JATINANGOR — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB Unpad) menggelar perkuliahan umum dalam rangkaian acara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pada Kamis, 13 Agustus. Mengangkat tema “Implementasi Program SDGs: Membangun Masa Depan Berkelanjutan dari Kampus”, kegiatan ini menghadirkan peneliti dari Department of Environmental System, The University of Kitakyushu, Jepang, Indriyani Rachman, Ph.D., sebagai pembicara untuk topik Sustainable Development Goals. Paparan tersebut dimoderatori oleh Dr. Taufik Ampera, M.Hum.






Dalam paparannya, Indriyani menegaskan bahwa perubahan iklim dan pemanasan global bukan lagi sekadar prediksi atau teori ilmiah, melainkan krisis nyata yang sedang berlangsung. Sejak akhir abad ke-19, suhu rata-rata permukaan Bumi telah meningkat sekitar 1,1–1,3°C, di mana percepatan kenaikan suhu terpesat terjadi sejak dekade 1970-an.
“Perubahan iklim terjadi sekarang. Suhu bumi terus naik, cuaca ekstrem makin sering, dan ketidakadilan iklim memperdalam kesenjangan global. Ini adalah momen bagi kita semua—khususnya generasi muda di kampus—untuk memahami, peduli, dan segera bertindak,” ujar Indriyani di hadapan para mahasiswa baru.
Ancaman Nyata Kenaikan Suhu Global
Indriyani memaparkan fakta-fakta ilmiah terkini mengenai percepatan laju pemanasan global. Dengan menggunakan periode 1951–1980 sebagai acuan baseline (rata-rata 14°C), laju pemanasan kini mencapai sekitar ±0,35°C per dekade, melonjak signifikan dari 0,2°C per dekade pada tahun 1970-an.
Ia juga menyinggung keterkaitan penting antara Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dengan Perjanjian Paris 2015. Target pembatasan kenaikan suhu jangka panjang sebesar 1,5°C merupakan ambang batas keselamatan yang sangat krusial.
“Menahan suhu di angka 1,5°C ketimbang 2°C dapat menyelamatkan sekitar 420 juta orang di dunia dari bahaya gelombang panas ekstrem,” jelasnya. Sebaliknya, jika suhu dibiarkan melonjak, dampak buruk seperti penurunan produksi pangan di Asia Tenggara, krisis air bersih, kenaikan permukaan laut, serta peningkatan angka kesakitan akan meluas.

Inspirasi dari Kota Kitakyushu dan Kampus 421Lab
Sebagai wujud konkret bahwa perubahan besar dapat dimulai dari aksi lokal, Indriyani membagikan pengalaman dan praktik terbaik dari Kota Kitakyushu, Jepang. Kota industri ini berhasil bertransformasi menjadi salah satu kota hijau terkemuka yang aktif mengintegrasikan program SDGs.
Di lingkungan akademis, Universitas Kitakyushu memiliki pusat kegiatan bernama 421Lab (Pusat Pendidikan Koeksistensi Komunitas). Wadah ini menjadi jembatan antara mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dengan kebutuhan komunitas lokal. Berbagai inisiatif berkelanjutan yang digerakkan oleh mahasiswa di Kitakyushu antara lain:
- Pengurangan Sampah Makanan (Food Waste): Menerapkan kesadaran “mottainai” (rasa bersalah jika membuang barang/makanan berguna) dengan memeriksa persediaan sebelum berbelanja, mengolah makanan dengan efisien, serta menyalurkan kelebihan makanan melalui program Food Bank dan Kantin Anak (Children’s Cafeteria / Marutto Shokudo).
- Program Table for Two: Program sosial di kantin kampus yang menghubungkan pembelian makanan sehat oleh mahasiswa dengan donasi nutrisi bagi anak-anak yang membutuhkan.
- Kreasi Daur Ulang Kain Kimono: Mengubah kain perca dan kimono tua bekas yang sudah tidak terpakai menjadi tas ramah lingkungan (eco-bag) yang fungsional dan estetis.
- Aksi Pembersihan Kampus yang Menyenangkan: Mengadakan kegiatan rutin memungut sampah di sekitar kampus dengan konsep kreatif, seperti mengenakan kostum saat Halloween/Natal atau sembari menikmati Sakura.
- Gaya Hidup Hijau Kampus: Membudayakan penggunaan tumbler, membawa kantung belanja mandiri, memilah sampah, dan menanam tanaman hijau di lingkungan kampus.
Setiap Aksi Kecil Sangat Berarti
Menutup pemaparannya, Indriyani mengajak mahasiswa baru FIB Unpad untuk memperhatikan aspek environmental footprint dalam setiap keputusan konsumsi sehari-hari. Mempertimbangkan energi yang digunakan dan dampak lingkungan dari suatu produk—mulai dari proses produksi, distribusi, hingga pembuangannya—kini menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat modern yang bertanggung jawab.
Ia menekankan bahwa pencapaian target SDGs membutuhkan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
“Setiap tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten—seperti mengurangi sampah makanan, membawa tumbler, menghemat energi, dan memilah sampah—akan memberikan kontribusi besar bagi penurunan emisi dan menjaga keberlanjutan masa depan Bumi,” pungkasnya.
Acara ini diakhiri oleh diskusi yang diikuti secara antusias oleh para mahasiswa baru. Mahasiswa menanyakan bagaimana relevansi program studinya yang terdiri dari berbagai bahasa dan budaya untuk mendukung program SDG.
