Pekan Bahasa dan Kebudayaan Jepang ke 45 (Bandung Nihongo Nihon Bunkasai 45)


Dekan FIB Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa, Ph.D. membuka secara resmi penyelenggaraan Pekan Bahasa dan Kebudayaan Jepang ke 45

Jumat, 28 Juni 2019. Dekan FIB Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa, Ph.D. membuka secara resmi penyelenggaraan Pekan Bahasa dan Kebudayaan Jepang ke 45 (Bandung Nihongo Nihon Bunkasai 45) yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Jepang FIB Unpad, acara tahunan kali ini selain diisi dengan berbagai lomba seperti Speech, Kanji, Kana, Sakubun, Choukai, Karaoke, juga dimeriahkan oleh penampilan kesenian mahasiswa sastra Jepang Unpad, dan juga dari beberapa lembaga; UPI, Unitama, STIBA Invada, Unikom, UKM, STBA Yappari, Pasim. Selain itu, acara dimeriahkan pula dengan diadakannya Eksibisi dari beberapa club sastra Jepang Unpad seperti Origami, Manga, Drama Henshin, Maid cafe, Kendo, Cha no Yu (Upacara minum teh ala Jepang), dan Rakugo.
Pekan Bahasa dan Kebudayaan Jepang ke 45 terselenggara atas kerja sama Unpad, UPI, STBA Yapari, UK Maranatha, Unikom, Unitama, Unas Pasim, STIBA Invada, Kyoto Minsai, The Japan Foundation, Persada Jabar, JLMC, dan Northern Light Education.

Pertunjukan Rakugo pada Bunkasai ke 45 ini, merupakan Pertunjukan rakugo pertama kali di Indonesia yang dibawakan oleh mahasiswa Indonesia.


Dani Nugraha angkatan 2017. (Ketua Club Rakugo Sastra Jepang Unpad)

Club Rakugo Sastra Jepang Unpad sendiri baru didirikan pada awal tahun 2019, dengan bimbingan dosen prodi sastra Jepang, Pika Yestia Ginanjar.

“Rakugo” adalah seni bercerita dari Jepang. Cerita klasik. Rakugo bermuatan humoris, mengarukan, atau mengejutkan.

Jugemu

Awal Jugemu diawali dengan seorang ayah yang baru saja anaknya lahir. Ia ingin memberi anak itu, namun mengingat bahwa nama adalah doa, ia pergi ke kuil untuk berkonsultasi pada biksu, Si Ayah ingin anaknya memiliki nama yang mengandung doa agar anaknya bisa berumur panjang. Sang biksu pun meberikan beberapa pilihan nama. Ketika si Ayah selesai mendapatkan daftar namanya, ia kebingungan. Menurutnya, semua pilihannya bagus. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan semuannya. Alhasil, anaknya jadi punya nama yang panjang.

Orang-orang di sekitarnya jadi ikut ribet ketika harus mengucapkan nama lengkapnya yang panjang itu.

Suatu hari, Jugemu berkelahi, memukul kepala seorang anak lain sampai kepalanya benjol. Anak itupun mengadu ke orang tua Jugemu, namun ia dianggap berbohong oleh orang tua Jugemu karena kepalanya tidak ada yang benjol… karena mereka semua terlalu makan waktu menyebut nama Jugemu, benjolnya keburu mengempes…