Profil Mahasiswa

Mahasiswa Inspiratif

Susilawati (Sastra Sunda 2016)

Susilawati, Akrab dengan Aksara Sunda

Menumbuhkan Cinta untuk Ilmu Filologi

Di tengah semakin terpinggirnya bahasa Sunda (daerah) oleh bahasa Indonesia dan bahasa asing, Susilawati (21) dengan gigih terus berupaya mempertahankan eksistensi aksara Sunda yang daya hidupnya lebih memprihatinkan dari bahasa Sunda itu sendiri, melalui berbagai usaha dan perjuangannya, ia terus ngeureuyeuh mensosialisasikan aksara Sunda agar tetap eksis di masyarakat, terutama melalui komunitas akasara Sunda yang didirikannya Jatinangor Aksara Sunda (JAS), kreasi Kartu Akasara Sunda, dan bahkan menciptakan sendiri Lagu Aksara Sunda untuk membantu dan memudahkan mereka yang berminat mempelajari aksara Sunda.

Keakraban mahasiswa program studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran angkatan 2016 ini dengan akasara Sunda dimulai sejak ia duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama di Cikajang Garut. Sejak kelas dua SMP, kecintaanya terhadap akasa Sunda terus tumbuh. Berbekal kamus aksara Sunda yang diberikan guru sekolahnya, ia terus berlatih sendiri merangkai berbagai kata dan kalimat dalam aksara Sunda.

“Langsung jatuh cinta dengan Akasara Sunda. Ternyata nenek moyang kita juga punya Aksara Sunda sendiri yang tidak kalah uniknya dan menarik dengan aksara Arab, Jepang, India, Cina, atau yang lainnya” tutur mahasiswa yang saat ini hanya tinggal menempuh ujian sidang sarjana ini.

Ketika ia duduk di bangku SMAN 16 Garut, kecintaanya terhadap Aksara Sunda sempat hampir pudar karena saat kelas satu ternyata tidak ada pelajaran aksara Sunda. Namun saat naik ke kelas dua, kedatangan guru bahasa Sunda baru Pak Heri Susanto, S,Pd membangkitkan kembali semangat Usi (panggilan sehari-harinya) terhadap Aksara Sunda. Ketika ada Pasanggiri Nulis Aksara Sunda di Universitas Pendidikan Indonesia, Pak Heri langsung memilih Usi untuk ikut serta, “Namun pada saat itu sekolah tiba-tiba mendadak membatalkan keikutsertaan dikarenakan alasan jarak yang jauh. Sempat down, karena persiapan gigih belajar selama ini menjadi sia-sia. Tapi ternyata, beberapa bulan kemudian, diam-diam Pak Heri mendaftarkan Usi ikut lomba Nulis Aksara Sunda yang ada di Garut. Kemudian mengikuti perlombaan Aksara Sunda di Karawang menjadi juara satu, hal tersebut menjadi titik balik semangat yang tak pernah lagi hilang hingga sekarang.”

Sejak SMA, Usi ternyata sudah biasa memberikan pelajaran Aksara Sunda kepada anak-anak yang ada disekitar rumahnya. “Walaupun kemampuhannya saat itu hanya sebatas bisa membaca dan menulis, tapi selalu tergerak hati ingin berbagai pengetahuan kepada adik-adik tetanga yang ada di lingkungan sendiri. Waktu itu sempat berpikir, kelak ketika masuk SMP anak-anak SD ini pasti akan mempelajari Aksara Sunda, kalau disiapkan dari sekarang mungkin akan mempermudah mereka dalam proses belajar Aksara Sunda.”

Saat ini Usi memang merasa aneh, ko bisa-bisanya anak SMA berpikir seperti itu. Ternyata itu adalah bagian dari proses belajar yang diberikan oleh Pak Heri. Bahasa dan aksara Sunda memang harus terus dipakai dan diprakterkan langsung agar tidak lupa. Mengajarkan kepada anak-anak kecil adalah bagian dari proses pembelajaran aksara dan bahasa yang sangat penting. Pak Heri juga ternyata yang merekomendasian Usi masuk jurusan Sastra Sunda di Universitas Padjadjaran yang salah satu  alasannya karena ada penjurusan konsentrasi Filologi.

Ketika masuk kuliah di jurusan Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Unpad, ternyata memang benar ini adalah surganya bagi mereka yang berminat memfokuskan diri terhadap kajian filologi atawa aksara Sunda. Selain banyak matakuliah yang berhubungan dengan dunia filologi seperti adanya matakuliah bahasa Kawi, bahasa Sansekerta, Cacarakan, dan Pegon. Para dosen yang mengampu matakuliah juga begitu informatif dan apresiatif. Usi juga terbantu dengan saran-saran dari dosennya terutama Manajer Riset, PKM & Kerja Sama FIB Unpad Taufik Ampera, M.Hum., yang menyarankan untuk menghakikan produk-produk kreasi dan merekomendasikan untuk tampil di berbagai acara dan kegiatan, baik di dalam kampus maupun luar kampus.

Mendirikan Jatinangor Aksara Sunda (JAS)

Ketika Usi mahasiswa, ia tak pernah diam dan selalu ingin tahu. Keinginan tahuan Usi terhadap Akasara Sunda membuka pintu silaturahmi dan membawa ia lampar sampai ke Karawang pada tahun 2016 dan kemudian bergabung dengan komunitas Mikadeudeuh Aksara Sunda Karawang (MASKAR). Saat aktif di MASKAR, Usi kaget melihat bagaimana Aksara Sunda begitu populer dan dipakai di lingkungan komunitas dan masarakat di Karawang, sampai-sampai banyak produk makanan yang mencatumkan nama dengan akasara Sunda.

“Melihat respon masarakat di Karawang dan MASKAR terhadap Aksara Sunda yang begitu besar, hal itu yang kemudian menggugah diri untuk mendirikan komunitas Aksara Sunda di Jatinangor yang kemudian diberi nama Jatinangor Aksara Sunda atau JAS.”

JAS didirikan pada tanggal 27 November 2017 dengan tujuan untuk semakin mengenalkan Aksara Sunda kepada masyarakat Sunda, baik tua maupun muda. Penggagas utama Usi (FIB Unpad) bersama Yana Triana (UT Bandung), Shandy Destiati (ITB), dan Yusanuari Alarini (ITB). Sejak berdiri sampai dengan sekarang, tercatat JAS telah banyak melakukan program kerja, dimulai dengan JAS Nganjang ka Sakola, Jas Saba Kota, Mengadakan pelatihan Menulis Aksara Sunda, dan undangan-undangan pelatihan di luar kota.

Tahun 2018 JAS dijadikan objek pada pembuatan film dokumenter mahasiswa TV & Film ISBI, Bandung. Film yang berjudul “BUDAYA YANG TIDAK DIBUDAYAKAN” mengangkat Aksara Sunda menjadi topik utama. Di tahun 2019 JAS dijadikan objek pada pembuatan video dokumenter mahasiswa DKV IWU (International Women University), Bandung. Isi dalam film tersebut mengangkat seberapa besar sebenarnya kaum muda yang tahu tentang Aksara Sunda, apakah di sekolah-sekolah masih diajarkan aksara sunda atau tidak, juga mengajak kaum muda untuk bersama-sama melestarikan Aksara Sunda melalui komunitas-komunitas yang ada di setiap daerahnya dan di lembaga pendidikan formal.

Pada pertengan bulan puasa kemarin, diundang juga di RRI Bandung dalam acara English Service Program (ESP) khusus untuk komunitas-komunitas kece di bidang pendidikan, hiburan, budaya dan yang lainnya. Saat itu JAS membeberkan bagaimana perjalanan JAS dari awal sampai saat ini, apa perah adanya komunitas JAS bagi masyarakat, dan tak lupa mengajak semua kaum muda untuk melestarikan aksara Sunda.

Kartu dan Lagu Aksara Sunda

Salah satu tujuan dibentuknya komunitas JAS adalah sebagai wadah untuk memperkenalkan Aksara Sunda kepada masarakat, terutama generasi muda, melestarikan budaya Sunda, dan juga mengangkat semangat kaum muda agar tidak gengsi dengan budaya Sunda. Namun salah satu permasalahan yang dihadapi di lapangan oleh JAS adalah permasalah kesulitannya memahami Aksara Sunda dengan cepat dan efisien.

“Kemudian teringat dengan proses belajar Aksara Sunda diri sendiri di waktu SMA. Saat masih mempelajari Aksara Sunda dan persiapan untuk lomba di SMA, Pa Heri pernah bilang agar membuat metode latihan sendiri yang bisa cepat dalam membantu mengingat dan mengenali Aksara Sunda. Saat itu saya teringat permainan kartu, dibuatkan metode pembelajaran dengan Kartu Aksara Sunda.”

Saat ini metode pembelajaran dengan Kartu Aksara Sunda menjadi metode pembelajaran yang cepat dan efisien di masyarakat. Produknya sendiri berupa alat peraga. Kartu Aksara Sunda dibuat semenarik mungkin dan mudah dibawa kemana-mana. Satu set Kartu Aksara Sunda terdiri dari Aksara Vokal/Swara, Konsonan/Ngalagena, Rarangkén/Vokalisasi, dan Angka. Kartu Aksara Sunda ini pun sudah diperkenalkan di tingkat nasional pada acara Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) yang diadakan oleh Kemendikbud pada Juli 2019 lalu.

“Bahkan alat peraga yang membantu metode pembelajaran aksara Sunda ini sekarang sudah di HAKI-kan, diproduksi, dan banyak dipakai oleh guru-guru basa Sunda dan masyarakat umum. Hal itu juga tidak terlepas dari bantuan dan dukungan penuh dari Pa Taufik Ampera, M.Hum.,” kata mahasiswa asal Cisurupan Garut ini.

Kartu Aksara Sunda ini bisa dikreasikan kedalam berbagai bentuk yang bisa membantu dan mepermudah dalam memahami Aksara Sunda, misalnya dikerasikan menjadi pazzle aksara Sunda, tebak kata, susun kata, dan banyak lagi variasi lainnya. Satu set Kartu Aksara Sunda yang berisi 53 kartu ini sudah terjual hingga ratusan set dengan harga Rp. 70 ribu/set. Penggunanya yakni guru-guru, penggiat aksara Sunda, dan masyarakat umum.

“Testimoni dari pemakai produk, semuanya positif dan terbantu dengan adanya Kartu Aksara Sunda. Banyak yang menjadi lebih tertarik dengan pelajaran aksara Sunda dengan Kartu Aksara Sunda karena banyak opsi pembelajaran yang bisa dilakukan.”

Setelah berhasil menciptakan produk alat peraga Kartu Aksara Sunda, Usi tidak lantas berpuas diri, berbagai masukan dan saran-saranna dari para pengguna terutama dosennya Taufik Ampera, M.Hum., juga kemudian mengilhaminya untuk menciptakan hal baru, salah satunya adalah lagu aksara Sunda. Lagu ini sengaja diciptakan Usi untuk menambah variasi dalam mengajarkan aksara Sunda dan mencakup 53 aksara Sunda. Lirik lagu yang diciptakan Usi adalah:

Lagu Aksara Sunda

Hayu kabeh baraya..

Urang diajar aksara sunda..

Hayu kabeh baraya..

Urang apalkeun aksarana..

Ka Ga Nga Ca Ja Nya Ta Da Na Pa Ba..

Ma Ya Ra La Wa Sa Ha Fa Qa Va Xa..

Za A I U É O E EU

A I U É O E EU..

Anu di luhur ngaranna..

Ngaranna pangluhu (i)

Anu di luhur ngaranna..

Ngaranna pamepet (e)

Anu di luhur ngaranna..

Ngaranna Paneuleung (eu)

Anu di luhur ngaranna..

Ngaranna panglayar (r)

Anu di luhur ngaranna pamepet (ng)

Anu di handap ngaranna panyuku (u)

Anu di handap panyiku (la)

Reujeung panyakra (ra)

Anu di gigir ngaranna panéléng (é)

Anu di gigir ngaranna panolong (o)

Anu di gigir pamingkal (ya)

Wangwisad (h)

Jeung pamaéh..

Tah sakitu sadayana..

Anu dingaranan aksara sunda..

Hayu urang apalkeun..

Ulah poho ogé pék amalkeun.

Saat ini, lagu tersebut hanya berupa lirik lagu dan sering dijadikan metode pembelajaran untuk membantu mengingat pelajaran aksara Sunda. “Untuk kedepannya, lagu Akasara Sunda ini ingin ditambahkan musik dengan berbagai versi, dibuatkan vidioanya, dan dihakikan.”

Rencana kedepan setelah lulus dari jurusan Sastra Sunda, Usi juga berharap bisa melanjutkan studi dan terus mendalami keilmuan di bidang filologi. Komunitas JAS yang didirikannya bisa terus berkembang, begitu juga dengan Kartu Aksara Sunda dan Lagu Aksara Sunda berharap bisa terus dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin mempelajari aksara Sunda. Kegiatannya saat ini, tidak pernah berhenti mensosialiasikan Aksara Sunda yang tentu saja menjadi kekayaan masyarakat Sunda agar terus hidup di masyarakat. Dalam komunitas aksara sunda ada hastag #kuaksarajadibaraya yang artinya dengan kita belajar aksara sunda kita bisa menjadi saudara.

“Jadikanlah aksara sunda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupmu, karena jika kita memang benar-benar serius mempelajari pun menjaganya, maka hasilnya akan terasa oleh diri kita sendiri.” Pungkas Usi yang juga aktif menjadi tim pengajar Metode Tilawati TQA (Tahfidz Quran Anak) di Masjid Al-Jabbar ITB Jatinangor ini.***

Mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dapat dikatakan berasal dari hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dari tahun ke tahun, perkembangan jumlah mahasiswa FIB terus mengalami pergerakan yang signifikan. Seleksi mahasiswa baru FIB dilakukan melalui dua sistem, yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dan Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP).