Jatinangor, 2026 – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh civitas akademik Universitas Padjadjaran. Kali ini, 4 mahasiswa program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad berhasil meraih intensif Nasional melalui Program Kreativitas Mahasiswa pada bidang Artikel Ilmiah (PKM-AI) tahun 2026. Tim yang terdiri dari Firda Farika Mujahidah sebagai ketua, dan Kanaya Eryana Putri, Anisa Aulia Ramadhani, Nazwa Jasmine sebagai anggota, berhasil membedah fenomena sosial yang sedang hangat di jagat maya, yaitu menurunnya empati netizen terhadap korban bencana.

(Apresiasi pada postingan instagram @unpadfib)
Berawal dari Banjir Sumatra hingga terjadinya Fenomena Victim Blaming
Firda dan tim mengaku bahwa pemilihan topik artikel ilmiah ini tidak terjadi begitu saja, tetapi dipicu oleh kekhawatiran yang muncul akan pergeseran perilaku atau reaksi publik terhadap korban bencana banjir yang belum lama ini melanda Sumatra.
“Hal yang menjadi pemantik utama terpilihnya tema ini karena pada awalnya publik begitu peduli dan empati terhadap korban bencana. Namun, begitu narasi mengenai penjarahan yang dilakukan oleh korban bencana muncul, kami melihat banyaknya respons atau komentar publik di media sosial yang mulai kehilangan empati atau rasa peduli terhadap korban bencana.”
Mereka menemukan bahwa narasi negatif tersebut memicu terjadinya fenomena victim blaming (menyalahkan korban) secara masif yang bahkan sampai pada tahap menghakimi dan menganggap musibah yang dialami korban sudah sepantasnya terjadi. Melalui artikel yang berjudul “Erosi Empati Publik terhadap Korban Bencana Sumatra Akibat Narasi Penjarahan di Media Sosial: Analisis Wacana Kritis” ini, Firda dan tim menelaah lebih dalam dari sisi kebahasaan bagaimana sebuah konstruksi narasi mampu memengaruhi pandangan publik, serta bagaimana wacana mengenai “korban ideal” turut ikut andil dalam penurunan empati di ruang digital dan mendorong terjadinya victim blaming.
Manajemen Waktu dan Dukungan dari Dosen Pembimbing
Proses penyusunan artikel ilmiah ini dilakukan selama masa libur kuliah, sehingga Firda dan tim menghadapi rintangan jarak dalam prosesnya. Meskipun begitu, mereka mampu menyiasatinya dengan komunikasi yang solid, ditambah rasa tanggung jawab bersama untuk menyelesaikan artikel ini secepatnya. Selama proses penyusunan, Firda dan tim juga turut dibimbing oleh Pak Agus Nero selaku dosen pembimbing. Firda berkata bahwa proses bimbingan diadakan secara offline atau tatap muka, sehingga hanya bisa diwakili oleh ketua tim karena adanya keterbatasan jarak.
Dukungan dari dosen pembimbing pun menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka. Selama masa bimbingan, Pak Nero dinilai sangat suportif dan mampu memberi arahan dengan baik terhadap tim, hingga membantu proses revisi artikel dari segi tata bahasa agar dapat memenuhi standar karya ilmiah.
Kemenangan yang Tak Disangka
Mengaku tidak memasang ekspektasi tinggi sejak awal, Firda dan tim awalnya hanya berfokus untuk memberikan performa terbaik dalam menyelesaikan dan merevisi artikel mereka. Pengumuman kelulusan PKM-AI sebagai penerima insentif nasiona tahun 2026 tentu menjadi kejutan serta buah manis dari kerja keras mereka.
Menurut mereka, pencapaian ini tidak lepas dari peran besar ketua prodi Sastra Indonesia FIB Unpad yang dinilai sangat progresif dalam memberikan dukungan, mulai dari fasilitas hingga mendorong seluruh mahasiswanya untuk berani mengambil peluang dan berkompetisi di ajang PKM.
“Alhamdulillah-nya kami dikasih kesempatan untuk jadi salah satu penerima insentif. Kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih juga karena ketua prodi kami sangat mendukung dan mendorong semua mahasiswanya untuk mengikuti PKM ini.”
Selamat kepada tim mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad! Semoga penelitian mengenai erosi empati ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan studi linguistik dan kesadaran bersosial media di Indonesia, serta mendukung SDG 16 dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, adil, dan humanis.

