PUBLIKASI TOPONOMI BERBASIS DIGITAL

Kamis (12 Desember 2019), diadakan kegiatan Lokakarya Publikasi Toponomi Berbasis Digital di Aula Gedung D, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Lokakarya ini adalah bagian dari kerja sama Tim Peneliti Toponomi PSN Kemenristekdikti dan Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Unpad. Para pembicara yang menjadi narasumber di antaranya: Yoga Maulana Sidik (mahasiswa S-1 Program Studi Sastra Sunda FIB UNPAD), Solehudin Fuzi, S. Hum. (mahasiswa S-2 Ilmu Linguistik FIB UNPAD), Onin Najmudin, M.Hum. (mahasiswa S-3 Ilmu Linguistik FIB UNPAD), dan Suprianto (praktisi IT).

Ketua Tim Penelitian Toponomi, Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum., menjelaskan bahwa lokakarya ini adalah bagian dari riset toponomi yang dilakukan di Jawa Tengah yang selama ini menjadi fokus peneliatiannya. Adapun Tim Peneliti Toponomi adalah Prof. Cece Sobarna, Dr. Gugun Gunardi, dan Asri Soraya, M.Hum. “Riset saya terkait dengan toponimi Jawa Tengah. Kenapa ini dipilih? Karena di Jawa Tengah masih ada nama tempat yang mengandung  ci– yang merupakan penamaan tempat khas di daerah Jawa Barat (Sunda).”

Menurut Prof. Cece, jangka waktu penelitian toponomi telah selesai dilaksanakan selama tiga tahun. Hasilnya ada tiga kabupaten yang masih berbahasa Sunda dan banyak ditemukan penamaan tempat berbahasa Sunda, yaitu di Brebes, Cilacap, dan Banyumas. “Nah, jadi penelitian ini  sebetulnya masih dapat berlangsung sekalipun rentang waktu yang diberikan tiga tahun. Jadi, sekarang ini merupakan tahun terakhir dan penelitian ini termasuk penelitian terapan. Terapan ini tentu ada ilmu lain yang membantu mengeksplorasi terkait dengan hasil riset ini, terutama dari konsep digitalnya mengingat berbagai segi kehidupan dewasa ini sangat berhubungan erat dengan dunia digital, terutama pada kaum milenial,” ujar Guru Besar Ilmu Linguistik ini menjelaskan.

Lebih jauh Prof. Cece menjelaskan, ke depan riset-riset terapan akan banyak dipakai dalam berbagai penelitian, begitu juga dengan penelitian yang berbasis digital. “Untuk persiapan itu, sengaja saya mengundang para narasumber yang banyak bersentuhan dengan dunia digital dengan peserta mahasiswa S-1, karena ke depan tentu saja mereka-mereka inilah yang kan mengembangkan penelitian selanjutnya, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi dan digital.”

Pemateri pertama, Yoga Maulana Sidik menjelaskan tentang toponomi tempat-tempat yang ada di Rancaékék. Penelitian toponomi Rancaékék adalah penellitian skripsi Yoga yang saat ini sedang ia kerjakan. Menurut Yoga, penelitian ini sengaja diambil karena ingin mengkaji dan mengabadikan nama-nama tempat yang ada di daerahnya sendiri, yakni di Rancaékék.

“Rancaékék berasal dari dua kata yaitu ranca dan ékék. Ranca berarti “rawa” dan ékék berarti “burung ékék”. Nama Rancaékék diambil karena di daerah tersebut terdapat rawa yang luas dan terdapat banyak burung ekek di dalamnya. Apabila sekarang di Rancaekek sering banjir, tidak heran, karena namanya saja ranca atau rawa,” Yoga menjelaskan.

Pemateri kedua, Onin Najmudin menjelaskan tentang kiat-kiat dalam melakukan penelitian toponomi, menurutnya ada tiga kata kunci utama dalam penelitian toponomi, yang pertama menjadikan nama tempat sebagai identitas, yang kedua menjadikan nama tempat sebagai warisan budaya, dan yang ketiga menjadikan nama tempat sebagai brand atau produk.

“Di lapangan kita bisa menemukan fenomena apa saja yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan nama tempat, peristiwa apa yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan nama tempat, dan pengalaman apa yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan nama tempat. Dari ketiga hal itu, kita sudah bisa memulai melakukan penelitian terhadap toponomi satu daerah.”

Pemateri ketiga, Solehudin Fauzi memaparkan toponomi di media sosial. Munurut Aleh (panggilan akrabnya), zaman sekarang media sosial sudah menjadi kebutuhan. Segala informasi bisa didapatkan di media sosial sehingga hal itu dapat dimanfaatkan menjadi akses dalam penyebarluasan informasi mengenai toponimi. Kita harus peduli dengan nama tempat agar kita tidak kehilangan atau diakui oleh negara lain.

“Sekarang ini kita tahu bahwa banyak orang ber-selfie ria atau orang orang kadang umumnya suka memfoto tempat-tempat yang indah atau yang dia sukai? Kemudian di-upload ke Instagram. Melihat hal tersebut kita bisa menjadikannya sebagai pemancing untuk toponimi ini. Kenapa tidak temen-teman yang suka selfie kemudian background belakangnya pantai atau gunung sambil menceritakan asal usul gunung tersebut atau asal usul pantai atau asal usul kampung tersebut nah nanti di bawahnya memakai hashtag misal #toponomisekitarku #toponimigarut ini juga bisa menjadi sebagai fokus penelitian. Jadi, kita bisa menyebarkan informasi mengenai toponimi ini via hashtag,” jelas Aleh yang juga menjadi admin instagram toponomi di sekitarku ini.

Pemateri terakhir, Suprianto menjelaskan tentang digitalisasi toponomi yang sudah ia kerjakan di website toponomi.id. Menurut Suprianto, website toponomi.id adalah website biasa, tapi memiliki konten yang luar biasa karena menampilkan maps dan titik-titik penelitian toponomi hasil penelitian. Untuk kedepannya, fitur-fitur yang ada di toponomi.id ini bisa dikembangkan dengan lebih interaktif dengan bantuan para peneliti-peneliti toponomi.

“Jadi, nanti mungkin kita bisa ngobrol lebih lanjut apakah brand toponimi.id ini boleh digunakan untuk misalnya ‘aliansi para peneliti toponimi di indonesia’? Menurut saya teknologinya bisa, tapi nanti tinggal bagaimana prosesnya dan juga setuju atau tidaknya,” kata Suprianto menutup kegiatan lokakarya.*** (Irma Nurhidayah/Indriani Asharisya)