Tomage, Papua Barat — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia turut dirayakan masyarakat Distrik Tomage melalui Karnaval Budaya. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memeriahkan kemerdekaan sekaligus menampilkan keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di kawasan transmigrasi Tomage.





Karnaval diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari siswa tingkat SD, SMP, dan SMA, Karang Taruna, tenaga kesehatan, hingga Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad). Para peserta mengenakan pakaian dan atribut yang merepresentasikan identitas budaya masing-masing, mencerminkan keberagaman latar belakang masyarakat yang hidup berdampingan di Distrik Tomage.
Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan dalam perayaan kemerdekaan. Berbagai identitas budaya hadir dalam satu ruang yang sama, menciptakan suasana kebersamaan sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk saling mengenal dan menghargai budaya satu sama lain.
Dalam kegiatan ini, Tim Ekspedisi Patriot Unpad turut berpartisipasi dan mendampingi pelaksanaan karnaval bersama para penggerak kegiatan dari SD Inpres 1 Bomberay. Seluruh peserta berkumpul di depan SMP Negeri 3 Kokas sebelum memulai pawai menuju Balai Kampung Mbima Jaya.
Setibanya di Balai Kampung Mbima Jaya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Beragam tarian yang ditampilkan para peserta menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Setiap penampilan tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi representasi kekayaan budaya yang dibawa oleh masyarakat Tomage.

Menurut Dr. Taufik Ampera, M.Hum., selaku salah seorang Ketua Tim Ekspedisi Patriot Unpad, Karnaval Budaya Tomage memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai latar belakang budaya yang ada di kawasan Tomage dan menjadikannya sebagai kekuatan bersama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Karnaval budaya ini bukan hanya tentang merayakan kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan, mengenali, dan menghargai keberagaman budaya yang ada di Tomage. Kami berharap melalui kegiatan seperti ini tumbuh kesadaran bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk hidup bersama, melainkan kekuatan untuk membangun persatuan,” ujar Dr. Taufik Ampera, M.Hum.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam karnaval memiliki arti penting bagi keberlanjutan budaya. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam menampilkan, mengenal, dan merayakan budaya yang mereka miliki maupun budaya masyarakat lainnya. “Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi tradisi yang terus dikembangkan dan melibatkan semakin banyak unsur masyarakat. Anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk mengekspresikan identitas budayanya sekaligus belajar menghargai identitas budaya orang lain. Dari ruang kebersamaan seperti inilah nilai gotong royong, toleransi, persaudaraan, dan persatuan dapat tumbuh secara nyata,” lanjutnya.
Menurut Dr. Taufik, semangat tersebut sejalan dengan kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Unpad di kawasan Bomberay-Tomage. Tim tidak hanya hadir dalam konteks akademik dan pendampingan masyarakat, tetapi juga berupaya terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya yang dapat memperkuat interaksi serta kohesi sosial masyarakat.
Antusiasme juga terlihat saat pembagian hadiah kepada para peserta dari kalangan pelajar. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi dan semangat anak-anak dalam memeriahkan perayaan kemerdekaan sekaligus mengenalkan budaya mereka melalui kegiatan karnaval.
Karnaval Budaya Tomage ditutup dengan penampilan Jaranan oleh Karang Taruna Mbima Jaya. Pertunjukan tersebut menjadi penutup yang meriah sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya dari berbagai latar belakang dapat hadir dan dirayakan bersama dalam satu ruang kebersamaan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan yang meriah, tetapi juga melalui upaya merawat keberagaman dan membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.
Melalui Karnaval Budaya Tomage, keberagaman tidak sekadar ditampilkan sebagai identitas, tetapi menjadi ruang untuk saling mengenal, menghargai, dan memperkuat persatuan. Semangat tersebut sejalan dengan harapan Tim Ekspedisi Patriot Unpad agar kawasan Bomberay-Tomage terus berkembang sebagai ruang kehidupan masyarakat yang inklusif, harmonis, dan mampu menjadikan keberagaman budaya sebagai modal sosial dalam membangun masa depan bersama.
Kegiatan Karnaval Budaya Tomage yang diikuti oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran ini relevan secara langsung dengan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), khususnya Target 16.a dan pemajuan budaya inklusif, karena berfokus pada pembangunan kohesi sosial, toleransi, dan rasa persatuan di tengah keberagaman kawasan transmigrasi Papua Barat. Selain itu, keterlibatan aktif para pelajar, tenaga pendidik, dan akademisi Unpad dalam mendampingi serta mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya menghargai identitas budaya lokal mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), terutama Target 4.7 yang menekankan pada promosi keanekaragaman budaya, apresiasi budaya, dan budaya damai tanpa kekerasan. Secara kolektif, sinergi kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah lokal, dan elemen masyarakat ini juga mencerminkan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam menciptakan masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan.
