Binatang-binatang di Sekitar Letusan Krakatau 1883

Binatang-Binatang di Sekitar Letusan Krakatau 1883 (2019) merupakan artikel ilmiah yang ditulis oleh Budi Gustaman, seorang dosen dari Departemen Sejarah & Filologi, Universitas Padjadjaran. Artikel ini meneliti sebuah fenomena bersejarah, perihal keberadaan binatang pra, saat, dan pasca bencana alam masif meletusnya Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Dalam artikel tersebut Gustaman menuliskan narasi-narasi berdasarkan buku Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 oleh Simon Winchester, pun kesaksian langsung atas fenomena alam Krakatau 1883, yang tercatat dalam bentuk tulisan dari Rogier Verbeek, R.A van Sandick, dll. 

Binatang dan Insting Penanda Bencana

Rombongan sirkus bernama Wilson’s Great World Circus tiba di Batavia pada 30 Juli 1883. Pertunjukan mereka dianggap menjadi momen langka yang dinanti di Hindia. Namun, rangkaian acara mereka disertai dengan geliat dan gejolak Krakatau yang mulai menumpahkan hujan abu vulkanik. Pertunjukan tetap berlangsung, meski disertai beberapa peristiwa yang membingungkan. Peristiwa yang agak ganjil terjadi pada salah satu binatang sirkus mereka, yaitu seekor gajah kecil yang berperilaku aneh di tengah-tengah pertunjukan. Beberapa binatang berusaha menyakiti si gajah. Hal itu membuat sang pawang, Miss Nanette Lochart, melakukan pengamanan. Dengan inisiatif yang juga cukup ganjil dan ilegal, gajah tersebut dipindah (disembunyikan), lalu dibaringkan di dalam kamar Miss Lochart di Hotel des Indes, Batavia. Saat ditinggalkan sejenak oleh sang pawang, si gajah berulah.

“… barangkali saja peka pada apa yang tengah terjadi di dalam bumi jauh di bawah kakinya, sehingga ia luar biasa kebingungan. Ia mondar-mandir dan menyeruduk dan menginjak-injak semua perabot di kamar Miss Lochart, menghancurkannya sampai berkeping-keping. Ia melolong-lolong. Ia mengaum. Ia menghentak-hentakkan kaki-kakinya yang belum besar itu dengan begitu agresif sehingga tamu-tamu lain mengira hotel itu akan roboh.”

(Winchester, 2006: 263-265)

Narasi di atas adalah sekelumit kisah di balik letusan Krakatau 1883 yang dihimpun Simon Winchester dari kesaksian orang-orang pada saat, sebelum, dan sesudah letusan. Dalam karya monumentalnya, Krakatau, Rogier Verbeek (1885: 40) menuturkan tingkah aneh binatang-binatang peliharaan, yang cenderung menunjukkan sikap gelisah, selalu berdiam di dalam rumah, dan berusaha sedekat mungkin dengan pemiliknya dan juga cahaya. Kondisi tersebut terjadi di Serang pada 28 Agustus, setelah Krakatau menyuarakan ledakannya. 

Sejatinya, korelasi antara tingkah laku binatang sebagai penanda terjadinya bencana alam masih terbatas pada kosakata “konon”–yang menyiratkan perlunya pemaparan bukti-bukti ilmiah yang konkrit.  Meski demikian, tidak sedikit geolog yang menghubungkan kepekaan insting binatang terhadap pergolakan dan ketegangan di bawah permukaan bumi. 

Beberapa rangkuman perilaku ganjil binatang yang biasa timbul pra-bencana misalnya, ikan-ikan lele berlompatan keluar dari air, lebah-lebah secara misterius mengosongkan sarangnya, ayam-ayam betina berhenti bertelur tanpa alasan yang jelas, tikus-tikus kebingungan sampai-sampai bisa ditangkap dengan tangan, ikan-ikan yang berasal dari laut dalam ditemukan di permukaan laut, ular-ular di dalam tanah mendadak keluar ke permukaan, meski saat musim dingin (Winchester, 2006: 263). Setidaknya-pada kasus Krakatau-perilaku aneh binatang menjadi kesempatan bagi orang-orang pribumi dan Tionghoa di Batavia, yang dengan mudahnya menangkap ikan dalam jumlah banyak dengan tangan. Hal tersebut terjadi saat air laut naik menggenangi sebagian kota dan pasar ikan pada 27 Agustus 1883 (Hurbult & Verbeek, 1887: 240).

Ulasan khusus soal perilaku binatang pada letusan Krakatau salah satunya dimuat dalam koran Belanda, Provinciale Overijsselsche Zwolsche Courant 1891. Dipaparkan bahwa letusan telah banyak membunuh binatang, dan banyak pula binatang-binatang yang melarikan diri untuk sementara waktu. Hal ini diperkuat oleh kesaksian van Sandick bahwa pada pagi hari 24 Agustus 1883 sejumlah besar kawanan burung laut melintasi laut dari Batavia. Mereka diduga bermigrasi untuk menghindari bencana yang akan terjadi. “Indera manusia sangat tidak sempurna jika dibandingkan dengan persepsi tajam binatang.”, tutur Van Sandick yang dikutip koran tersebut. 

Keanehan perilaku binatang di sekitar letusan Krakatau juga dituturkan Pangeran Aria Djajadingingrat dalam buku kenangannya. Saat Krakatau meletus, ia mendengar kesaksian pamannya, seorang Asisten Wedana Tadjoer, yang menjadi salah satu korban selamat dari letusan. Pamannya tersebut selamat karena seekor kuda yang enggan melarikan diri dari kandangnya setelah dentuman keras dari Krakatau, seperti kuda-kuda lainnya. Kuda itu lah yang membawa ia beserta istri dan anaknya menuju perbukitan. Kuda tersebut dianggap sebagai penyelamat dan kemudian diberi nama kehormatan “Toemenggoeng” (Djajadiningrat, 1936: 13- 14).

Terlepas dari perdebatan mengenai studi ilmiah perihal perilaku binatang sebagai indikator mitigasi bencana, fenomena letusan Krakatau pada 1883 setidaknya telah memberi tanda pada sains Barat bahwa insting binatang-binatang perlu diperhitungkan sebagai sinyal terjadinya bencana alam. 

Binatang yang Mati dan Bertahan Hidup

Laporan Verbeek menyebutkan bahwa kehancuran total akibat letusan Krakatau terjadi di Kabupaten Caringin (Banten) dan Teluk Betong (Lampung) yang disebabkan gelombang tsunami setinggi 30 meter. Jumlah korban dan kerusakan yang tercatat menurut dokumen resmi ialah 36.417 orang, dengan jumlah kampung yang hancur total sebanyak 165, serta kampung yang hancur sebagian, berjumlah 1326 (Verbeek, 1885: 74 & 79). Kondisi tersebut mengindikasikan kerusakan total ekosistem di wilayah yang terdampak gelombang dan abu vulkanik Krakatau. Di tengah kondisi itu, beberapa binatang tercatat mati dan bertahan hidup, bahkan beberapa diantaranya terlihat “diuntungkan” dengan kondisi pasca bencana. Untuk poin terakhir, van Sandick mencatat bahwa banyaknya mayat yang bergelimpangan mengundang hadirnya beberapa binatang pemangsa.

Beberapa hari setelah gelombang tsunami, buaya ditemukan dalam jumlah yang besar di muara sungai di Banten. Mayat-mayat yang bergelimpangan karena terseret dan tersapu arus, “mengundang” mereka untuk datang. Selain buaya, ikan hiu dan ikan laut lain turut mengerubuti mayat-mayat yang mengambang. Kasus yang cukup unik terjadi di Serang saat seorang penduduk membedah perut ikan kakap untuk kemudian dimasak, ia menemukan dua jari manusia yang masih lengkap dengan kuku (van Sandick, 1890).

Tidak ada data atau kajian khusus mengenai jenis serta jumlah binatang yang mati sebagai dampak dari tragedi 1883. Menariknya, adanya beberapa spesies binatang yang ditemukan hidup beberapa bulan setelah erupsi, membuat beberapa botanis justru mempertanyakan perihal adanya kemungkinan binatang yang bertahan hidup di Pulau Krakatau selama erupsi. 

Terdapat argumen yang berkeyakinan bahwa seluruh binatang di Pulau Krakatau dan pulau-pulau kecil di sekitarnya mati total. Hal ini mengacu pada penelitian Verbeek yang menyebutkan bahwa seluruh permukaan pulau diselimuti dengan lapisan debu panas serta batu apung dengan ketebalan 30-60 meter. Anggapan tersebut kemudian diragukan setelah seorang geolog asal Belgia, Edmond Cotteau mengunjungi Krakatau pada Mei 1884-sembilan bulan pasca erupsi. Ia tidak menemukan apapun kecuali seekor laba-laba kecil yang sedang sibuk menyulam jaring-jaringnya. Selain laba-laba mikroskopik, peneliti lain seperti Schaarf meyakini bahwa larva dari berbagai macam serangga, seperti cacing tanah, dapat bertahan dengan baik di bawah permukaan bumi yang dalam. Mengenai hal ini, seorang peneliti bernama Jacobson–yang mengunjungi Krakatau pada 1908–menyebutkan: “Bukti kehancuran total fauna krakatau diperlihatkan juga dengan tidak adanya cacing tanah. Bagaimanapun, saya tidak menemukan spesies yang hidup di tanah, walaupun saya mencari mereka di berbagai tempat.” Jacobson menambahkan bahwa dirinya menemukan spesies semacam cacing pada batang pohon yang membusuk.

Beberapa percaya akan teori bahwa binatang yang ditemukan di Pulau Krakatau pasca erupsi, bukan karena kemampuan mempertahankan diri, tetapi karena adanya migrasi. Penemuan jumlah besar binatang bersayap di Pulau Krakatau yang mencapai 80%, memunculkan argumen kuat bahwa binatang-binatang bermigrasi menggunakan sayap. Sementara itu, 58 spesies tidak dapat terbang yang ditemukan Jacobson pada 1908, bisa dijelaskan dengan teori bahwa selain ulat berusia muda yang dapat dengan mudah dibawa oleh arus udara, ada beberapa binatang di Krakatau yang dapat disebarkan oleh angin, yakni laba-laba berusia muda, tungau kecil, dan mungkin semua jenis makrofauna yang habitatnya lumut. Penemuan beberapa reptil, seperti ular python dan buaya diperkuat dengan kemampuan berenang serta terbawa pada kayu yang terapung (Dammerman, 1929: 91-92). 

 Nico J. van Strien dan Kees Rookmaaker melakukan studi berangkat dari pertanyaan apakah letusan Krakatau berdampak terhadap populasi badak Jawa di Ujung Kulon-wilayah yang tersapu gelombang tsunami setinggi 15 meter. Penelitian yang dipublikasikan pada 2010 tersebut nampak ragu-ragu menyebutkan bahwa kelangkaan badak Jawa terjadi akibat tsunami Krakatau. Hal ini didasarkan tidak adanya komparasi yang utuh mengenai kuantitas spesies badak Jawa sebelum dan setelah erupsi 1883. Meski demikian, erupsi Krakatau tidak menyebabkan terjadinya kepunahan badak Jawa. Mereka memperkirakan bahwa mamalia besar seperti badak mampu bertahan dari terjangan gelombang yang melanda Ujung Kulon. Keberadaan badak Jawa setidaknya masih terlihat pada 1892, 1906, dan 1908 (Van Strien & Kees, 2009: 637).

Wabah Binatang dan Binatang yang Mewabah

Dilansir Koloniaal Verslag 1884, bencana Krakatau telah menyebabkan hilangnya banyak ternak, seperti di wilayah Banten, dimana ditemukan banyak sapi mati pasca tsunami 1883. Data lain menyebutkan kelangkaan kerbau pada waktu yang sama terjadi di wilayah Lampung. Komparasi jumlah kerbau di wilayah Lampung pada akhir tahun 1882 (31 Desember) yang berjumlah  sekitar 9.960 dengan akhir tahun 1883 berjumlah 7.984 ekor, setidaknya bisa menjadi gambaran. Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan erupsi Krakatau, khususnya di Afdeeling Katimbang yang terdampak langsung gelombang tsunami (KV 1884: 16, 191 & 196). 

Koran Bataviasch Nieuwsblad 27 Januari 1890 menarasikan perluasan penyakit tifus sapi di wilayah Banten, dimana terjadi peningkatan di beberapa tempat, seperti Serang, Pandeglang, dan Lebak. Wabah ternak yang berjangkit di wilayah Banten sebenarnya telah terjadi sebelum erupsi. Di wilayah Jawa bagian Barat sendiri, menurut Koloniaal Verslag 1884, wabah ternak parah sudah terjadi pada 1879, 1880, dan 1881–serta belum hilang hingga 1883. Erupsi Krakatau sejatinya bukan menjadi penyebab langsung, tetapi karenanya, wabah ternak semakin meluas dan memperbesar tingkat kelangkaan ternak.

Beberapa tahun pasca erupsi, harimau-harimau di wilayah Banten banyak menimbulkan keresahan. Peter Boomgaard (2001: 47) mencatat bahwa pada periode 1887 hingga 1889 (bahkan sejak 1886) terjadi wabah harimau (tijger plague) di wilayah Banten selatan, seperti Caringin dan Ujung Kulon. Serangan-serangan harimau tersebut adalah konsekuensi dari kerusakan hutan dan lahan pertanian. Van Sandick (1890) mengungkapkan bahwa material letusan, berupa abu dan lumpur, tidak hanya jatuh di wilayah laut, tetapi melanda hingga ke gunung-gunung. Abu yang jatuh tidak serta merta langsung menumbangkan pepohonan. Namun, hujan lumpur yang jauh lebih deras telah merobohkan banyak pohon, serta merusak sawah, ladang, dan tanaman perkebunan, seperti kopi. Terkait hal ini, Verbeek (1885: 61) pun melihat kerusakan hutan yang parah di wilayah Blimbing, Lampung selatan, pada Oktober 1883, dimana pohon-pohon terlihat tumbang dan tertindih satu sama lain. 

Deforestasi di wilayah Banten, secara tidak langsung mengusik habitat harimau–meski keberadaan harimau tidak diketahui selama letusan. Jika mengacu pada teori bahwa binatang-binatang pergi sebelum terjadinya bencana, maka bukit setinggi 20 hingga 30 meter di sekitar Caringin yang dikatakan Verbeek (1888: 46), bisa dijadikan sebagai tempat pelarian bagi harimau. 

Perpindahan penduduk ke wilayah pedalaman akibat kerusakan total pada tempat tinggal sebelumnya (kemungkinan besar) mempertemukan mereka dengan harimau. Pertemuan tersebut didukung dengan sistem pertanian mereka yang umumnya memakai pola tebang-bakar atau sistem perladangan berpindah-yang merupakan sistem pertanian yang tidak disukai pemerintah kolonial (Boomgaard, 2001: 47). Sistem tersebut secara langsung mengharuskan mereka membuka hutan dan mengusik habitat harimau.

Dilansir dari Koloniaal Verslag 1881 hingga 1884, tercatat total penerkaman manusia oleh harimau sebanyak 33 kasus, dengan jumlah terbanyak terjadi pada 1882 (26 kasus). Angka ini cenderung meningkat pasca erupsi, dimana selama 6 tahun (1884-1890), terjadi kasus pemangsaan sebanyak 197 kasus, dengan rincian: 1884 (24 kasus), 1885 (17 kasus), 1886 (64 kasus), 1887 (61 kasus), 1888 (25 kasus), 1889 (6 kasus), serta 1890 (tidak ada kasus). Menariknya, sebagian besar kasus pemangsaan harimau di Banten terjadi di wilayah Kabupaten Caringin. Selain mencatatkan korban jiwa yang besar, wabah harimau di Caringin bahkan menjadi cause célébre (masalah yang berkembang di luar perkiraan dan memunculkan berbagai perdebatan) yang diperbincangkan di parlemen Belanda. Penduduk yang tinggal di wilayah itu terus didesak oleh pemerintah kolonial untuk segera pindah ke tempat lain yang lebih aman. Residen Banten bahkan menetapkan wilayah Caringin sebagai wilayah berstatus keadaan darurat, dimana para pegawai pemerintah tidak berani mengunjungi wilayah tersebut (Boomgaard, 2001: 47). 

Kesimpulan

Letusan Krakatau 1883 memberi banyak dimensi menyoal harmoni dan disharmoni antara manusia dan binatang, sebagai konsekuensi logis dari hubungan ekologis. Binatang harus (diupayakan) menjadi alat mitigasi baku yang digunakan untuk memprediksi suatu bencana alam, apalagi wilayah Indonesia berada pada zona rawan bencana, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Selain sebagai tindakan preventif, kondisi pasca bencana pun harus diperhitungkan. Kerusakan ekologis yang menyebabkan terjangkitnya wabah penyakit, kelangkaan bahan makanan dan ternak, serta kelaparan yang merajalela-seperti di wilayah Banten, Lampung dan sekitarnya pada 1883–bisa menjadi refleksi bagi penanggulangan bencana masa kini. ** (BG)

(Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal Sejarah. Vol. 2(2), 2019)

Budi Gustaman
Dosen Departemen Sejarah & Filologi FIB Unpad

Scroll to Top