur, tetapi juga pengingat bahwa menjaga tubuh tetap sehat bisa dimulai dari langkah yang paling ringan.

Berita, SDG 2025

Shokudo FIB Unpad: Kantin Mahasiswa dengan Area Merokok Tertata

Thurfah Mahira Ahnaf Kesehatan dan kesejahteraan menjadi salah satu pilar utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Good Health and Well-being. Target 3.a dan 3.9 mendorong pengendalian konsumsi tembakau serta pencegahan paparan asap rokok di ruang publik, sesuai dengan semangat Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Di lingkungan kampus, upaya ini dapat diwujudkan melalui penerapan program bebas asap rokok di gedung fakultas sekaligus menyediakan ruang khusus bagi perokok agar tidak mengganggu orang lain. Salah satu contoh penerapannya dapat dilihat di Shokudo, kantin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Kantin ini dilengkapi dengan smoking area khusus yang menjadi solusi efektif dalam menjaga kenyamanan bersama. Keberadaan area merokok ini melindungi mahasiswa dan civitas akademika non-perokok dari paparan asap rokok, sehingga mereka dapat menikmati suasana kantin dengan lebih sehat dan aman. Di sisi lain, penataan ini juga membuat aturan bebas rokok lebih mudah dipatuhi karena tetap memberi ruang bagi perokok tanpa menimbulkan konflik kepentingan. Tata kelola Shokudo FIB Unpad menerapkan sistem yang positif, yaitu area bebas rokok di dalam kantin dan menyediakan smoking area khusus di luar ruangan. Penataan ini membuat seluruh pengunjung merasa nyaman karena ada pembagian ruang yang jelas, ditandai dengan papan “Dilarang Merokok” di dalam kantin serta penanda khusus di area terbuka untuk perokok. Kehadiran sistem ini tidak hanya menunjukkan kepedulian fakultas terhadap kesehatan bersama, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tata ruang yang sederhana dapat memberikan dampak besar pada kualitas lingkungan belajar. Shokudo menjadi contoh nyata bagaimana fasilitas kampus dapat menghadirkan keseimbangan antara kenyamanan, kesehatan, dan kepatuhan terhadap prinsip SDG 3: Good Health and Well-being.Selain menciptakan kenyamanan, keberadaan smoking area di Shokudo juga memperkuat citra FIB Unpad sebagai lingkungan akademik yang peduli pada kesehatan dan kesejahteraan warganya. Pemisahan ruang ini menjadi bentuk edukasi tidak langsung bahwa menjaga kesehatan bersama merupakan bagian dari budaya akademik. Dengan langkah sederhana namun berdampak nyata, Shokudo FIB Unpad berkontribusi pada pencapaian SDG 3 dengan menghadirkan ruang makan yang ramah, sehat, dan inklusif bagi semua pihak.

Berita, SDG 2025

From Pesantren to Green Future: Building Digital Resilience for Sustainable Communities

Jatinangor, September 1st, 2025 — Universitas Padjadjaran continues to strengthen its commitment to the Sustainable Development Goals, particularly SDG 4 on Quality Education, through its third-year Community Service (PPM) program at Pondok Pesantren Daarul Uluum Jatinangor. This initiative, titled Community Empowerment through Sustainable Islamic Boarding School Business Resilience Based on Green Economy, builds upon the work carried out in the previous year, extending the pesantren’s role beyond education to include sustainable development and digital innovation. In this third year, the program focuses on developing a Digital IT Web Platform for pesantren as a way to modernize management systems while also opening pathways to new forms of employment and sustainable investment. The application of a green economy model within Pondok Pesantren Daarul Uluum aims to enhance the curriculum by drawing on local land and environmental resources, provide vocational skills training rooted in local wisdom, and create sustainable pesantren-based products that are relevant to today’s economy. On May 31, 2025, the Unpad team held an outreach education session at Daarul Uluum Jatinangor with guest lecturer Ekky Fauza Maulana, ST, Head of the Digital Department at HEBITREN, who introduced participants to the key steps in the Islamic boarding school’s web development. The session covered strategic mapping, an introduction to the concepts of web-based digitization, and hands-on practice in creating and applying digital platforms. The event applied a participatory approach, with the Islamic boarding school community directly involved as the main actors of change while the lecturers acted as facilitators. Looking ahead, the program will continue to refine the Islamic boarding school’s web initiative and prepare a training module as a long-term guide for digital and green-based pesantren development. The team is also targeting academic outputs, including intellectual property registration and journal publications, to ensure that the knowledge created can be shared more widely. More than just a technical project, the program represents a step towards preparing the next generation of Islamic boarding school students for Indonesia Emas 2045, while fostering collaboration with pesantren networks and community-based organizations. Through this initiative, Daarul Uluum Jatinangor stands as a model of how Islamic boarding schools can embrace digital transformation and the principles of the green economy at the same time. It demonstrates that Islamic boarding schools, deeply rooted in tradition, can also be at the forefront of building resilient and sustainable communities for the future. By Dhia Anaulva PutriFakultas Ilmu Budaya

Berita, SDG 2025

Open Classes, Open Doors: Language Training for All at FIB Unpad

Jatinangor, September 1st, 2025 — When we sat down with Bu Vincentia Tri Handayani, Head of the Language Center at the Faculty of Cultural Sciences (FIB) Universitas Padjadjaran, she began by tracing the center’s long history. “People often think the Language Center started in 2007,” she said, “but the roots go back to the early 1980s with BIPA—Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. That program was part of a government initiative to introduce Indonesian language and culture to the world, and universities like ours were asked to help.”  According to Bu Vincentia, the Language Center itself grew out of a simple need. “Originally, it was just a service to provide English tests for our own campus community. But the demand kept increasing, and soon we were collaborating with government agencies and private institutions. That’s how it developed into what we have now.”  The center isn’t just for students. “Our courses are open to everyone, members of the public as well as the Unpad academic community,” she explained. “We offer a wide range of languages: English, French, Japanese, Russian, German, Arabic, Mandarin, Sundanese, and of course Indonesian for foreign speakers. People are especially interested in private or group classes to prepare for TOEFL, IELTS, TOEIC, or ELT.”  She highlighted how the programs are designed. “Our training team creates modules and materials tailored to each participant’s needs. We regularly update our teaching materials and test questions, and we use an active, practical method so people can really improve their language skills.”  Bu Vincentia added that giving back is part of their mission and that providing free training for faculty staff and lecturers is the faculty’s way of contributing to the community that supports us. For Bu Vincentia, the Language Center has become a meeting point between the university and the wider community. “People come with different goals. Some for work, some for study abroad, some just out of curiosity,” she noted. “What matters to us is that they find a place where learning a language is practical and accessible.” By Dhia Anaulva PutriFakultas Ilmu Budaya

Scroll to Top