Author name: Ghina Nafsiya

Berita

Unpad Terapkan Perkuliahan Hybrid, Mahasiswa Bebas Memilih Sistem Pembelajaran

Jatinangor, 11 Mei 2023 – Universitas Padjadjaran (Unpad) akan menggelar pembelajaran hybrid untuk seluruh aktivitas perkuliahan. Kombinasi pembelajaran luring dan daring akan diterapkan demi proses pembelajaran yang dapat mencapai kompetensi yang dibutuhkan. Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti dalam laman resmi Unpad mengatakan bahwa Unpad tetap memberlakukan kebijakan pembelajaran hybrid setelah pelaksanaan UTS. Selain itu, Rina menjelaskan bahwa selama pandemi, dosen dan mahasiswa terbiasa memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.  Namun, ada beberapa dampak yang muncul dari metode pembelajaran daring, salah satunya mahasiswa yang berkeluh kesah mengenai materi yang sulit untuk dipahami ketika pembelajaran daring. Latar belakang inilah yang membuat metode hybrid (daring dan luring) dipilih untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Melalui kebijakan ini, Rina mengatakan bahwa perkuliahan tidak seluruhnya digelar secara luring, tetapi teknologi yang selama ini sudah diaplikasikan tetap dimanfaatkan dan tetap dilanjutkan pada semester ganjil tahun akademik 2022/2023. Nantinya, pembelajaran tatap muka akan dihadiri maksimal 40 persen dari total mahasiswa di satu kelas dan mahasiswa dapat memilih kelas yang ingin diikuti, baik kelas luring maupun kelas daring.  “Mahasiswa diperbolehkan untuk mengikuti kelas secara daring, jika tidak berkesempatan untuk mengikuti kelas secara luring karena akses rumah yang jauh. Kami ingin penyampaian materi terjamin dan terserap oleh mahasiswa, dan kemampuan penggunaan teknologi tetap meningkat,” kata Rina. Kendati demikian, Unpad tetap dibuka penuh untuk mahasiswa. Mahasiswa juga diperbolehkan mengikuti perkuliahan secara daring dari kampus melalui fasilitas yang disediakan. “Prinsipnya kampus dibuka. Jika mahasiswa ingin kuliah secara daring, dipersilahkan. Jika mahasiswa ingin kuliah secara luring, juga dipersilahkan, dengan syarat jadwal kuliahnya sudah terjadwal,” tambah Rektor. Lebih lanjut, pertemuan luring didorong agar pendalaman materi dapat dilakukan secara interaktif melalui diskusi intens, dikarenakan diskusi menjadi kurang optimal ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Unpad telah mengembangkan Learning Management System (LMS) LiVE Unpad untuk mengakses berbagai materi pembelajaran sebagai penerapan pembelajaran daring. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengakses berbagai materi perkuliahan kapan dan di mana saja. “Hal ini terjadi, dikarenakan kami ingin mengombinasikan kelebihan pembelajaran luring dengan pembelajaran daring,” pungkas Rina. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Kantin Saridhona : Bayar Seiklasnya, Makan Sepuasnya

Jatinangor, 28 Maret – Suasana ramai mengisi Asrama Bale Wilasa I Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang. Di dalam asrama, koridor diisi beberapa kelompok yang tengah berdiskusi dan tempat fotokopi terlihat penuh oleh mahasiswa yang sibuk mencetak tugas.  Namun, tempat yang paling ramai diisi oleh mahasiswa di dalam asrama adalah Kantin Saridhona, sebuah kantin sederhana yang berlokasi di sebelah kiri asrama dan diisi deretan kursi serta meja dengan pagar bambu setinggi setengah badan orang dewasa.  Tampak depan kantin terdapat nasi dan deretan lauk pauk seperti ikan, sayur, telur, dan lainnya. Tak jauh dari tempat nasi, terlihat kotak kencleng, ditambah keranjang piring kotor serta tong sampah yang berada di sisi kiri kantin.  Kantin ini memiliki slogan “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya”, di mana siapapun yang makan di kantin ini, bisa makan sepuasnya dengan memasukkan uang ke dalam kencleng (kotak uang) seikhlasnya.  Salah satu mahasiswa Peternakan Unpad, Iman Taufik Ramadhan mengatakan bahwa kantin ini sangat membantu untuk mahasiswa, apalagi lokasinya yang berdekatan dengan asrama (mahasiswa penerima beasiswa) Bidik Misi yang secara finansial lemah. Ia berharap, konsep Kantin Saridhona dapat diikuti kampus lain maupun masyarakat. Hal ini dikarenakan, kantin merupakan tempat yang membantu bagi orang yang membutuhkan asupan gizi yang baik.  Selain itu, Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Unpad, Yan Muda Iskandarsyah mengungkapkan, kantin ini merupakan kantin kedua setelah didirikannya kantin pertama di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengatakan bahwa kantin tersebut adalah hasil inisiatif dari lulusan ITB. Pertama kali berada di ITB dan sukses, kemudian kantin ini didirikan di Unpad, setelah melalui obrolan dengan salah satu donatur yang merupakan teman dari Rektor Unpad.  Sebagai langkah awal, kantin tersebut didirikan di Bale Wilasa I. Dari segi lokasi, Bale Wilasa I memang tidak menguntungkan secara bisnis, dikarenakan lokasinya yang jauh dari pusat keramaian mahasiswa. Namun Unpad memilih lokasi tersebut dengan alasan kesiapan tempat. Pertimbangan lainnya dilihat dari Bale Wilasa sebagai asrama yang menampung para perempuan  penerima beasiswa Bidikmisi yang notabene berasal dari keluarga kurang mampu. Jika pencairan beasiswa dari para mahasiswi tidak tepat waktu, mereka kesulitan untuk makan.  Dengan adanya kantin ini, diharapkan kebutuhan gizi dari para mahasiswa terpenuhi, dengan pembayaran makanan yang dilakukan seikhlasnya.  Makna Kantin Saridhona  Yan menjelaskan bahwa kantin ini bukan hanya sekadar tempat makan. Terdapat banyak makna yang ingin disampaikan, mulai dari mendidik, belajar berbagi, sampai dengan disiplin.  “Kantin ini mengajarkan orang untuk saling membantu. Orang yang tidak punya uang, bisa bayar berapapun. Sementara yang berkecukupan, bisa membeli lebih atau memberikan donasi dalam bentuk yang lain,” tuturnya.  Makna lainnya adalah disiplin, di mana terdapat tata cara makan di Kantin Saridhona. Mahasiswa atau pengunjung akan diberi semacam piring beralas daun pisang untuk mengambil makan. Meski bisa makan sepuasnya, mahasiswa diimbau untuk makan secukupnya, jangan sampai ada nasi atau lauk yang terbuang.  Sesudah makan, pengunjung bisa mengisi kencleng Seusai mengambil makanan, pengunjung bisa mengisi kencleng seikhlasnya dan kembalian dapat diambil secara mandiri dari kencleng.  Tidak lupa juga, para pengunjung diimbau untuk membereskan sisa makanannya sendiri, memasukkan sampah ke dalam tong sampah, dan menyimpan piring maupun gelas kotor di tempat yang sudah disediakan. “Porsi makanan yang disediakan untuk sementara adalah 100-120 porsi setiap hari, sesuai budget yang ada saat ini. Dan itu pun sebelum siang hari sudah habis,” ucapnya.  Ia berharap, ada donatur yang bisa membantu Kantin Saridhona, karena rencananya kantin ini akan dikembangkan ke bagian bawah, tepatnya di pusat keramaian mahasiswa.  Yan mengatakan bahwa para pengunjung tidak perlu khawatir terkait dengan masalah gizi, karena semua menu yang ada di Kantin Saridhona sudah dihitung gizi dan komposisinya oleh Fakultas Kedokteran Unpad. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

FPIK Unpad Kembangkan Startup Berbasis Teknologi Kemaritiman

Memiliki sebuah binaan perusahaan rintisan (startup) yang mendukung kemaritiman merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh pemangku kepentingan untuk mempromosikan dan meningkatkan upaya mencapai kehidupan yang berkelanjutan.  Salah satu binaan startup tersebut dinaungi dan dikembangkan oleh sivitas akademika Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, yaitu “Jack Don’t Swim”. Binaan startup karya anak bangsa ini pernah menjadi salah satu peserta “Blue Tech Accelerator”, sebuah program ambisius berskala global yang mempertemukan sejumlah startup dari berbagai negara yang bergerak pada bidang kemaritiman untuk saling menunjukkan inovasinya.  Di sisi lain, Jack Don’t Swim juga merupakan salah satu startup yang mendapat hibah Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan mendapat pembinaan dari Pusat Inkubasi Bisnis/Oorange Unpad.  Pada acara “Blue Tech Accelerator Program”, startup ini diikuti oleh satu alumnus dan dua mahasiswa Kelautan FPIK Unpad, yaitu Kemaal Sayyid Zenyda, S.Kel., (CEO), Salsa Dewi K (CMO), dan Alif Sumantri (CTO).  Salsa menyatakan kepada pihak Kanal Media Unpad bahwa startup yang dikembangkan oleh timnya ini menyediakan berbagai inovasi teknologi dan layanan jasa.  “Jack Don’t Swim merupakan startup yang bergerak di bidang teknologi instrumentasi kelautan yang di mana kegiatan usahanya adalah mengembangkan instrumen atau alat kelautan untuk menunjang ketersediaan data di Indonesia. Contoh produk kami adalah RHEA dan ARHEA. Selain mengembangkan produk, kami juga menyediakan jasa sewa dan reseller beberapa produk dari instrumen kelautan,” ungkapnya.  Para peserta dalam acara tersebut mendapatkan pendampingan dari beberapa mentor, seperti David Cutler (Co-Founder Fortuna Cools), Primiaty Natalia (Government and Community Coordinator in Thresher Shark Indonesia), Anna Oposa (Co-Founder Officer and Founder Bluepreneur Asia Ventures), Mary Jane Lamoste (Founder Tagpi-Tagpi), dan Swietenia Puspa Lestari (Co-Founder and Executive Director of Divers Clean Action). Dalam program ini, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) turut berperan dalam mendukung pengembangan strategi komunikasi yang efektif.  Selain unjuk inovasi, Salsa turut menambahkan bahwa program internasional ini merupakan sebuah wadah untuk menambah ilmu, khususnya terkait stakeholder mapping and power analysis, communication strategy, dan sustainable planning.  “Di sisi lain, kami juga mendapat banyak insight baru dalam berbagai hal dari para mentor hebat, yang di mana juga dapat membantu kami berkembang dalam menjalankan bisnis ini,” terangnya.  Adapun Salsa berharap bahwa Jack Don’t Swim dapat menjadi salah satu startup binaan yang dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah pada sektor kelautan di Indonesia.  Sejalan dengan Salsa, inovator sekaligus perintis Jack Don’t Swim dan dosen FPIK Unpad, Noir Primadona Purba, M.Si., turut mengungkapkan cita-citanya agar startupnya tersebut dapat menjadi berkontribusi dalam kemajuan teknologi kemaritiman di Indonesia. Di sisi lain, dirinya menambahkan agar melalui startup ini, mahasiswa dan alumni Unpad turut menunjukkan kontribusinya dalam inovasi teknologi dan instrumen kelautan.  Noir juga berharap agar melalui kegiatan “Blue Tech Accelerator Program”, kemampuan wirausaha startup mahasiswa dan alumni Unpad dapat kian meningkat.  “Untuk itu dengan mengikuti kegiatan ini, mereka akan lebih paham konteks bagaimana mengelola perusahaan startup. Karena ini skala internasional, mudah-mudahan mereka mendapat ilmu lebih banyak”, ungkap Noir.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Dukung Mobilisasi Civitas, Unpad Sediakan Layanan Bus Antar Kampus Jatinangor-Dipati Ukur

Jatinangor, Jawa Barat — Pengadaan transportasi luar kampus memang selalu dibutuhkan bagi civitas kampus. Selain membantu penghematan, transportasi luar kampus berguna untuk membantu mengurangi polusi udara.  Sejalan dengan hal tersebut, Universitas Padjadjaran telah menyediakan angkutan gratis khusus mahasiswa untuk menghubungkan Kampus Unpad Dipati Ukur dengan Kampus Unpad Jatinangor. Transportasi gratis yang disediakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas mobilitas mahasiswa Unpad.  Inisiasi tersebut merupakan hasil kesepakatan hasil diskusi antara pihak universitas yang diwakili oleh Direktorat Sarana dan Prasarana dengan mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kema Unpad. “Sebetulnya ini sudah diprogramkan pimpinan kita sudah lama. Kemudian sebulan kemarin kita intens komunikasikan bersama BEM, ujar Irwan saat wawancara di Ruang Radio Unpad. Penyediaan transportasi gratis tersebut bekerja sama dengan Perum DAMRI. Dalam hal ini disediakan dua unit bus dengan masing-masing berkapasitas 54 tempat duduk dan dapat menampung hingga 90 mahasiswa. Dua unit bus tersebut dibagi menjadi satu bus untuk perjalanan dari Kampus Jatinangor menuju Kampus Dipati Ukur, sedangkan sisanya untuk perjalanan dari Kampus Dipati Ukur menuju Kampus Jatinangor.  Irwan menjelaskan bahwa mahasiswa yang hendak menggunakan fasilitas ini perlu menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Hal ini bertujuan untuk memfilter penumpang yang hendak naik bus, sehingga dapat memastikan bahwa penumpang adalah benar-benar mahasiswa Unpad.   Waktu keberangkatan bus, yaitu pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB untuk bus dengan rute Dipati Ukur – Jatinangor. Sedangkan untuk bus dengan rute Jatinangor – Dipati Ukur, yaitu pukul 06.00 WIB dan 16.00 WIB (Senin-Selasa), serta 13.00 WIB dan 16.00 WIB (Rabu-Jumat). Adapun untuk bus tujuan Jatinangor akan mengelilingi fakultas yang ada di kampus Jatinangor.  Irwan menambahkan bahwa rute perjalanan bus akan melewati fly over Pasupati-Jalan Dr. Djunjunan-Tol Pasteur-Tol Purbaleunyi dan sebaliknya. Adapun selama perjalanan, bus tidak diperkenankan untuk menaikturunkan penumpang. Hal ini dilakukan agar waktu tempuh perjalanan lebih cepat.  Dirinya turut menuturkan bahwa pihak Direktorat Sarana dan Prasarana akan memantau dan mengevaluasi keefektifan pengadaan program ini.   “Jika memang tingkat okupansi dan keefektifannya tinggi, bukan tidak mungkin ke depan akan kita tambah armada maupun jadwal keberangkatan,” ungkapnya.  Irwan berharap mahasiswa dapat berkontribusi dalam memelihara fasilitas yang ada, yaitu dengan menjaga kebersihan dan ketertiban di dalam bus selama perjalanan. Sebelum program transportasi khusus mahasiswa ini berlaku, Universitas Padjadjaran telah mengadakan kerja sama dengan Perum DAMRI terkait penyediaan bus khusus dosen dan karyawan. Adapun setiap harinya bus melayani tiga rute keberangkatan, yaitu Dipati Ukur-Cicaheum-Cibiru-Jatinangor dan sebaliknya, Dipati Ukur-Kiaracondong-Soekarno Hatta-Cibiru-Jatinangor dan sebaliknya, serta Terminal Elang-Soekarno Hatta-Tol Moh. Toha-Tol Padaleunyi-Jatinangor dan sebaliknya. Waktu operasional bus, yaitu pukul 06.00 WIB dari Dipati Ukur dan Terminal Elang dan 16.00 WIB dari kampus Jatinangor.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Rencana Pengurangan Konsumsi Energi di FIB Unpad: Langkah Menuju Keberlanjutan

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran tengah menjalankan inisiatif penting untuk mengurangi konsumsi energi dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Dalam upaya ini, FIB Unpad telah merancang beberapa langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi energi di seluruh fasilitas kampus. Menurut Daman Yusup, M.M., Manajer Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana FIB Unpad, setidaknya ada empat langkah yang akan dilaksanakan oleh timnya terkait permasalahan ni. Pertama, FIB Unpad akan melakukan audit energi secara menyeluruh. Audit ini bertujuan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan dan menemukan solusi efektif untuk pengurangan konsumsi energi. Daman menambahkan, FIB akan mulai mengganti lampu konvensional dengan lampu LED. Lampu LED, yang dikenal karena efisiensi energi dan umur panjangnya, akan mengurangi konsumsi energi serta biaya pemeliharaan. Selain penggantian lampu, kedua, FIB Unpad juga akan mengimplementasikan sistem pencahayaan otomatis. Sistem ini menggunakan sensor gerak dan timer untuk memastikan pencahayaan hanya aktif saat diperlukan, sehingga mengurangi pemborosan energi. Pemanfaatan cahaya alami dari jendela dan skylight juga akan diperluas, mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan. Ketiga, pengelolaan sistem pendingin udara (AC) juga akan dioptimalkan. Suhu AC akan diatur pada tingkat optimal untuk menghindari penggunaan energi yang berlebihan. Selain itu, filter AC akan dibersihkan secara rutin, dan ventilasi alami akan dimanfaatkan untuk mengurangi kebutuhan pendinginan tambahan. Dengan melaksanakan langkah-langkah ini, FIB Unpad tidak hanya bertujuan untuk menurunkan biaya operasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada upaya keberlanjutan lingkungan. Inisiatif ini mencerminkan komitmen fakultas untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih ramah lingkungan dan efisien energi, serta menjadi contoh bagi institusi lain dalam menerapkan praktik keberlanjutan yang baik. Writer: Gilang Januarsyah

Berita

Pusdi Komunikasi Lingkungan Unpad Gelar Pelatihan Penanganan Ular

Jatinangor, 26 Februari 2023 – Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) bersama Yayasan Sioux Indonesia menggelar pelatihan penanggulangan ular “Snake Handling Training” yang diikuti sejumlah mahasiswa dan tenaga keamanan kampus di kampus Fikom Unpad, Jatinangor, pada Sabtu (25/03).  Kegiatan ini di dukung oleh berbagai pihak dan Fakultas, salah satunya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sebagai salah satu Fakultas rumpun Sosial dan Humaniora. Ketua Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fikom Unpad, Dr. Uud Wahyudin, M.Si., mengatakan bahwa target peserta dalam kegiatan ini yaitu tenaga keamanan, dengan harapan bahwa tim keamanan tidak hanya melakukan kegiatan pengamanan masyarakat di kampus, melainkan juga melakukan penanganan satwa, khususnya ular.  Dosen Fikom Unpad sekaligus aktivis satwa, Dr. Herlina Agustin, S.Sos., M.T., menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan pertama kali saat menemukan ular. Maka dari itu, pelatihan ini diadakan sebagai pemenuhan dari situasi tersebut.  Ia mengatakan bahwa ular itu bagaikan tetangga yang dapat ditemui di mana saja, dan terkadang banyak orang yang tidak mengetahui cara mengatasi ular sehingga mengambil tindakan langsung dengan membunuh ular. Tentunya jika menemukan ular, pihak yang dihubungi masyarakat untuk pertama kali adalah satpam. Maka dari itu, kegiatan ini berguna untuk mengedukasi satpam supaya mereka mampu menangani ular tersebut, demi melindungi masyarakat ataupun satwa itu sendiri.  “Satpam merupakan sasaran utamanya, karena jika ada ular, ular tersebut akan segera dibawa ke penampungan yang kita punya,” ujar Herlina. Bersama dengan aktivis Yayasan Sioux Indonesia, para peserta tidak hanya diberikan edukasi tentang cara menangani ular, tetapi juga diajarkan tentang bagaimana mengidentifikasi ular, pemahaman dasar mengenai jenis ular, serta tindakan apa saja yang dapat dilakukan bila terdapat korban.  “Alat sederhana dapat kita gunakan untuk menangkap ular, misalnya dengan sapu,” ujar Gaza, salah seorang aktivis satwa Yayasan Sioux Indonesia.  Ia juga menambahkan bahwa ketika ular tersebut melukai seseorang, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu menenangkan diri dan segera membersihkan diri dengan air mengalir sembari melakukan tiga hal penting, yaitu menekan, menahan, dan meninggikan agar tidak terkontaminasi oleh bakteri. Setelah itu, segera pindai bagian yang terluka agar tidak banyak bergerak.  Nantinya, ular akan dikembalikan ke habitat alaminya. Selain itu, ular yang terkumpul juga akan dipelihara di laboratorium sebagai objek penelitian mahasiswa. “Harapannya agar kita sebagai manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, agar ekosistem yang ada tetap terjaga,” pungkas Herlina. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Unpad Manglayang Training 2022 Ajak Masyarakat Lakukan Penghijauan Kembali

Jatinangor, Jawa Barat — Universitas Padjadjaran kembali menggelar acara Unpad Manglayang Trail Running (Unpad MTR) dengan konsep luring atau langsung secara keseluruhan. Adapun, tahun sebelumnya acara diselenggarakan secara hybrid dengan dimeriahkan oleh 150 pelari langsung dan 500 pelari jalur virtual run.  Unpad MTR dimeriahkan oleh para peserta lari yang berasal dari berbagai kota dan provinsi. Acara ini diselenggarakan di Jatinangor, Sumedang. Pembukaan dimulai sejak pukul 05.00 dengan melepas kategori lari 42K (Trail Marathon). Selanjutnya, kategori 21K (Trail Half Marathon) pada pukul 05.30, kategori 10K (Fun Trail) pada 05.45, dan yang terakhir kategori 5K (Family Trail) pada pukul 06.00.  Adapun peserta Unpad MTR terbagi ke dalam empat kategori. Sebanyak 100 pelari pada kategori 42K, 150 pelari pada kategori 21K, 150 pelari 10K, dan 200 pelari pada kategori 5K. Setiap peserta ditetapkan melalui ketentuan mandatory gears, meskipun terdapat sejumlah perbedaan berdasarkan tingkat kesulitan yang ada.  “Tentu pada kategori 42K dan 21K kelengkapan mandatory gears lebih banyak secara item dibandingkan kategori 10K dan 5K, mengingat medan berlari pun lebih berat,” ujar Race Director Unpad Manglayang Trail Running.  Secara teknis, cut off time berlaku 7 jam untuk kategori lari 42K, 6 jam untuk kategori 21K, 2 jam untuk kategori 10K, dan 1,5 jam untuk kategori terakhir, yaitu 5K. Dengan demikian, diharapkan acara resmi ditutup pada pukul 17.00.  Jalur yang dipilih pada kegiatan Unpad MTR tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, yaitu dari Kampus Unpad Jatinangor ke arah Batu Beureum melalui Bumi Perkemahan Kiara Payung. Pelari yang memilih rute marathon dan half marathon memiliki trek lari hingga ketinggian 1818 mdpl. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pelari, sebab medan lari di Gunung Manglayang yang mengacu adrenalin.  Acara ini turut melibatkan anggota Palawa Unpad untuk menjadi bagian dari penggagas kegiatan. Di sisi lain, Unpad MRT telah mendapat dua poin ITRA pada kategori 42K dan satu poin 21K. Demi memenuhi ketentuan ITRA, panitia Unpad MTR mengurangi satu titik pos hidrasi pada kategori 42K dan 21K.  “Jangan khawatir, pengurangan ini sudah diperhitungkan dengan baik, sehingga tidak memberi dampak negatif bagi peserta,” ujar Safitra. Keuntungan poin ITRA yang didapat pelari, yaitu bagi peserta yang finish sesuai cut off time akan mendapat poin untuk mengakses sejumlah race trail di luar negeri yang tergabung dalam ITRA.  Selain berlari, konsep acara Unpad MRT juga mengangkat semangat menjaga lingkungan melalui penghijauan kawasan. Hal ini dibuktikan dengan diterapkannya konsep tersebut melalui kegiatan “1 Pelari 1 Pohon” secara konsisten.  Berlandaskan jumlah pelari yang mencapai 600, maka pada kesempatan tersebut ditanamkan 600 pohon pada kawasan hutan Gunung Manglayang, terutama di lereng-lereng yang menjadi sumber ekonomi penduduk setempat. Tidak hanya peserta lari, kegiatan ini juga turut melibatkan penduduk dan kelompok tani untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan pohon-pohon yang telah ditanam tersebut.  “Kami memanfaatkan teknologi dengan mengembangkan aplikasi untuk ini,” ungkap Ketua Panitia Unpad MTR, Jaston Pangaribuan.  Adapun pohon yang dipilih untuk ditanam, yaitu pohon buah. Hal ini didasarkan pada harapan agar dapat mendatangkan manfaat ekonomis bagi penduduk sekitar. Beberapa pohon di antaranya, yaitu alpukat dan manggis.  Dikarenakan masih dalam masa transisi pasca pandemi covid, panitia Unpad MRT berkolaborasi dengan IdeaRun selaku race management. Melalui hal ini, tim race management menerapkan standar tinggi pada pelaksanaan acara, salah satunya dengan standar protokol kesehatan yang terbaru.  “Tim kami sudah bolak-balik mendaki sampai puncak tertinggi Gunung Manglayang dan senang sekali dengan jalurnya. Mudah-mudahan para pelari akan lebih happy nanti, dengan upaya kami mengelola fasilitas di lintasan,” ujar Safrita.  Unpad MRT didukung oleh sejumlah pihak, seperti IKA Unpad. Selain itu, ada pula sponsor yang datang dari PT Timah, Bank Mandiri, Telkomsel, Medco Foundation, Bumi Rantau Energi, Bank Indonesia, Strive, Salomon, BPJS Ketenagakerjaan, Kimia Farma, Crystalline, dan Netflix.id.  Melalui kegiatan lari bersama dengan masyarakat umum, diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antara institusi perguruan tinggi dengan publik. Dengan demikian, hal ini dapat memperbesar upaya mencapai tujuan kota dan permukiman yang berkelanjutan.  Red : Maria Imanuella Dewi Sekartaji

Berita

Efisiensi Energi di Universitas Padjadjaran: Rata-Rata Penggunaan Listrik per Orang

Universitas Padjadjaran (Unpad) tengah berupaya untuk meningkatkan efisiensi energi di seluruh lingkungan kampus. Salah satu cara untuk memantau dan mengelola konsumsi energi adalah dengan memahami seberapa banyak listrik yang digunakan per orang di kampus. Pada tahun 2023, total penggunaan listrik di Unpad diperkirakan mencapai 12.000.000 kWh. Penggunaan listrik ini mencakup berbagai fasilitas, termasuk ruang kelas, laboratorium, perkantoran, dan perpustakaan. Dengan jumlah populasi kampus yang mencapai sekitar 36.958 orang, kita dapat menghitung rata-rata penggunaan listrik per orang. Menggunakan data ini, total penggunaan listrik per orang di Unpad adalah 325 kWh. Ini berarti setiap individu di kampus, jika dibagi rata, menggunakan sekitar 325 kWh listrik selama periode tersebut. Angka ini memberikan gambaran yang jelas tentang konsumsi listrik di tingkat individu. Memahami angka ini penting karena membantu Unpad dalam merancang strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Dengan mengetahui rata-rata penggunaan listrik, pihak universitas dapat lebih efektif dalam mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, merancang langkah-langkah efisiensi energi, dan mendukung upaya keberlanjutan di kampus. Melalui pendekatan ini, Unpad tidak hanya berusaha mengurangi biaya operasional, tetapi juga berkomitmen untuk mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi energi. Ini merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk menciptakan kampus yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Writer: Gilang Januarsyah

Berita

“Smart Watering” sebagai Perangkat Hidroponik PintarDosen dan Mahasiswa FTIP Unpad

Jatinangor, Jawa Barat – Tim peneliti Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran telah mengembangkan perangkat hidroponik menggunakan prinsip self watering system tanpa menggunakan energi listrik.  Dosen FTIP Unpad Dr. Sophia Dwiratna Nur Perwitasari, M.T., bersama lima mahasiswanya: Diki Abdulah, Chaerul Amin, Shilvya Dewi Agustien, Annisa Nurdiah, dan Salma Waffiyah mengembangkan sebuah perangkat yang dinamakan “Smart Watering”. Perangkat ini merupakan sebuah produk hasil hilirisasi Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi 2018-2019 yang diketuai oleh Dr. Sophia. Kemudian, produk ini diusulkan dalam kompetisi bisnis yang difasilitasi oleh Hibah Inovasi Pre-Startup Mahasiswa Unpad (HIPSMU).   Diki mengungkapkan bahwa penggunaan listrik dalam hidroponik cukup tinggi, terutama penggunaan listrik untuk pengelolaan air.  Maka dari itu, “Smart Watering” hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Selain itu, Diki juga mengungkapkan bahwa “Smart Watering” memanfaatkan gaya gravitasi, prinsip archimedes, dan kapilaritas, dan memberikan hasil yang sama bagusnya dengan sistem yang memakai energi listrik untuk irigasi.  Penggunaan “Smart Watering” dipastikan dapat meningkatkan efisiensi dalam penggunaan air dan nutrisi, dan tentunya hemat listrik. Selain itu, produk ini dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman dan metode hidroponik, seperti substrat dan kultur air. “Kami mengaplikasikan self watering system, dimana 100% air dan nutrisi akan diserap oleh tumbuhan. Proses penguapan dari media tanamnya kami minimalisir,” jelas Diki. Produk ini menggunakan berbagai komponen yang terdiri dari tandon, bucket, valve, dan saluran irigasi. Terkait penggunaan, pertama-tama tandon diisi dengan air dan nutrisi, lalu ketika keran dibuka, air dan nutrisi akan masuk ke setiap katup yang ada di wadah, dimana katup tersebut akan mengatur pemberian irigasi.  “Setiap bucket akan diairi oleh valve sesuai dengan kebutuhan tanaman,” imbuh Diki.  Dengan demikian, pengguna tidak perlu setiap hari menyiram. Proses menyiram tanaman hanya memerlukan waktu satu minggu sekali atau sesuai dengan fase tumbuh tanaman.  Diki dan tim memiliki prinsip “bertani tanpa ribet”, dimana penggunaan “Smart Watering” dinilai praktis, hemat biaya, dan ramah lingkungan. Dengan kata lain, mereka berupaya menciptakan produk yang mudah digunakan dengan hasil yang optimal.  Mengenai ciri fisik produk, satu instalasi produk berukuran sekitar 150×60 cm, dan diperkirakan mampu digunakan untuk 70 lubang tanaman sayur daun dan 10 tanaman sayuran buah. Menanggapi hal ini, Diki mengatakan bahwa produk ini dapat dimanfaatkan di teras-teras rumah atau pekarangan. Selain itu, produk ini mudah dikemas, dan pemasangannya mudah.  Produk ini sudah dipasarkan dan digunakan di berbagai daerah. Dik…………..i dan tim berharap, masyarakat (terutama yang tinggal di perkotaan) mudah bercocok tanam di pekarangan rumahnya masing-masing, dengan adanya produk ini. Selain itu, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) juga diharapkan dapat mengambil peran dalam mempromosikan dan memperkenalkan produk ini ke khalayak umum dengan pendekatan yang berkaitan dengan budaya.  Diharapkan pula, produk mereka dapat berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan Indonesia,.  “Kami sangat berharap, produk ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dikarenakan kami juga akan memproduksi ke dalam skala yang lebih besar,” pungkas Diki. Red : Yohanes William Ivakdalam

Berita

Tingkatkan Keterampilan Komunikasi Penyandang Disabilitas, Unpad Kembangkan Platform Disabisa

Jatinangor, 26 Januari 2023 – Unpad mengembangkan situs Disabisa untuk memberikan keterampilan komunikasi bagi penyandang disabilitas. Disabisa merupakan situs pembelajaran komunikasi yang digagas oleh Fakultas Ilmu Komunikasi dan Pusat Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran Universitas Padjadjaran, dengan dukungan Ditjen Dikti. Berbagai Fakultas turut mendukung situs pembelajaran tersebut, salah satunya Fakultas Ilmu Budaya (FIB).  Inovasi pembelajaran ini diinisiasi dan dikelola oleh empat dosen Fikom Unpad, yaitu Dr. Ira Mirawati, M.Si., Putri Limilia, M.Si., Jimi Narotama Mahameruaji, M.Si., serta Dr. Herlina Agustin, M.T. Melansir dari situs resmi Disabisa, terdapat beberapa tujuan atau harapan yang ingin dicapai dari upaya ini. Tujuan dan harapan tersebut adalah:– Menyadarkan teman-teman difabel netra dan daksa akan potensi mereka untuk dapat menjadi pembicara andal.– Membantu teman-teman difabel netra dan daksa menemukan kelebihan dirinya masing-masing.– Menuntun teman-teman difabel netra dan daksa untuk berlatih menyusun materi public speaking.– Menuntun teman-teman difabel netra dan daksa untuk praktik berlatih vokal.– Menuntun teman-teman difabel netra dan daksa untuk praktik menggunakan kekuatan bahasa nonverbal.– Menuntun teman-teman difabel netra dan daksa berlatih membuka dan menutup pidato dengan menarik. Selain menyasar penyandang disabilitas netra dan daksa, kini Disabisa juga menyasar penyandang tuli. Baru-baru ini, Disabisa meluncurkan video seri pelatihan “Menjadi Kreator Konten Media Sosial bagi Teman Disabilitas Rungu”. Video seri pelatihan ini merupakan program kedua dari Disabisa Unpad. Sebelumnya, video seri pelatihan lainnya sudah diluncurkan oleh Disabisa pada tahun 2021, yaitu video seri pelatihan “Public Speaking bagi Disabilitas Netra dan Disabilitas Daksa”. Belajar Bikin Konten Secara Mandiri Managing Director Disabisa Unpad, Dr. Ira Mirawati, M.Si., mengatakan bahwa hadirnya video seri di website resmi Disabisa Unpad dilakukan untuk memberikan kesempatan pada teman-teman disabilitas rungu belajar secara mandiri menggunakan gawai di mana pun dan kapan pun. Untuk memudahkan teman-teman disabilitas dalam belajar, video-video yang ada dilengkapi dengan bahasa isyarat dan teks. Ira mengatakan bahwa dengan adanya keterampilan membuat konten media sosial, mereka dapat mendapatkan penghasilan sebagai kreator konten, selain memiliki kesempatan menyampaikan ide-idenya. Rangkaian Materi Adapun rangkaian materi yang disediakan dalam video seri itu meliputi: – Perkenalan profesi kreator konten – Keterampilan dasar kreator konten – Mencari ide untuk konten – Pencahayaan foto – Komposisi foto dan gambar – Fotografi dan videografi dengan ponsel pintar – Mengedit video sederhana – Serta bagaimana mendapatkan penghasilan dari media sosial. Bisa Dipelajari Masyarakat Umum Materi-materi yang disajikan pada website Disabisa dikhususkan untuk teman-teman disabilitas rungu, namun tidak menutup kemungkinan terhadap masyarakat umum yang ingin belajar. Disabisa dapat diakses di https://disabisa.unpad.ac.id/. Sebelumnya Ira menyampaikan bahwa berbicara di depan umum kerap menjadi tantangan bagi banyak orang biasa, terutama bagi penyandang disabilitas. Meski demikian, kemampuan berbicara di depan umum pada kenyataannya memberikan dampak positif bagi penyandang disabilitas, yaitu peningkatan derajat hidup.  Maka dari itu, Unpad mengembangkan laman Disabisa. Disabisa hadir untuk membantu teman-teman disabilitas dalam menemukan, mengeksplorasi, dan melatih kemampuan public speaking-nya. “Jika mereka memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, mereka akan memiliki kemampuan untuk menjadi penyaji efektif,” pungkas Ira. Red : Yohanes William Ivakdalam

Scroll to Top